Kesabaran, Kasih Sayang dan Empati…

Bismillah… Agustus 2017

Sudah hampir 30 menit bang Kemi membaringkan kepalanya di atas kakiku yang sedang menyusui adiknya. Awalnya Kemi hanya menyandarkan kepalanya di kakiku tanpa berkata apa-apa. Aku tau, itu tanda dia mau tidur dan ingin aku di dekatnya. Terus terang aku merasa bersalah kepada anak sulungku ini karena memang seharusnya jam segini jatahku untuk memeluk dan bercerita dengannya menjelang tidur, tetapi mau bagaimana lagi di saat ayahnya sedang tidak ada bersama kami dan adiknya jam segini masih bangun karena sore setelah mandi langsung tidur -_-“

Setelah beberapa saat, keringatnya mulai bermunculan yang menandakan bahwa itu tandanya sudah masuk waktunya dia tidur, Kemi berujar “Mi, peluk..peluk miii mau bobo”. Huff, dugaanku benar sekarang benar-benar waktunya abang tidur karena keringat di kepalanya sudah pada bermunculan. Aku hanya berucap sambil mengelus kepalanya “sabar ya bang, umi ijin sebentar lagi ya nidurin dedek dulu ya bang, boleh?”. Kemi diam sejenak dan bilang iya kemudian kembali ke kasurnya sambil guling-guling. Sambil menunggu adiknya terlelap aku berusaha menghibur Kemi dengan mengajaknya bernyanyi dan dia terlihat senang dan mengikuti lirik yang kunyanyikan.

Setelah adiknya terlelap aku pun menghampiri Kemi dan berbaring di dekatnya dengan serta merta dia langsung memeluk dan mengelus-ngelus tangan juga pipiku. Sambil berpelukan kami sambil bercerita ngalur ngidul khas obrolan tidur si abang setiap malam. Ternyata si adek belum nyenyak tidurnya karena beberapa saat kemudian adiknya kembali menangis tanda minta dikelonin juga ,huff -_-“

Aku berusaha tidak serta merta bangun untuk menghampiri si kecil karena aku ingin menjaga perasaan Kemi (karena malam ini sudah dua kali ketika sedang waktunya bedtime stories dengan si abng, adiknya ‘memanggil’ dan aku langsung menghampiri). Berkali-kali adiknya menangis dan aku tetap memeluk Kemi sambil bercerita, tiba-tiba Kemi memandangku dan bilang “Mi, dedenya nangis tu Mi”. Aku berkata “iya, terus gimana?”. Kemipun menjawab “gendong dong Mi, dedenya mau nenen”. Aku kembali berujar “oh gitu, ga apa-apakah kalo umi nidurin dede dulu?”. Dan Kemipun menjawab tidak apa-apa, dia akan menunggu. Alhamdulillah…aku pun berterima kasih kepada anak sulungku ini.

Ketika sedang menyusui adiknya tetiba terdengar suara knalpot motor yang lewat sangat nyaring dan mengganggu pendengaran. Kemi kemudian berujar “ih berisik ya Mi, dedenya jadi nangis dan bangun deh”. Akupun menjawab “iya ya bang berisik dan itu mengganggu orang-orang. Kalo orang merasa terganggu berarti kita udah berbuat ga baik”. Sambil menunggu adiknya terlelap kami bernyanyi lagi. Tidak berapa lama kemudian tidak terdengar lagi suara Kemi yang sedang mengikuti menyanyikan sebuah lagu kulihat, dia sudah menungging dan terlelap. Kucoba panggil berulang kali tetapi tetap tidak ada jawaban darinya. Hmmm Kemi benar-benar sudah terlelap…

Malam ini aku belajar banyak hal dari Kemi antara lain mengenai kesabaran, kasih sayang dan empati… Umi berdoa semoga kelak anak-anak umi saling menyayangi dan beramar ma’ruf nahi mungkar….

Iklan

Bermain Peran…

Bismillah… Agustus 2017

Akhir-akhir ini motorik kasar si abang berkembang pesat. Berbagai jenis kegiatan yang mengembangkan motorik kasarnya seperti berlari, melompat, dan memanjat hamper setiap saat dilakukan. Seperti hari ini, Kemi memainkan peran sebagai seekor kodok yang sedang melompat-lompat.

Awalnya Kemi memeragakan seekor kodok yang sedang melompat-lompat mencari induknya (kalo kata Kemi mah ‘uminya’ 😀 ), mulai dari ruang tengah sampai ke dalam kamar Kemi terus melompat dan menirukan suara kodok.

Setelah puas dan capek dengan adegan kodok-kodokan, aku kira dia akan berhenti dan beristirahat untuk memulihkan tenaganya tetapi justru dia terus berlanjut ke adegan motoric lainnya yaitu berlari-lari sambil mengelilingi kakeknya yang sedang terbaring. Beberapa putaran terus saja dia lakukan sambil tertawa-tawa memanggil ‘umiii…umiii…umiii…”. Ternyata beberapa putaran berlalu membuatnya benar-benar capek dan akhirnya dia beristirahat di punggung kakeknya sambil membawa bantal punggung dan sebuah buku.

Di punggung kakeknya dia “membaca” sebuah buku yang dibawanya. Atau lebih tepatnya menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri isi buku yang telah berulang kali dibacakan tersebut. Selesai menceritakan isi buku tersebut, Kemi kembali melompat dan berkeliling sampai dia merasa pusing. Seperti it uterus sampai dia benar-benar merasa capek dan akhirnya tertidur -_-“

Kegiatannya kali ini ‘inisiatif’ langsung dari dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Aku sebagai uminya hanya melihat dan mengawasinya saja sambil sesekali mengingatkan. Bermula dari bermain peran sebagai kodok, lari-larian hingga menceritakan kembali isi buku adalah kegiatan reflex Kemi tanpa instruksi dari orang lain. Di sini kemi melatih kemampuan motorik kasar dan halusnya sekaligus kemampuannya dalam berbahasa.

Qurban… Sarana Ibadah, Sarana Belajar…

Bismillah … Agustus 2017

Tak terasa kurang dari sepekan lagi hari raya kurban (Idul Adha) akan tiba. Moment ini akhirnya aku manfaatkan buat media bermain dan belajar si abg. Selain suka dengan sarana transportasi, Kemi juga suka dengan hewan-hewan dan juga aktivitas tempel menempel. Hmm klop deh kupikir. Akhirnya aku bertanya kepada abang apakah dia mau main tempel-tempel hewan. Dan dengan antusias Kemi menjawab mau dan menarik-narikku untuk segera menyiapkan mainannya itu.

Aku memulai aktivitas kami dengan cerita pembuka mengenai kisah Nabi Ibrahim dan Ismail berlanjut dengan aktivitas hari raya qurban dan ditutup dengan hewan-hewan yang bisa dijadikan kurban. Aku memintanya mengulang kembali hewan apa saja yang bisa dijadikan kurban, nah hewan-hewan tersebut yang akan menjadi obyek permainan tempel menempel kami. Kemi pun menyebutkan domba, sapi dan unta. Alhamdulillah.. dalam waktu singkat dia ingat (atau mungkin karena hewan-hewan tersebut sudah familiar di telinganya y 😀 ).

Aku mengajak Kemi untuk mencari gambar-gambar hewan tersebut di internet dan dia dengan antusias memilih gambar yang diinginkan. Setelah gambar didapat aku mengeprint gambar tersebut untuk dijadikan media menempel kegiatan kami. Bahan lain yang aku siapkan yaitu lem kertas, kapas, serbuk minuman jahe (punya kakeknya Kemi 😛 ), dan sabut kelapa yang sudah dipotong kecil-kecil. Kapas akan digunakan untuk menempel gambar domba sebagai bulu domba, serbuk jahe untuk gambar unta dan sabut kelapa untuk gambar sapi.

Di awal kegiatan gambar dioles-oles dengan lem kertas sampai rata kemudian dilanjut menempelkan ‘kulit’ ke masing-masing hewan. Aktivitas ini berfungsi melatih kemampuan menjumput Kemi dan suka melatih sensorinya dengan beraneka tekstur yang berbeda dari bahan-bahan yang dipakai.

Secara keseluruhan, aktivitas kami kali ini selain menumbuhkan fitrah keimanan (dengan cara cerita mengenai peristiwa qurban), juga melatih sensori dan motorik halus Kemi. Selain itu juga mengenal abjad yang tertulis pada masing-masing nama hewan. Karena sebelum menempel kami menyebutkan abjad yang tertera pada gambar. Tidak perlu menunggu moment untuk belajar, tapi kitalah yang harus menciptakan setiap moment menjadi sarana dan media bermain dan belajar… ^_^

 

Hujan Itu Berkah, Hujan Itu Media Belajar…

Assalamualaikum… Agustus 2017

Masih tentang bermain air seperti hari sebelumnya. Pagi ini udara di kampung halamanku sedang adem karena semenjak subuh hujan membasahi bagian bumi ini. Tiba-tiba Kemi memanggilku dengan tergopoh-gopoh seraya berlari menghampiriku yang masih berada di kamar sedang menyusui adiknya. Aku bertanya ada apa dia memanggilku dan dia hanya menjawab “Mi, hayuks mi hayuks keluar”. Aku bertanya kembali memang ada apa, sebentar ya umi sedang nyusuin dedek dulu, kasian dedeknya masih laper. Tetapi nampaknya Kemi sudah tidak bisa sabar menunggu dan terus saja menarik bajuku untuk ikut bersamanya sambil berkata “udahan Mi dedek nyusunya udahan”. Hmmm kemudian aku bernegosiasi dengannya untuk menghitung sampai dua belas setelah itu baru aku ikut bersamanya. Alhamdulillah berhasil, Kemi terjebak (xixixi jebakan batman kaliiii). Akhirnya diapun menghitung dengan secepatnya. Setelah selesai ya sudah aku menepati janji dan sambil menggendong si kecil akupun mengikutinya keluar.

Kemi menunjuk ke halaman dan berkata “Mi, hujan mi hujan”. Oh jadi ini yang ingin ditunjukkan anakku yang sulung ini pikirku. Aku berkata kepada Kemi jika hujan turun maka kita harus berdoa. Terus kamipun membaca doa bersama (walaupun Kemi hanya menyambung dibagian akhirnya saja “naafian” tetapi aku sudah merasa bersyukur). Kemudian aku bertanya darimana ya hujan ini turun? Kemi dengan serta merta menjawab “dari awan bah Mi” sambil menunjuk kearah langit ^_^”

Aku lanjut bertanya siapa yang membuat awan kemudian menurunkan hujan dari langit. Alhamdulillah Kemi menjawab Allah yang membuat semuanya. Walaupun mungkin konsep mengenai Allah belum dipahaminya tetapi ada rasa bangga dan kesenangan sendiri sebagai uminya mendengar jawabannya tersebut. Tiba-tiba Kemi kembali berteriak “Miii… Miii liat Mi liat ada itu mi” sambil menunjuk kearah serangga sejenis kumbang yang sedang tergeletak di bawah rintik hujan. Kemi kemudian bertanya binatang apa itu dan akupun menjawab kumbang. Aku kemudian bertanya kira-kira ngapain ya bang kumbangnya di situ. Dan Kemi pun menjawab “baringan Mi, main hujan kumbangnya kepanasan” -_-“ Trus Kemipun berkata bahwa dia juga ingin main hujan. Dan akupun menjawab “hmmm maafkan umi bang karena untuk permintaan abang yang satu ini umi belum bisa memfasilitasi karena hujannya sudah tidak deras lagi. Tunggu hujannya deras baru boleh main hujan”.

Alhamdulillah sepagi ini Kemi dan aku sudah mempelajari banyak hal. Yang dimulai dari menepati janji, kesabaran serta siapa Sang Pencipta. Belajar itu tidak harus menunggu moment yang datang, tetapi justru setiap moment dijadikan sarana belajar, baik bagi buah hati maupun bagi orang tua.

 

Bermain Air juga Belajar…

Assalamualaikum… Agustus 2017

Siapa sih anak-anak yang tidak suka dengan air? Jikapun ada persentasenya lebih kecil dibanding dengan anak yang suka bermain air. Kemi termasuk anak sebagian besar yang suka bermain dengan air. Sejak adiknya lahir, Kemi termasuk yang ‘cerewet’ jika berurusan dengan mandi. Dia mau mandi dengan sukarela salah satunya jika mandinya memakai bak mandi seperti adik bayinya.

Sore ini salah satunya. Dia terlihat happy ketika berendam di bak mandi airnya ditemani ‘teman-temannya’ seperti kereta api kecil, mobil-mobilan dan bola birunya. Durasi yang dibutuhkan untuk mandipun otomatis menjadi bertambah berkali-kali lipat dibanding ketika mandi normal. Yup, itu karena ketika dia berendam besama teman-temannya dia akan mengadakan ‘kelas’ dramanya sendiri.

Ada keasikan tersendiri ketika melihatnya memerankan beberapa tokoh di dalam bak mandinya. Kemi akan berperan sebagai kereta, mobil dan dirinya sendiri dan memulai percakapan secara bergantian. Aku sebagai ibu agak takjub melihat seusianya sudah bisa bermain peran walaupun masih dengan dialog-dialog sederhana seperti “halo kamu siapa, saya kereta. Saya mau pergi ke sana, kamu mau ikut?” Ketika melihat dan mendengar Kemi sedang bermain peran, aku juga ikutan menemaninya bermain peran sejenak sebelum si kecil merengek. Ternyata sungguh luar biasa dan membuat happy saya sebagai uminya karena banyak dialog-dialog konyol bin lucu yang dibuat oleh Kemi dan saya sebagai uminya ketika moment tersebut bisa sekaligus mengarahkan ^_^

Dunia anak-anak memang dikenal dengan dunia bermain. Tetapi justru di dunia itulah mereka banyak belajar sesuatu karena seyogianya mereka belajar dengan bermain. Kita sebagai orang tua yang harus jeli dalam mengamati perkembangan tingkah polah mereka sehingga kita bisa mengarahkan menjadi pengetahuan baru bagi anak. Disitulah uniknya dunia bermain anak-anak, bukan saja menjadi wahana belajar anak tetapi juga menjadi wahana belajar bagi orang tua sekaligus menjadi perekat hubungan antar orang tua dan anak.

 

Dulu dan Sekarang Rancang Bangun Tetap OK…

Bismillah…. Agustus 2017

Beberapa bulan kebelakang kami tidak ‘mendapati’ sisi kinestetik Kemi terlihat mencolok. Dia cenderung pasif terhadap kegiatan yang berhubungan dengan gerak motoric kasar seperti melompat, berlari, memanjat, dan lain-lain. Dia terlihat menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat ‘duduk manis’ seperti mendengarkan ketika dibacakan buku, bertanya terhadap buku yang sedang dibacakan, mengulik hal-hal kecil, coret-coret, rancang bangun dengan lego, dan lain-lain.

Itu beberapa bulan yang lalu. Sekarang perkembangan kemampuan kinestetiknya jika digrafik akan terlihat garis yang ditarik menanjak dengan sangat tinggi. Besar sekali perbedaannya dibanding 5 bulan belakangan. Kemi tidak bisa atau sejenak duduk diam mengerjakan sesuatu, jika pun ada yang dikerjakan itupun tidak akan bertahan lama. Dia lebih senang lompat dari kursi, manjat kursi meja, lari sana sini, ketika dibacakan bukupun dia tidak akan bertahan lama untuk mendengarkan kecuali ketika waktunya bedtime stories dengan bercerita tanpa buku.

Ada satu kegiatan yang tidak pernah berbeda tingkat keantusiasannya dari dulu sampai sekarang ketika kinestetiknya tampak menonjol, yaitu rancang bangun menggunakan lego. Ketertarikannya terhadap lego juga berkembang. Jika dulu dia hanya membuat sesuatu yang kemudian akan dipajangnya, sekarang dia akan membuat sesuatu yang kemudian akan digunakannya untuk beraktivitas kinestetiknya.

Salah satu produk yang digemari Kemi dalam permainan lego adalah membuat sarana transportasi seperti pesawat terbang, helicopter dan kereta api. Ketika dia selesai membuat salah satuya, dia akan memperagakan bagaimana sarana transportasi itu bergerak lengkap dengan suaranya. Banyak hal positif yang didapat ketika Kemi bermain lego, diantaranya mengembangkan daya imajinatifnya, mengembangkan kemampuan logical matematiknya, mengembangkan kemampuan bahasanya (karena dia akan mulai bercerita sambil memperagakan lego yang telah dibuatnya), dan kemampuannya berinteraksi dengan sekelilingnya (karena dia akan memberikan satu benda yang telah dibuatnya menggunakan lego ke uminya dan juga ketika ada teman dia akan bermain bersama dengan lego yang ada).

Fitrah Belajarku Tumbuh, Sosialku juga Tumbuh…

Bismillah… Agustus 2017

Usia Kemi sekarang merupakan usia di mana fitrah belajarnya sedang berkembang dan membutuhkan ruang untuk mengeksplor rasa ingin tahunya. Saya dan suami berusaha untuk menjadi fasilitator buat anak kami agar fitrah belajarnya bisa tumbuh optimal. Memasuki usia Kemi yang sekarang (2 tahun 3 bulan) kami menyadari ternyata kami belum menjadi fasilitator yang baik buat Kemi karena hamper semua kegiatan yang dilakukan Kemi masih didominasi ‘keinginan’ kami untuk Kemi, bukan apa yang diinginkan Kemi. Untuk itulah dari evalauasi kami yang ingin memperbaiki diri kami dengan predikat fasilitator yang baik buat Kemi, kami berusaha akan memfasilitasi dan merancang kegiatan apa yang memang diinginkan dan menumbuhkan fitrah belajar Kemi.

Hingga saat ini kami mengamati bahwa Kemi memiliki kecenderungan dan kecerdasan naturalis, salah satunya Kemi memiliki ketertarikan terhadap hewan-hewan seperti misalnya ikan. Pernah suatu waktu ketika tantenya mengambilkan ikan kecil dari kolam kemudian memasukkan ke dalam wadah agar Kemi bisa melihatnya dari dekat, Kemi bukan hanya melihat saja tapi juga berusaha menangkap ikan yang ada di wadah tersebut. Hal tersebut tentu berbahaya bagi ikan walaupun memenuhi hasrat belajar Kemi terhadap ikan sehingga tantenya juga menjelaskan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan karena ikannya akan mati.

Hari ini Kemi bermain pancing memancing. Berawal dari role playing yang dilakukannya menggunakan gantungan baju dan dengan bersemangat dia bercerita bahwa dia sedang memancing. Ketika dia mengatakan “miii dapat mi ikannya dapat” aku bertanya ikan apa yang diperolehnya dan dia menjawab ikan mas mi. Haaa. Dari kegiatannya tersebut kami berencana bahwa Kemi butuh untuk diajak memancing betulan dengan pancing dan ikan yang nyata. Siang hari menjelang zuhur, kakek Kemi mengatakan akan mengajak Kemi memancing di kolam belakang rumah dan dia sangat antusias terhadap ajakan kakeknya. Kemudian kakeknya mengatakan “oke, sebelum kita memancing nanti sore kita buat pancing-pancingan dulu ya dari lidi dan coba Kemi memancing dulu di kolam kecil di samping, mau?” Kemipun juga menjawab antusias “mauuuu, yuks tok buat pancing yuks”.

Beberapa saat kemudian terjadilah proses membuat pancing-pancingan ala Kemi. Kakek dan cucu tersebut terlibat aktivitas bersama sambil mengobrol. Alhamdulillah, ternyata kegiatan ini bisa membuat Kemi mau bersama kakeknya. Karena selama ini Kemi rada susah untuk melakukan kegiatan bersama kakek neneknya bahkan cenderung tidak mau. Bukan hanya fitrah belajarnya saja yang tumbuh saat ini tetapi juga fitrah sosialnya terhadap orang-orang di sekitar dan lingkungannya juga menjadi lebih baik.

Terkadang memang kita perlu ‘mendelegasikan’ kegiatan yang ingin dilakukan anak terhadap orang lain agar perkembangan sosialnya juga tumbuh. Anak tidak hanya mau dekat dengan ayah uminya saja tetapi juga bisa beraktivitas dengan orang-orang disekelilingnya.

Pengendalian Diri…

Bismillah… Agustus 2017

Usia seperti Kemi adalah masa-masanya eksplorasi terhadap apapun yang baru ditemui, bahkan terhadap sesuatu yang dianggapnya menarik tidak akan pernah bosan untuk dimainkan. Salah satu tema yang mungkin hamper semua anak akan merasa exited adalah tentang alat transportasi. Hampir semua alat transportasi yang telah dikenal oleh Kemi membuatnya merasa antusias, apalagi ketika bias merasakan sensasi nyata menaikinya. Salah satu alat transportasi yang selalu membuatnya senang tanpa merasa bosan adalah kereta api. Mulai dari buku yang ada gambar kereta api, mainan bahkan ketika naik kereta api sungguhanpun Kemi merasa senang.

Seperti hari ini, salah satu mainan yang dimainkannya adalah kereta api kecil berwarna biru. Sambil mendorong-dorong kereta tersebut, bahkan terkadang kereta diposisikannya seperti pesawat (katanya mah kereta terbang -_-“ ), Kemi menyanyikan lagu kereta api dengan nada dan lirik seingatnya dia aja, hehehe.

Hari ini kami selaku orang tuanya memang sengaja mengajak Kemi untuk jalan-jalan, karena besok ayahnya akan pulang dulu ke Bandung sebentar. Ketika di pusat perbelanjaan, Kemi melihat kereta api yang bisa dinaikin yang ada di situ. Pandangan matanya terus saja mengikuti ke mana kereta tersebut berjalan tanpa meminta kepada kami untuk menaikinya. Tentu saja dia tidak merengek meminta untuk naik, karena sejak beberapa bulan lalu, ketika pertama kali kami ke pusar perbelanjaan ini dan melihat kereta tersebut, Kemi sudah minta untuk naik tetapi kami tidak langsung meng acc. Kami hanya bilang boleh, tapi nanti bukan sekarang. Berulang kali Kemi meminta naik dan berulang kali juga kami mengatakan hal yang sama. Terkadang, di awal-awal ketika Kemi meminta naik kereta ayahnya langsung mendorong troli yang dinaiki Kemi dengan kencang sambil berteriak brmmm brmmm brmmm sehingga Kemi merasa senang dan tidak meminta naik kereta lagi.

Setelah beberapa kali akhirnya jika kami ke pusat perbelanjaan dan melihat kereta api yang sedang dinaiki oleh anak-anak seusia Kemi, Kemi tidak lagi meminta untuk naik. Hingga hari ini ketika dia memandang kereta yang melintas tersebut aku menawarkan kepadanya apakah Kemi mau naik kereta? Dan dia dengan cepat menjawab mau miii. Aku bilang iya, boleh, selesai ayah habisin makannya dulu ya. Aku bilang, Kemi hari ini boleh naik kereta karena Kemi sudah bisa sabar untuk tidak naik kereta sebelum-sebelumnya. Dan Alhamdulillah Kemi sangat senang bahkan menyuruh ayahnya untuk cepat menghabiskan makanannya -_-“

Alhamdulillah.. hingga saat ini kami masih bisa menjadi orang tua yang ‘tega’ terhadap apa yang diinginkan anak karena ini merupakan salah satu cara kami untuk mendidiknya sabar. Sesuatu yang mungkin bagi sebagian orang biasa saja tetapi bagi Kemi sangat luar biasa. Misalnya saja ketika anak seusianya dengan mudah dan biasa saja untuk jajan dan makan permen, tapi bagi Kemi permen adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Karena di rumah kami tidak membiasakannya jajan dan makan permen. Sejak usianya dua tahun 2 bulan, itu pertama kali Kemi merasakan permen dan dia sangat exited banget. Tetapi tetap kami tidak memberikan permen sesuai kemauannya, jatahnya hingga saat ini yang namanya permen hanya sekali sehari. Dengan sesuatu yang sepele seperti itu, ternyata bisa membuat anak sangat bahagia ketika kami memberikan permen untuk kejutan. Kemi akan langsung tersenyum dan bilang terima kasiiih.

Itulah indahnya sabar. Sabar menjadi orang tua yang tega. Dan sabar menjadi anak yang mampu mengendalikan diri terhadap apa yang diinginkan. Karena lambat laun kesabaran tersebut akan berbuah manis terutama bagi orang tua. Dengan hal-hal yang terlihat sepele mampu membuat anak menjadi sangat bahagia…  😀

CYMERA_20170821_133042

Ayah dan Umi adalah “Mainan Terbaik”…

Bismillah… Agustus 2017

Rasanya sudah lama tidak mengajak Kemi bermain yang berbau-bau sains, semenjak mudik ke Kalimantan di bulan April hingga sekarang. Hari ini aku bilang ke Kemi jika aku ingin memberikan kejutan padanya dan dia pun dengan cepat menjawab mauuuu mi mauuu, apa mi? katanya. Kejutan, kubilang. Sambil membawa botol bekas air mineral yang sudah dipotong aku mengajaknya untuk mencari kain yang akan digunakan menutup salah satu mulut botol. Kemi dengan antusias ikut kesana kemari mencari kain bahkan ikut menanyakan kepada neneknya apakah ada kain bekas atau tidak yang akan digunakannya untuk bermain. Setelah semua yang dibutuhkan lengkap kamipun memulai kegiatan bermain kami.

Tujuanku bermain kali ini selain mengobati kangen Kemi (heheee kayaklah Kemi ada bilang kangen) juga untuk melatih paru-parunya. Yup, kegiatan bermain kami kali ini berhubungan dengan air dan udara. Awal mulanya aku mencontohkan Kemi untuk membuat buih sabun yang ditiup melalui botol yang sudah ditutup kain, ternyata paru-paru Kemi belum cukup kuat untuk menampung udara yang akan ditiupkannya sehingga buih sabun yang keluar melalui kain penutup botol tidak terlalu banyak. Padahal Kemi berusaha sekuat tenaga untuk meniupnya, sampai sampai wajahnya agak merah ketika meniupnya, haha.

Aku akhirnya dengan masukan dari paksu, mengganti botol dengan lidi yang sudah dibulatkan ujungnya sehingga akan mempermudah Kemi untuk membuat balon dengan meniupnya. Tetapi, ketika aku hendak mengambil botol yang sedang dipegang Kemi, ternyata dia marah karena dia masih ingin bermain dengan itu. Kemudia kujelaskan bahwa kita akan membuat balon dengan ini (sambal menunjukkan lidi yang sudah dibentuk ujungnya dan aku mencontohkannya). Kemi pun langsung mengambil lidi tersebut dan juga mencoba untuk membuat balon seperti yang aku buat.

Setelah beberapa saat, keisengannya muncul, setelah bosan membuat balon dari lidi Kemi malah menciprat-cipratkan air sabun dengan menggunakan lidi tadi ke tubuh ayahnya yang memang berada di dekatnya. Semakin ayahnya menghindar semakin dikejar dan dicpratnya. Terlihat sekali dia lebih antusias dibandingkan sebelumnya, sambil iseng, Kemi malah tertawa-tawa dan bilang “aaah seronoook”. Wkwkwwk

Ternyata setelah kami amati dan mengingat-ingat selama ini, salah satu hal yang membuat Kemi antusias dan berbinar-binar adalah bisa “iseng” dengan ayah uminya. Ketika bersamaku seringkali dia iseng dengan cara diawali dengan memijit-mijit tanganku yang berakhir dengan mencubit, bermanja-manja dipangkuan yang berujung dengan menimpakan badannya kediriku, mengusap-usap pipiku yang berujung dengan cubitan gemesnya, dan selalu berakhir dengan tertawanya ketika aku kaget dan spontan berteriak. Begitu juga dengan ayahnya, Kemi selalu antusias ketika menjadikan ayahnya sebagai kuda-kudaan, main banting-bantingan bersama ayahnya, dan lain-lain.

Aku ingat salah satu penggiat parenting mengatakan bahwa mainan anak yang tidak akan membuat bosan adalah tubuh orang tuanya. Kalimat tersebut memang benar adanya bagi kami, karena setiap Kemi bermain-main dengan kami dan ada respon yang kami berikan, membuatnya sangat antusias seperti mata yang berbinar, tertawa, dan mengulanginya setiap ada kesempatan. Walaupun begitu tetap saja, kami selaku orang tuanya tetap memberikan batasan adab dan kesopanan terhadap apa yang dilakukannya terhadap kami, seperti jika Kemi menggunakan kakinya dengan sengaja ke kepala kami maka kami tetap menegurnya dan tegas mengatakan bahwa itu tidak boleh.

CYMERA_20170820_162949

BedTime Stories…

Bismillah… Agustus 2017

Rasanya seperti harus memulai dari nol kembali untuk menulis dan mengerjakan tugas diperkuliahan IIP di kelas bunda sayang, sebab baru beradaptasi dengan status baru menjadi ibu dari 2 orang anak. Dengan hadirnya amanah seorang bayi mungil di kehidupan kami otomatis harus memulai kembali beradaptasi dengan yang namanya bergadang, membagi waktu antara si kecil dan si sulung yang otomatis harus berusaha untuk tidak membuat si sulung merasa dinomor duakan, serta yang tidak kalah pentingnya bagiku adalah beradaptasi dengan kekuatan tubuh sendiri yang harus mengalami sesar untuk kedua kalinya di kurun waktu yang lumayan dekat antara si sulung dan si adek. Di tahap ini juga aku dan suami mengambil keputusan bahwa aku harus “istirahat” sejenak (cuti) dari status sebagai mahasiswa agar bisa fokus terhadap anak-anak yang seyogianya “menuntut” perhatian penuh terutama si sulung agar bisa sepenuh hati dan berlapang dada juga turut sayang terhadap adik barunya.

Tidak seperti beberapa waktu belakangan, di mana aku bisa mengoptimalkan perhatianku terhadap si sulung kami yang sekarang baru berusia 2 tahun, untuk kali ini aku merasa kewalahan menghadapi sulung kami yang menjadi lebih ekspresif “meminta” perhatian. Agar sulung kami (Kemi) tidak merasa bahwa dia dinomor duakan, aku menerapkan bed time stories yang lebih intens bersama Kemi. Kegiatan ini selain menambah kedekatan antar aku dan Kemi juga mengasah kemampuan Bahasa dan bercerita Kemi.

Seperti kemarin malam Kemi setia menungguku yang sedang menyusui adiknya. Sesekali Kemi menghampiriku seraya bilang “umi..umi”. Hmmm aku paham maksudnya, bahwa dia juga ingin meminta jatahnya bersamaku. Aku langsung bilang “iya sayang, sebentar ya dedeknya masih haus, abang mau nungguin umi di dekat dedek sini atau mau nunggu di bantal abang? Dan dia memilih untuk menunggu dibantalnya.

Kegiatan bed time stories kami dimulai dengan membaca doa tidur karena biasanya di saat sesi bercerita selesai Kemi langsung tertidur dan tidak mau ketika disuruh untuk berdoa dulu karena sudah kelewat ngantuk. Aku mengawali dengan pertanyaan hari ini Kemi ngapain aja? Kemi pun dengan antusias menjawab main lego, liat upin upin, berjemur (maksudnya bermain dengan ayah di halaman), makan, minum susu. Aku melanjutkan bertanya main apa Kemi dengan ayah? Kemi pun menjawab siram-siram tanaman. Aku bertanya kembali trus ngapain lagi tadi t? Kemi kemudian bercerita bahwa tadi siang dia pergi membeli susu dengan ayah, kemudian ayah mau beli madu tetapi kata om nya madunya nggak ada (habis). Aku bertanya dimana dia pergi cari madunya? Dan dia sambil menunjuk ke arah kanan dan bilang di sana mi.

Setelah beberapa saat, giliran Kemi yang bertanya kepadaku. Umi perutnya masih sakit kah? Kujawab iya jadi abang tolong bantu umi ya jagain dedek dan juga umi belum bisa ya gendong-gendong abang agar cepat sehat uminya. Iya mi kata si sulungku. Kemi kemudian langsung bangun kemudian kembali membawa obat dan memberikannya kepadaku sambil bilang, nih mi minum y mi obatnya biar sembuh. Kemudian kemi pergi lagi menuju jendela yang ada di kamar dan kutanya mau apa. Kemi bilang mau lihat bintang mi, sini mi ada bintang, lihat sini mi (padahal mah ga ada kelihatan ada bintang ^_^” ). Kutanya ada berapa bintangnya Kemi pun menjawab kalau bintangnya banyak dan dia mulai menghitung satu…dua..tiga…empat… ada empat mi bintangnya. Hahaha

Akhirnya aku mengajak Kemi kembali ke bantalnya agar segera tidur… Akhirnya Kemi pun menghampiri dan memelukku. Tetapi Kemi terus saja mengoceh dan bertanya ini itu. Karena mataku sudah tidak bisa diajak kompromi, maka akupun terlelap duluan dibandingkan Kemi, heeee -_-”

Kegiatan bed time stories bagiku memiliki banyak sekali manfaat diantaranya mengikat emosi antara aku dan Kemi, menanamkan karakter positif melalui cerita dan pengalaman, menumbuhkan empati, mengasah kemampuan berbahasa Kemi, serta bias belajar banyak hal lain bagi Kemi bukan sekedar kemampuan berbahasanya saja. Setiap malam kegiatan ini dilakukan tidak membuat Kemi bosan bahkan ketika aku mempunyai kesibukan lain seperti menidurkan adiknya, Kemi tidak bosan untuk menungguku selesai dengan si kecil.