Team Teaching.. :)

Bismillah… November 2017

Hari ini merupakan hari yang luar biasa buatku. Hmmm kenapa? Karena apa yang terjadi hari ini kupikir adalah hasil dari komunikasi yang terus-menerus kami perbaiki. Komunikasi bukan saja berupa Bahasa yang dikeluarkan melalui suara, tetapi juga bersifat non verbal melalui mimik wajah, gerakan tubuh, sentuhan sehingga dari hasil komunikasi tersebut menghasilkan sesuatu, seperti saling pengertian, memahami satu dengan yang lain, dan sebagainya.

Suamiku, ayah bagi anak-anakku (ups, anak kami maksudnya, hehhe) hari ini memberikanku kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang kuperoleh di bangku perkuliahan maupun di bangku rumah (di rumah mah ga ada bangku, kecuali bangkunya si Kemi,wkwkwk). Beliau yang berprofesi sebagai pendidik (pendidik ya bukan sekedar pengajar) di salah satu perguruan tinggi di kota Serang memberikanku kesempatan untuk memakai kelasnya agar aku bisa menyalurkan minat dan bakatku serta ilmuku buat orang lain. Tetapi bukan hanya diriku saja yang ‘dikontrak’ hari ini , bahkan suamiku juga ‘mengontrak’ timku untuk membantuku di kelas (siapa lagi coba timku kalau bukan Kemi dan Alfath, wkwkwkw).

MasyaAllah… Aku yang sedari kecil senang yang namanya berbagi ilmu di depan kelas sangat berbahagia ketika suamiku memberikan kesempatan tersebut. Padahal aku tidak pernah memintanya. Tau kenapa? Karena komunikasi. Walau secara Bahasa tidak aku tuturkan bahwa aku ingin sekali berbagi ilmu dengan khalayak ramai di ruang yang namanya kelas, tapi ternyata beliau memahamiku.

Bagaimana beliau paham? Karena beliau ‘mengamati’. Mengamati ketika sesi mengobrol, mengamati ketika aku beraktivitas sehari-hari bersama anak-anak, dan lain-lain. Penting sekali bagi pasangan untuk memahami pasangannya agar terciipta suasana yang kondusif di dalam rumah tangga. Walau sebenarnya bagi pasangan tidak ada salahnya untuk berbicara langsung apa yang diinginkan, tetapi sebagian besar wanita terkadang susah untuk mengatakan apa yang diinginkan. Untuk itulah sebagai pengganti Bahasa verbal digunakan Bahasa non verbal dan pasangan seyogianya bisa ‘mengartikan’ Bahasa non verbal pasangannya. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada salahnya untuk belajar.

Kembali ke kisahku pagi ini, hehehe. Mungkin sebagian akan berkata bahkan sudah ada yang berkata langsung kepadaku “mengapa tidak bekerja (mengajar)?”. Aku selalu senang saja jika ada orang yang bertanya seperti itu. Karena aku dengan jawaban yang hampir sama (entahlah jika beberapa tahun lagi ditanya seperti itu apakah jawabanku tetap sama, wkwkwk) akan menjawab belum saatnya. Kenapa? Karena yang membutuhkanku saat ini adalah anak-anak dan suamiku dibandingkan orang yang ada di luar sana. Ada kalanya bahkan ada yang menyayangkan sekolah tinggi yang kutempuh tetapi tidak digunakan untuk ditransfer ke orang lain. Hmmm ini juga salah satu pernyataan yang aku senang ketika ada orang yang melayangkannya kepadaku. Dengan senang hati akan kujawab bahwa tujuanku menempuh pendidikan yang utama adalah agar aku bisa mendampingi tumbuh kembang anak-anakku, bukan untuk mendapat selembar ijazah yang kemudian kugunakan wara wiri mencari penghasilan. Karena apa? Kalau kata suamiku itu bukan kewajibanku tetapi kewajibannya. Seberat apapun masalah yang berhubungan dengan kata ‘ekonomi’ itu adalah tanggungjawab seorang suami. Ketika iseng aku berkata bahwa aku hanya ingin membantunya, beliau malah menjawab umi memang harus membantu tetapi bukan dengan cara ikut-ikutan kerja di luar tetapi membantu dengan shalat dhuha, doa, dan mendidik anak-anak. MasyaAllah.. aku benar-benar terharu dan bangga dengan pemimpinku ini (untuk yang satu ini tiap orang bisa saja berbeda penilaian, hehehe).

Alhamdulillah,, walaupun aku tidak bekerja di ranah publik tetapi aku masih bisa berbagi ilmu yang aku miliki, bisa dengan berdiskusi bersama teman, melalui tulisan, dan bahkan seperti hari ini aku berbagi ilmu dengan mahasiswa suamiku. Mungkin inilah salah satu keuntungan jika memiliki pasangan yang jurusannya sama, jadi bisa saling melengkapi. Wkwkwk

Hari ini pertama kali aku berbagi ilmu di depan kelas terutama di depan mahasiswa karena sudah bertahun-tahun aku tidak berdiri di depan kelas besar untuk berbagi ilmu. Setiap harinya hingga saat ini aku terbiasa berbagi ilmu di depan kelas kecil di mana mahasiswanya hanya satu orang yaitu Kemi. Wkwkwk .

Rasanya luar biasa deg-degan, grogi, dan excited!! Wooow Alfath yang ada di gendonganku merupakan jurus ampuh untuk menghilangkan ke grogianku pagi ini. Setiap aku merasa jantungku berdetak hebat, seketika kupeluk saja Alfath yang memang ada di gendonganku. Ternyata mengajar sambil menggendong bayi itu luar biasa.. hormone-hormon seperti endorphin, dopamine, rasanya berkeluaran tiada henti sehingga proses pembelajaran terasa sangat menyenangkan bagiku (entahlah kalo menurut mahasiswa,xixixi).

Alhamdulillah luar biasa, hari ini ini aku bisa menyalurkan minat bakatku, bisa berbagi ilmu dengan orang lain dan yang terpenting aku tetap bersama anak-anakku. Justru itu poinnya, with my childs… J

Semoga aku senantiasa bisa mendampingi tumbuh kembang kalian nak hingga melewati masa-masa ‘kritis’ kalian karena masa-masa ini tak akan pernah berulang dan tak akan pernah sama… J

Iklan

Perlakuan Sebelum Mengenalkan Mesjid :)

Bismillah… November 2017

Salah satu perintah yang berbeda bagi kaum laki-laki adalah keharusan untuk sholat berjamaah di masjid. Anak-anak kami semuanya adalah laki-laki dan itu berarti kami mempunyai kewajiban untuk membimbing mereka cinta dengan masjid, salah satunya untuk shalat berjamaah. Tetapi, tidak seperti kebanyakan orang tua yang lain, kami tidak dengan serta merta membawa anak-anak untuk ikut ayahnya ke masjid ketika waktu shalat tiba. Bagi kami, walaupun anak harus dekat dengan masjid teapi adab tetap diutamakan.

Untuk sampai ke tahap membiasakan anak dibawa ke masjid, kami memulai langkah awal dengan sounding dan membiasakan anak untuk ikut shalat berjamaah di rumah. Bisa ikut uminya ketika shalat wajib atau ikut ayahnya ketika shalat sunah di rumah. Dengan demikian harapan kami anak setidaknya paham bahwa ada waktu-waktu di mana mereka harus tertib, tidak mengganggu kegiatan ibadah (shalat).

Setelah tahap ini dilalui oleh Kemi, tahap selanjutnya adalah kami mulai membawanya untuk ikut shalat berjamaah di masjid. Salah satu tanda bahwa Kemi sudah mulai bisa dibawa ke masjid adalah ketika dia meminta untuk ikut ayahnya shalat di masjid. Ketika itu kami juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar kegiatan apa yang dilakukan di masjid waktu itu, dan apa aja yang harus dilakukan Kemi. Ketika jawabannya sudah pas menurut kami berarti itu tanda dia sudah siap untuk dibawa.

Pada awalnya kami menyepakati bahwa Kemimulai dibawa ke masjid ketika jam-jam shalat yang pendek seperti subuh dan maghrib. Karena rakaat yang pendek tidak akan membuat jenuh atau bosan anak usia seperti Kemi. Alhamdulillah dengan kesepakatan yang telah disepakati antara dua pihak (orang tua dan Kemi) kegiatan membawa Kemi shalat berjamaah di rakaat-rakaat pendek berjalan lancar.

Hari ini, ketika ayah hendak berangkat ke masjid menunaikan shalat zuhur, tiba-tiba Kemi merengek ingin ikut. Hmmm kami piker tidak ada salahnya mulai membawanya di rakaat yang agak panjang karena usianya juga sudah 2,5 tahun dan sudah dilatih untuk rakaat pendek. Dari hasil evaluasi juga Kemi menunjukkan ketika di masjid dia sudah tahu adabnya. Akhirnya dengan mengulang kesepakatan, Kemipun ikut ayahnya.

Aku yang menunggu di rumah agak deg-deg an karena memang ini pertama kalinya Kemi ikut ayahnya ke masjid dengan rakaat yang panjang. Setelah sampai rumah, Kemi membawakanku ‘oleh-oleh’ berupa ilalang yang ada d halaman masjid ^_^” kemudian dia bercerita ngapain aja di masjid. Walaupun Kemi tidak beres mengikuti shalat zuhurnya, dia tetap menjaga adabnya di masjid dengan duduk saja di samping ayahnya. Padahal di saat itu ada beberapa anak seusianya yang juga sedang lari-larian.

Mungkin ada sebagian orang tua yang tidak mempermasalahkan bagaimana tingkah polah anak-anak di masjid. Kamipun sebenarnya juga tidak. Tetapi kembali lagi bahwa di masjid banyak ragam dan pola piker sehingga tingkah pola anak juga dapat mengganggu orang lain yang memang butuh kekhusyukan di masjid. Kami hanya mengantisipasi, karena bisa jadi ketika orang lain terganggu dengan aktivitas anak, maka anak akan dimarah, di nasehati, dll. Sehingga bisa jadi di kemudian hari anak akan merasa tidak nyaman untuk kembali lagi ke masjid… J

IMG_20160604_154427

Jujur… :)

Bismillah… November 2017

Malam ini ketika kami sedang family time tiba-tiba Alfath menangis dengan kencang. Ternyata penyebabnya adalah ‘keisengan’ abangnya Kemi. Kami tidak serta merta langsung menjudge Kemi, tetapi kami mencoba untuk berkomunikasi terlebih dahulu, agar Kemi sendiri yang mengeluarkan dan menjelaskan apa yang telah dilakukannya terhadap Alfath.

Pada awalnya ayahnya yang bertanya tetapi Kemi tidak menjawab permasalahan yang ditanyakan, malah ngomong ngalur ngidul mengalihkan topik pembicaraan. Kemudian aku mencoba mendekati Kemi, memeluknya dan mengusap-ngusap kepalanya. Beberapa saat kemudian baru aku memulai obrolan mengenai peristiwa yang terjadi.

Pada awalnya Kemi diam saja tetapi kemudian mulai membuka mulutnya, dan dia mengakui apa yang dilakukannya. “Kemi gigit Alfathnya” begitu ucapnya sambil memelukku. Setelah dia mengucapkan pengakuan itu, dia langsung menangis. Kemungkinan itu adalah refleksi dari rasa bersalah yang muncul atas apa yang dilakukannya kepada adiknya atau mungkin saja rasa takut dimarahi oleh kami orang tuanya.

Mendengar pengakuannya itu, memang awalnya aku akan marah karena ini bukan kali pertama Kemi menggigit adiknya sampai berbekas, tetapi sebelum aku membuka mulut ayah mengingatkanku bahwa Kemi sudah jujur. Huff aku pun menarik nafas panjang dan menghembuskan dan tersenyum kepada sulungku. Aku kembali  memeluknya dan mencoba mengajak berkomunikasi dua arah tentang perilaku yang dilakukannya.

Arah topik kami adalah bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak baik dan menyakiti bahkan orang-orang tidak akan suka sebagaimana Kemi tidak suka jika digigit.

Alhamdulillah… setelah ngobrol dua arah dengan Kemi, dia menghampiri adiknya yang sedang digendong ayah dan memegang tangan adiknya seraya dicium dan mengucapkan ‘maaf ya dek maaf’.

Hmmm semoga ini adalah kali terakhir Kemi menggigit adiknya -_-‘

Terkadang rasa takut bisa membuat seorang anak untuk tidak mengutarakan apa yang sedang dialaminya, bahkan cenderung ditutup-tutupi. Kita sebagai orang tua hendaknya berusaha untuk mengambil sikap sebijak mungkin. Tidak perlu kita langsung ke pokok permasalahan yang ingin kita bahas. Kita bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan komunikasi non verbal terlebih dahulu agar anak merasa nyaman dana man. Ketika anak merasa aman dan nyaman maka dengan sendirinya anak akan terbuka dengan kita J

Gara-gara Buku… :)

Bismillah… November 2017

Hari ini ayah mengajak kami pergi keluar untuk belanja keperluan ayah, di mana sebelumnya kami sounding Kemi bahwa ga ada jajan di saat berada di toko. Kami pun berkeliling mencari barang yang dibutuhkan oleh ayah. Ketika kami sedang berkeliling tiba-tiba kami melihat ada pojokan yang sedang ‘bazar’ buku. Wah tumben sekali karena selama di kota ini bahkan ketika kami dengan sengaja mencari toko buku ternyata toko buku yang sedang dicari sudah tutup karena pailit.

Hmmm kami pun sepakat untuk membawa Kemi ke pojokan itu dan mempersilakannya untuk memilih buku dan akan di seleksi oleh umi ayah atas buku yang dipilihnya. Kemi pun senang karena memang kami pernah berjanji untuk mengajaknya ke toko buku tetapi ternyata di kota ini susah sekali menemukan toko buku yang menyediakan buku anak.

Hampir sejam Kemi bernegosiasi dengan ayah untuk memilih buku yang diinginkan -_-‘

Pada awalnya Kemi ingin salah satu buku yang merupakan buku stiker tetapi konten stikernya kami rasa kurang baik buat Kemi makanya kami tidak meng acc. Tetapi Kemi kekeh pengen buku itu. Ayah mencarikan buku alternative seperti buku tentang bumi, hiu, dan dinosaurus. Kemi disuruh untuk memilih apa yang diinginkan dari ketiga buku itu.

Agak alot negosiasi kali ini , karena kalo sudah menyangkut buku Kemi suka kekeh atas pilihannya. Akhirnya tidak ada jalan lain, ayah mengeluarkan jurus ceritanya. Ayah bercerita mengenai hiu, dinosaurus dan bumi sambil memperlihatkan isi dari buku-buku yang ditawarkan…

Huff, perundingan pun berakhir dengan hasil abang Kemi memilih buku tentang dinosaurus. Sepanjang perjalanan sampai ke kasir buku yang dipilih ga dilepas-lepas dari pelukannya bang Kemi. Bahkan sampai di meja kasir kami harus ngebujuknya kembali untuk membayarnya terlebih dahulu baru bisa dibawa pulang… J

Bola-bola Coklat Kemi… :)

Bismillah… November 2017

Pagi ini Kemi tiba-tiba menghampiriku seraya menunjukkan buku yang sedang ‘dibacanya’ “Umi, kita bikin kue ini yuks’. Kulihat halaman buku yang diperlihatkan Kemi, oh ternyata kue bola-bola coklat. Kuingat-ingat bahan yang ada di dapur dan aha ternyata bisa untuk bikin kue yang direquest oleh Kemi, aku pun mengiyakan permintaan sulungku itu dengan syarat bikinnya barengan dan dibikin setelah Kemi tidur siang.

Kemi sangat antusias dengan jawaban yang kuberikan dan diapun menguatkan kembali apa yang sudah aku janjikan dengan berkata ‘janji ya mi janji’. Wkwkwkwk

Setelah tidur siang Kemi menagih janjinya kepadaku untuk bikin kue bola coklat seperti yang ada di dalam bukunya, dan aku sebelum Kemi bangun memang sudah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Kamipun menuju dapur dan mulai meramu dan meracik bola-bola coklat. Kemi sangat antusias dan sebelumnya berjanji akan mengikuti instruksi yang kuberikan, dan ternyata dia benar-benar bertindak sesuai dengan arahanku. Padahal sebelumnya aku sudah rada khawatir akan berantakan khas anak-anak ketika mereka belajar di dapur, heheheh ^_^”

Setelah bola-bola coklat jadi, sebelum dimakan aku memasukkannya ke freezer dulu agar teksturnya keras, tetapi Kemi sudah tidak sabar untuk memakannya. Aku kembali bernegosiasi dengan Kemi perihal waktu makannya. Akhirnya terjadi kesepakatan Kemi akan memakannya setelah dia mandi dan setelah makan kue Kemi akan langsung gosok gigi -_-“

Setelah mandi Kemi langsung berlari ke dapur dan minta dibukain kulkasnya untuk mengambil kue yang telah dibuatnya. Ketika dia sedang makan kuenya dia bilang bahwa kuenya syedapppp ya mi, Kemi ya mi yang buatnya. Wkwkwk

Alhamdulillah hari ini Kemi sudah belajar membuat kue sesuai dengan instrukssi dan kesepakatan yang telah dibuat. Anak senang, Umi pun happy… J

La Taghdab Walakal Jannah… :)

Bismillah … November 2017

Memasuki hari kedua untukku flu dan batuk ini bertambah-tambah, bahkan mataku mulai sering mengeluarkan air mata saking gatalnya akibat hidung yang meler ga karuan. Kondisi seperti ini membuat emosiku semakin tidak stabil. Bahkan seharian ini seringkali emosiku meningkat yang ditandai dengan suara yang terdengar sering bernada tinggi, cemberut ga karuan, dan marah-marah ga jelas ke seluruh isi rumah, tak terkecuali si sulungku Kemi yang kecipratan semprotanku, astaghfirullah…. -_-“

Malampun menjelang, anak-anak sudah tertidur lelap, aku dan suamipun mulai mengevaluasi kegiatan hari ini. Hmmm ternyata banyak sekali raport merahku atas apa yang kulakukan hari ini terutama perlakuanku kepada sulungku, astaghfirullah… menetes air mata ini mengingat kembali apa saja yang kulakukan hari ini kepadanya sembari kulihat lagi wajah polosnya ketika tidur, masyaAllah… dosa sekali umimu ini nak, batinku…

Akhirnya kami sepakat untuk mengulang lagi komunikasiku yang tersobek hari ini dengan menuliskannya di papan tulis kecil kami yang terpampang di tengah ruangan. Di situ tertulis untukku bahwa aku tidak boleh marah, dan hari besok kami beri nama challenge: rabu tanpa teriakan ^_^”

Pagi pun tiba dan aku sudah berazzam bahwa walau kondisiku sedang tidak fit tetapi aku harus bisa professional menghadapi semua kejadian terutama dalam bersikap kepada anak-anak. Seperti biasa sulungku memulai bermain dengan buku-bukunya di pagi hari yang berlanjut dengan ajakannya untuk ‘sekolah’. Hmm awalnya aku ingin menolak ajakannya karena kondisiku yang masih belum fit. Tetapi kemudian aku teringat kejadian tempo hari dan kupandangi papan tulis kami ups semangatku tumbuh kembali dan aku mengiyakan Kemi untuk bermain sekolah-sekolahan. Aku pun memulai sekolah Kemi dengan semangat dan senyuman tiada henti walau sering diselingi dengan batuk tiada henti, hihihi

Alhamdulillah hari ini sangat luar biasa, walau kondisiku tidak fit, aku tetap bisa bersikap baik terutama kepada anak-anak. Tidak ada teriakan nada tinggi, marah-marah apalagi sampai cuekin Kemi… Alhamdulillah hari ini aku merasa Kemi menjadi lebih ‘mudah’ untuk diarahkan. Ketika aku meminta dia melakukan sesuatu Kemi dengan bersegera langsung mengabulkan permintaanku.. Hmmm Alhamdulillah… anak yang fitrahnya suci memang akan mudah untuk diarahkan dengan suara yang tulus, mimik wajah bersahabat, dan semangat tiada padam.. semoga umi senantiasa bisa menjaga sikap umi dalam membersmai kalian ya… terima kasih juga buat ayah yang senantiasa mengingatkan dan mengarahkan umi untuk bisa menjadi umi yang lebih baik dari hari ke hari… Kita adalah adalah tim, maka memang sepatutnya sesame anggota tim saling mengingatkan dan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama yang telah disepakati… Kita adalah AR Team… J

Sakit Membawa Nikmat… :)

Bismillah… November 2017

Setiap peristiwa terkandung hikmah apabila kita bisa melihat ‘pesan’ yang ingin disampaikan Sang Pencipta melalui setiap peristiwa yang kita lalui. Tidak ada yang tidak baik, semua yang kita alami adalah baik apabila kita bisa memetik himahnya. Salah satunya adalah sakit. Jika kita ikhlas menerima sakit yang ‘mampir’ kepada kita dan senantiasa bersabar, maka sakit bisa menjadi penggugur dosa-dosa kita.

Qadaarullah, saat ini kami sekeluarga sedang diberi nikmat oleh Allah berupa sakit. Aku, suami dan anak sulung kami Kemi sedang mengalami flu berat beserta batuk sehingga segala aktivitas seperti tiba-tiba terhenti tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Alhamdulillah hingga saat ini anak kami yang bayi Alfath belum tertular virus dari kami ^_^”

Saat-saat seperti ini komunikasi juga tidak berjalan seperti biasanya, bahkan untuk berbicara normal saja rasanya sulit apalagi buatku yang masih sulit mengontrol emosi, terkadang suara meninggi dan tidak sabaran yang keluar gara-gara apa yang kuucapkan tidak langsung direspon oleh lawan bicara. Akhirnya aku lebih memilih diam.

Alhamdulillah, Allah memberikan suami yang sangat paham dan pengertian dengan kondisiku, sehingga sebelum emosiku meluap-luap dan sebelum aku meminta, dengan segera suami mengerjakan pekerjaan rumah apapun yang beliau bisa. Seperti subuh ini, ketika aku bangun dan hendak mengerjakan rutinitas harian subuhku, aku terkejut karena dapur sudah rapi, sampah-sampah sudah tidak ada, bahkan ruang tengah juga sudah rapi.

Aku langsung menghampiri suami yang sedang di ruang kerjanya dan bilang terima kasih karena telah menyelesaikan tugas yang seharusnya adalah tugasku. Alhamdulillah suamiku bilang tidak apa-apa umi, apa yang bisa ayah kerjakan akan ayah kerjakan, lagian umi kan juga capek mengasuh anak-anak, sehingga butuh istirahat agar bisa kembali fit. Alhamdulillah komunikasi hingga saat ini ternyata tanpa kusadari berjalan tanpa hambatan yang berarti. Antara satu dengan yang lain bisa memahami kondisi masing-masing tanpa harus menjelaskan panjang lebar apa yang diinginkan. Semoga kedepannya komunikasi kami bisa berjalan lebih baik lagi… terutama kondisi komunikasi kami dengan anak-anak agar ke depannya hubungan kami dengan anak-anak tetap terjalin komunikasi yang produktif… ^_^

 

Kejutan… :)

Bismillah… November 2017

Sore ini ayah hendak ke rumah pak RT untuk meminta surat domisili yang akan digunakan sebagai salah satu syarat membuat surat keterangan baik di kepolisian. Seperti biasa, sulung kami langsung pasang aksi untuk ikut serta dengan ayahnya. Tas punggungnya langsung diambil dan dengan serta merta botol minumnya dimasukin ke dalam tas tersebut.

Kemi ikut ya, bujuknya pada kami. Sebelum kami mengiyakan, terlebih dahulu kami mengajukan beberapa syarat, antara lain tidak boleh minta digendong selama di perjalanan (karena cukup dekat jadinya berjalan kaki), tidak merengek minta pulang ketika urusan ayah belum selesai, dan bersikap sopan kepada pemilik rumah (di antaranya dengan mengucapkan salam dan salim kepada pemilik).

Syarat-syarat yang kami ajukan itu disanggupi oleh Kemi sehingga kami mengijinkan Kemi untuk ikut serta ‘mendampingi’ ayahnya. Aku dan Alfath menunggu di rumah dengan setia (cieee setia). Beberapa saat kemudian ayah dan Kemi datang dan langsung menghampiriku. Kemudian Kemi menyerahkan bunga kecil yang dipetiknya di luar kepadaku sambil berucap ‘ini oleh-oleh buat umi y’…. wooow its amazing moment for me 😀 😀 😀

Terkadang Bahasa verbal sukar untuk dimengerti daripada Bahasa non verbal. Contohnya Kemi, terkadang dia sulit untuk bilang sayang, cinta, dan sejenisnyakepada kami karena mungkin dia belum terlalu paham makna kata-kata tersebut. Tetapi dia sangat paham makna kata-kata tersebut melalui Bahasa non verbal, salah satu contohnya memberikan ‘hadiah’ kepadaku ketika puang dari main di luar, bisa juga dengan pelukan dan ciuman. Itulah dunia anak, terkadang banyak makna yang terukir melalui Bahasa non verbal tanpa bisa diungkapkan melalui Bahasa verbal yang orang dewasapun bisa ‘njelimet’ dengan kata-kata…

Tak perlu banyak kata tapi cukup perbanyak teladan dengan Bahasa tubuh karena seyogianya banyak kata terutama kata-kata berupa omelan (walau maksudnya nasihat), sedikit sekali akan membekas di hati anak-anak dan justru tidak akan efektif…

Senangnya Belanja Bareng… :)

Bismillah… November 2017

Awal bulan merupakan awal dengan seabrek agenda tetap bulanan,salah satunya belanja bulanan. Nah, hari ini adalah jadwal keluarga kecil kami untuk belanja bulanan. Belanja bulanan merupakan salah satu momen untuk kami mengenalkan ke Kemi mengenai kecerdasan finansial, bagaimana kita harus menukar sesuatu untuk mendapatkan barang, yaitu dengan uang. Selain itu kegiatan ini juga untuk mengenalkan Kemi bahwa apa yang akan dibeli adalah sesuai dengan apa yang direncanakan saja, tidak ada jajan yang lain terkecuali ada yang terlupa dan ada ijin ayah umi (biar sekalian belajar sabar buat Kemi, hehehe).

Kami sudah mensounding Kemi jauh hari bahwa hari ini kita akan pergi berbelanja yang banyak (belanja bulanan) dan buat abang adalah susu. Kami sudah mensounding bahwa Kemi tidak boleh jajan selama kita sedang mencari-cari barang yang akan dibeli. Dan selama sounding Kemi selalu menjawab iya, susu aja.

Selama di swalayan, sekitar 1 jam lebih kami berkeliling mencari-cari barang yang sesuai dengan list belanja, Kemi duduk di dalam troli dan terkadang bertanya-tanya ketika ada barang yang masuk ke troli. Alhamdulillah selama belanja Kemi tidak minta ini itu bahkan ketika melewati rak-rak yang berisi mainan. Karena itu ketika list belanja selesai aku berikan reward kepadanya untuk memilih satu barang yang Kemi mau. Kami mencoba memberikan kepercayaan penuh kepadanya untuk memilih, kami ingin melihat hasil dari sounding yang selama ini kami berikan kepadanya bahwa ada barang-barang yang tidak boleh dia beli ambil ada yang boleh seperti makanan. Dan makanan juga kami menekankan bahwa yang boleh dia beli adalah makanan yang sehat salah satunya susu.

Kemi terlihat sangat senang dan pergi ke rak minuman. Kemudian dia menunjuk sekotak yogurt dan bertanya kepada ayahnya, ‘kalauini boleh ?” Dan kami mengiyakan. Dia mengambilnya dengan wajah yang sumringah sambil bilang terima kasih.. Alhamdulillah… kami juga senang atas pilihan yang dibuat oleh sulung kami… J

Negosiasi Antara Umi dan Abang… :)

Bismillah…. November 2017

Belajar merupakan kewajiban setiap muslim, baik itu anak-anak maupun dewasa, baik itu laki-laki maupun perempuan, baik itu wanita yang bekerja di ranah publik maupun yang bekerja di ranah domestik. Begitu juga diriku yang sekarang berstatus menjadi full time mother in the home (karena memang sedang cuti kuliah, hehehe) berkewajiban mencari ilmu terutama ilmu mengenai kerumahtanggan dan parenting, heheh

Saat ini salah satu sarana pembelajaranku adalah berada di komunitas ibu-ibu pembelajar yang dikenal dengan Institut Ibu Profesional (IIP) domisili Banten di kelas bunda sayang. Di kelas ini aku menjalani kewajibanku untuk mencari ilmu, salah satunya dengan menjalankan game yang merupakan tugas bagi para anggota pembelajar. Tugas di sini sangat unik dibanding dengan institut yang pernah ada karena tugas-tugas yang diberikan sangat berkaitan erat sekali dengan rutinitas dan aktivitas kita sebagai ibu, istri, anak, maupun anggota masyarakat.

Sudah beberapa hari aku mengetik tugas kemudian menyetorkannya tanpa halangan yang berarti terutama dari anak-anak, tetapi hari ini ketika seperti biasa aku hendak membuka laptop, putra sulungku Kemi melarang dan langsung menutup laptopku. Dia hanya bilang “ga boleh mi, tutup. Ga boleh main laptop, main sama abang Kemi aja”. Oooh ternyata sulungku sedang minta perhatian dan aku juga lupa di pagi ini untuk meminta ijinnya mengerjakan tugasku dulu baru bermain bersamanya.

Akhirnya, aku meminta ijin untuk mengerjakan tugasku terlebih dahulu baru setelah itu akan bermain bersamanya, tetapi ternyata dia tidak mau, dia ingin aku menemaninya bermain dengan bukunya. Akhirnya aku bernegosiasi, aku akan ikut bermain buku bersamanya sampai satu halaman selesai setelah itu aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu, baru kemudian lanjut kembali membersamainya. Aku bernegosiasi sambil menggunakan intonasi selembut yang aku bisa, dengan mimik wajah yang bersahabat (senyum 5 senti, wkwkw) dan sambil memeluknya. Alhamdulilah ternyata negosiasi berhasil, Kemi meng acc dan menungguku dengan sabar menyelesaikan tugas.. case close kata detective Conan mah. Wkwkwk

Ada kalanya apa yang ingin kita sampaikan kepada anak dengan cara yang berbeda akan menghasilkan yang berbeda pula. Anak memang bukan orang dewasa yang terperangkap di tubuh kecilnya, tetapi mereka tetaplah anak-anak. Walaupun begitu, kita bisa tetap bernegosiasi dengan catatan komunikasi yang kita bangun dengan mereka baik. Komunikasi yang kita lakukan bukan sebatas intonasi suara saja, tetapi juga lebih kepada komunikasi non verbal karena seyogianya anak-anak masih meresakan efek luar biasa terhadap sentuhan yang mereka terima dan mereka lihat J