Review: The Read Aloud Handbook

Judul: The Read Aloud Handbook edisi ke 7

Penulis: Jim Trelease

Penerbit: Naura

Pertama kali melihat sekilas judul dan sampul buku ini yang terpikir olehku adalah buku ini berkisah mengenai pengalaman penulis membacakan buat anak-anaknya, kiat-kiatnya dan sebagainya. Ternyata baru beberapa halaman membaca buku ini pembaca akan mendapati bahwa isi buku ini lebih dari sekedar pengalaman dan triks membacakan buat anak. Buku ini membahas secara komprehensif mengenai keluarga serta pendidikan yang benang merahnya mengarah kepada kegiatan membaca.

Buku ini terdiri atas 10 Bab yang akan mengajak para pembaca menikmati setiap alur tulisan penulis yang sangat apik. Bukan sekedar opini yang dibangun oleh Jim, tetapi pembaca juga disuguhkan bukti dan data yang didapat penulis dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Selain itu, di buku ini juga diberikaan judul-judul buku bacaan yang bisa dibacakan kepada anak sesuai usia serta diberikan catatan kaki yang berisi sumber yang memperkuat opini penulis.

Bab 1 berisi mengenai latar belakang mengapa harus membacakan cerita. Di sini juga menyangkut masalah pendidikan serta studi internasional yang berkutat tentang membaca. Ada banyak alasan ketika harus membacakan buku kepada anak-anak kita, antara lain: memberikan kepastian, menghibur, menjalin ikatan, memberi informasi atau penjelsan, membangkitkan rasa ingin tahu, memberi inspirasi, membangun kosakata, mengkondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, dan lain-lain (bisa dibaca di bab 1 ini, hehehe)

Di sini kita juga akan disuguhkan 2 fakta mengenai membaca, yaitu (1) manusia itu suka hal yang menyenangkan; (2) membaca adalah suatu keahlian yang didapat perlahan-lahan. Kita bisa membuat anak suka membaca jika membaca adalah hal menyenangkan bagi mereka. Dan bagaimana caranya? Kita para orang tua yang harus membuatnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Setelah anak-anak suka membaca atau dibacakan apakah berhenti sampai disitu? Ternyata tidak, kebiasaan tersebut bahkan harus senantiasa dipupuk hingga mereka memasuki jenjang sekolah atas karena membaca merupakan suatu bentuk keahlian dan keahlian terbentuk dari kebaisaan yang terus menerus dilakukan.

Penasaran negara mana yang merupakan negara-negara terbaik menurut studi Internasional dalam hal literasi? Di sini dijabarkan beberapa negara yang memperoleh predikat teratas seperti Finlandia, Amerika, Swedia, dan Prancis. Selain itu penulis juga menjabarkan bagaimana perlakuan di tiap-tiap negara (terutama Finlandia) terhadap anak-anak dalam hal membaca.

Bab kedua membahas mengenai waktu yang tepat memulai dan mengakhiri membacakan kepada anak. Pada bab ini juga dibahas manfaat membacakan nyaring kepada anak-anak spesial dan diceritakan dengan sangat menyentuh dan bersemangat kisah nyata dari keberhasilan salah satu orang tua yang membacakan nyaring kepada salah satu anaknya yang lahir dengan kerusakan kromosom. Membacakan nyaring juga sangat bermanfaat bagi anak ketika memasuki usia sekolah mereka, terutama pada kekayaan kosakata  untuk menunjang pemahaman mereka terhadap semua yang diajarkan di sekolah. Ada triks dan tips yang diberikan Jim dibukunya untuk menarik minat anak terhadap membaca, antara lain 3B, yaitu book (buku), book basket (keranjang buku), dan bed lamp (lampu tidur).

Bab 3 membahas mengenai tahapan membacakan cerita. Pada usia anak hingga 4 bulan ternyata tidak masalah buku atau tulisan apa saja yang kita bacakan kepada anak, dengan syarat kita (orang tua) yang membacakan nyaring, maka mereka akan tertarik. Untuk anak di tahun pertama, buku yang cocok dibacakan kepada mereka sebaiknya buku-buku yang menstimulasi penglihatan dan pendengarannya, yaitu buku- buku bergambar penuh dengan warna-warna cerah dan bunyi-bunyi yang menyenangkan untuk menarik perhatian bayi kita. Di saat usia anak yang sudah bisa memberikan feed back berupa ‘minta dibacakan’ maka akan ada fenomena immersion (pengulangan). Immersion merupakan salah satu kegiatan anak dalam memahami kosakata-kosakata baru yang mereka dengar. Perkembangan teknologi dewasa ini juga menghapiri buku, di mana dewasa ini banyak bermunculan audiobook, yang bisa menjadi pendamping tambahan anak dalam hal membaca. Menjadi pendamping bukan pengganti, karena pembaca terbaik bagi anak adalah orang tua mereka sendiri.

Bab 4 membahas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam membaca nyaring. Berlanjut ke bab 5 yang membahas mengenai membaca dalam hati yang merupakan mitra/patner membaca nyaring. Tentu saja ketika anak terbiasa dibacakan nyaring dan sudah bisa membaca sendiri, kita bisa melihat progresnya apakah anak sudah cinta dengan membaca atau tidak. Kita bisa melihatnya dengan kegiatan anak yang tetap membaca sendiri di ragam aktivitasnya. Salah satu kalimat yang bisa saya simpulkan dan merupakan bagian yang sangat saya suka adalah kita akan tau mana yang termasuk buku ‘sampah’ jika kita sudah membaca banyak buku dan menemukan buku yang bagus. Ada yang suka baca komik? Di sini juga dibahas bahwa komik merupakan salah satu batu loncatan bagi anak untuk menjadi pembaca handal di kemudian hari lho J

Bab 6 membahas mengenai pengaruh buku di rumah, sekolah dan perpustakaan. Di bab ini dibahas korelasi banyaknya jumlah buku yang ada di rumah dengan minat membaca, kenaikan nilai sains, dan belajar anak. Era digital yang telah banyak mengganti media cetak dengan e-book membuat perpustakaan juga mengganti buku-buku mereka dengan e-book dan layanan internet untuk menarik pengunjung, terutama pengunjung muda. Walau e book terkesan praktis dan lebih murah dibanding cetak, tetapi berdasarkan penelitian, seseorang yang membaca melalui buku cetak akan lebih mudah mengingat termasuk letak/posisi kalimat dibanding jika membaca melalui ebook.

Bab 7 masih mengenai tentang digital, yaitu membahas pembelajaran digital apakah berita baik dan buruk? Di bab ini bahasan yang menarik mengenai para eksekutif dan teknisi dari perusahaan teknologi seperti Apple, Yahoo, dan Google yang menyekolahkan anak-anak mereka yang usiadasar ke sekolah tanpa teknologi, tetapi mereka memilih sekolah yang berkutat dengan pembelajaran dan kreativitas, tanpa gawai teknologi.

Bab 8 membahas mengenai tv, audio, dan teknologi merugikan atau membantu kemampuan membaca. Secara garis besar, di bab ini dibahas bagaimana tv dan teknologi yang bermasalah bukan pada kontennya tetapi pada apa yang tidak dilakukan anak ketika mereka hanya menatap layar yang ada di depan mereka. Pembatasan layar bagi anak-anak sangat diperlukan untuk mengkondisikan mereka. Di sini juga para orang tua sedikit disentil bahwa mainan yang paling bermanfaat bagi seorang anak adalah mainan yang mengharuskan anak beraktivitas. Semakin banyak mereka menggunakan pikiran dan tubuh mereka untuk melakukan sesuatu, semakin banyak yang mereka pelajaari.

Bab 9 membahas mengenai ayah. Bagaimana seharusnya seorang ayah mengambil peran dalam proses tumbuh kembang anak. Dan bagaimana pengaruhnya bagi perkembangan jiwa emosional dan kecerdasan anak.

Bab 10 membahas mengenai perjalanan membaca seorang anak hiper. Siapakah itu? Penulis, yaitu Jim Trelease J

Buku yang sangat luar biasa, wajib dibaca seluruh orang tua maupun pendidik 😀

The Read-Aloud Handbook

Review buku: Jadilah yang Terbalik

Judul: Jadilah yang Terbalik

Penulis: Hasan El Perbani

Penerbit: Mumtaz Media

Pertama kali melihat judul buku ini di toko buku, langsung terlintas di benak bahwa judulnya menarik, jadilah terbalik. Hmmm apanya yang terbalik

Terbalik yang dimaksud di buku ini adalah  menjadi berbeda, melawan arus, inovatif, kreatif, dan sejenisnya dalam artian positif dan berdaya guna.

Bahasan di buku ini menarik tatkala penulis menyampaikan sesuatu yang memang berisi motivasi dan membangun semangat tetapi disajikan secara kocak dan ringan tanpa maksud menggurui

Dalam buku ini juga disajikan beberapa tokok sukses yang melakukan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang bahkan menjadi fenomena tak terlupakan hingga akhir hayat tokoh.

Salah satu bahasan yang menarik menurut saya di buku ini adalah di mana penulis menyarankan kepada pembaca untuk belajar dari iblis (nah lo, kita disuruh belajar dari iblis coba, pasti udah pada angkat alis ngebacanya,hehhe). Eits, yang dimaksud penulis di buku ini adalah bukan belajar seluk beluk kejahatan yang dilakukan oleh iblis tetapi belajar menjadi visioner, komitmen, gigih dan terencana 😀

Salah satu bahasan pada buku ini adalah seorang pemimpin adalah seorang pemimpi. Sebelum menjadi seorang pemimpin maka kita hrus menjadi seorang pemimpi terlebih dahulu. Awalai sukses kita dengan mimpi-mimpi yang ingin kita raih, kemudian kitambahkan “N” pada mimpi-mimpi kita agar berubah menjadi pemimpin. “N” di sini adalah nilai… nilai tambah yang harus kita lakukan agar menjadi pemimpin.

Bahasan menarik juga ada pada bahasan di mana penulis memberikan sebuah judul pada bagian atas “The Leaders are the Readers”.. Menarik dan sukaaa. Di bagian ini juga diberikan beberapa contoh seorang sukses dan juga pemimpin merupakan seorang pembaca yang tekun dan baik. Bahkan Nabi Muhammad juga seorang pembaca. Beliau bukan membaca buku-buku yang ada seperti sekarang tetapi Beliau adalah pembaca Alquran, membaca alam semesta, membaca fenomena alam, membaca proses penciptaan langit dan bumi, dan banyak hal.

Di bagian ini juga dipaparkan 11 manfaat membaca yang diintisarikan dari bukunya Dr. Aidh Alqorni.

Menjadi sukses tidak serta merta hadir begitu saja, tapi ada beberapa rumus yang dijabarkan di buku ini, antara lain dengan ‘kekuatan’ sedekah dan juga membangun habit. Jika kebanyakan orang memilih bersedekah tunggu sukses, tetapi kita harus berpikir sebaliknya, sedekah dulu baru sukses. Hal ini bahkan sudah dikasitau Allah jauh-jauh hari bahwa jika kita berdagang dengan Allah takkan rugi dan ketika kita bersedekah maka Allah akan meliptagandakan sedekah kita itu.

Bagian akhir buku ini diberikan beberap contoh usaha yang memakai konsep berbeda dengan yang lain (antimaenstream) sehingga sukses di kalangannya.

Berikut kalimat-kalimat menarik yang ada di buku ini

Orang sukses selalu kelebihan cara sedangkan orang gagal selalu kebanyakan alasan

Kalau ingin sukses jangan banyak alasan, kalau banyak alasan jangan mau sukses

Lebih baik mencoba kemudian gagal daripada gagal mencoba

Orang gagal mencari alasan untuk berhenti, orang sukses berhenti mencari alasan

Willing is not enough, you must do. Knowing is not enough, you must apply

Jadilah yang Terbalik

Review: Rumahku Madrasah Pertamaku

Judul: Rumahku Madrasah Pertamaku

Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut

Penerbit: Maskana Media

Rumah… Salah satu kata yang bisa membuat siapapun merasakan rindu yang teramat sangat. Terkadang rumah juga bisa menjadi kata yang membuat seseorang merasakan perih dan sukar untuk melupakan segala kepedihan. Semua perasaan itu tergantung bagaimana pemilik rumah beserta anggota keluarganya menjadikan sebagai apa rumah mereka.

Buku Rumahku Madrasah Pertamaku menjelaskan peran rumah dan keluarga dalam pendidikan anak. Di awal dijelaskan secara rinci bagaimana pendidikan Islam di dalam keluarga, betapa pentingnya mengoptimalkan fase usia dini, serta menguatkan bunda-bunda yang mengabdikan diri di rumah betapa pentingnya peran dan tanggungjawab mereka di rumah. Dan tak kalah pentingnya adalah pembahasan mengenai visi misi pernikahan antara ibu dan ayah.

Buku ini juga membahas mengenai bagaimana mengasah kecerdasan ruhiyah anak, akhlak karimah, jiwa sosial, patriotisme serta yang tak kalah penting adalah mengenai cerdas finansial. Pembahasan mengenai hal-hal tersebut difokuskan pada ananda usia 0 hingga 7 tahun karena di rentang usia tersebut karakter anak terbentuk yang kelak ketika dewasa karakter-karakter yang terbentuk di usia tersebut akan terbawa hingga dewasa.

Anak yang akan memasuki usia sekolah juga dibahas di sini, bagaimana orang tua memilih sekolah terbaik untuk anak, bukan sekolah yang harus mahal, tetapi yang terbaik menurut pandangan Islam. Di bahasan ini juga dipaparkan bagaimana peran rumah dan orang tua terhadap sekolah dan sebaliknya. Ketiga komponen tersebut harus bersinergi sehingga karakter anak akan semakin tumbuh dan mengakar.

Jika kita masih bingung untuk membuat kegiatan di rumah bersama anggota keluarga untuk ‘menghidupkan’ rumah kita, maka di buku ini disajikan contoh rancangan aktivitas bersama anak di rumah. Di sini juga akan dibahas mengenai televisi dan gadget di mana dua konten ini hingga sekarang masih memicu perdebatan antar yang pro dan kontra. Tetapi jangan khawatir, karena di buku ini akan dibahas secara adil baik dari pandangan pro maupun kontra dan akan diberikan solusi untuk menangani mengenai teknologi-teknologi tersebut.

Ada satu kalimat di bahasan buku ini yang bisa membuat motivasi seorang ibu menyusui semakin bersemangat untuk meng’asi’hi anandanya, yaitu: dengan proses menyusui yang benar dan menyenangkan, rasa percaya diri anak akan tumbuh, bahkan aktivitas itu juga bisa menumbuhkan sifat dermawan dan rela berbagi. Nah, masih ragu untuk menyusui ananda kita denga rileks dan enjoy? 😀

Adab dan etika yang dibahas di buku ini antara lain adab makan, adab minum, adab masuk kamar, adab di toilet, adab bertamu, adab menelpon, adab dalam majelis, adab mengucapkan salam, adab tidur, adab dalam bersin dan menguap, adab kepada orang tua dan saudara, serta adab kepada tetangga. Semua adab dan etika tersebut bisa kita contohkan dan perkenalkan kepada ananda kita bahkan sejak usia 2 tahun.

Buku ini juga membahas perpolitikan di keluarga muslim, di mana keluarga muslim juga harus ikut serta dalam setiap kegiatan kenegaraan yang akan membawa kemashlahatan bersama. Kutipan yang saya suka dibuku ini salah satunya adalah perkataan Umar bin Khattab yang berbunyi : Tidak ada Islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak akan ada kepemimpinan tanpa ada ketaatan.

Rumahku Madrasah Pertamaku

Review Buku : Psikologi Pernikahan

Judul: Psikologi Pernikahan “Menyelami Rahasia Pernikahan”

Penulis: Muhammad Iqbal, Ph.D

Penerbit: Gema Insani Press (GIP)

Menciptakan bangsa yang sejahtera dan kuat harus dimulai dari membangun pijakan atau landasan yang kuat pula. Kekuatan suatu bangsa ditunjukkan dengan kuatnya suatu masyarakat, di mana setiap masyarakat mempunya kekuatan / ketahanan keluarga.

Keluarga merupakan pijakan dasar untuk membangun suatumasyarakat yang berdaya, karena keluarga merupakan suatu institusi dasar pengokoh suatu bangsa.

Membaca buku ini akan membuat kita merunut kembali visi misi pernikahan kita dan bisa saja merombak cara atau pola pengasuhan kita dalam keluarga. Secara gamblang dan disertai dengan berbagai pendapat ahli di bidangnya, buku ini memaparkan makna penting sebuah pernikahan ditinjau dari sisi psikologi. Di sini juga menggarisbawahi bahwa penting untuk melakukan pendidikan pranikah sebelum melangsungkan pernikahan, dan seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak sekali bermunculan seminar maupun pendidikan pranikah, karena memang sebagian besar masyarakat (terutama masyarakat muda), sudah teredukasi bahwa pendidikan pra nikah bisa menjadi modal awal dalam menjalani pernikahan kelak di kemudian hari.

Di dalam pernikahan tentu saja pasti konflik itu akan senantiasa hadir. Seperti sebuah masakan jika tidak berbumbu apalah rasa. Tetapi di dalam pernikahan sebuah konflik yang bisa diselesaikan dengan baik akan menjadi bumbu penyedap yang seyogianya menjadi penguat anggota keluarga. Di buku ini kita disuguhkan berbagai macam konflik yang kebanyakan terjadi di sebuah keluarga. Ada konflik antar pasangan, konflik dengan orang tua mertua, bahkan konflik dengan anak. Ada berbagai kasus yang disuguhkan di sini sehingga kita bisa mengambil ibrah dan berkaca pada keluarga kita agar jangan sampai kasus-kasus negatif tersebut terjadi di keluarga kita. Jikalaupun sedang terjadi, maka kita bisa segera mencari solusi terbaiknya.

Perkembangan teknologi juga mempengaruhi kualitas suatu pernikahan. Apakah teknologi yang sedang berkembang sekarang menjadi alat sebuah keluarga dalam menguatkana bonding dan kapasitas diri masing-masing anggota, atau apakah hanya menjadi alat retaknya suatu hubungan dan keharmonisan keluarga.

Salah satu bahasan yang sangat menarik bagi saya adalah mengenai peran ayah dalam pendidikan anak-anak, karena sebagian masyarakat masih meyakini bahwa mengasuh dan mendidik anak adalah tugas seorang ibu saja. Di buku ini digarisbawahi bahwa ayah bukan hanya seorang kepala keluarga, melainkan juga sosok yang sangat penting dalam proses perkembangan anak. Keterlibatan seorang ayah dalam berinteraksi dengan anak-anak membuat anak-anak akan tumbuh dengan percaya diri, membangunkan karakter anak, membuat rasa tanggungjawab mereka tumbuh serta dapat mendorong tumbuhnya jiwa sosial dalam pergaulan.

Di akhir bahasan buku ini kita disuguhkan alat kepuasan terhadap pasangan, di mana ini merupakan alat ukur atau Couples Statisfaction index (CSI) yang terdiri atas 32 item pertanyaan yang bertujuan untuk mengukur kepuasan seseorang dalam hubungannya.

Review Buku : Membacakan Nyaring

Judul: Membacakan Nyaring

Penulis: Roosie Setiawan

Penerbit: Penerbit Noura

Membacakan Nyaring… Sekilas melihat judul buku ini saya merasa langsung klik, tertarik dan ingin mengetahui konten di dalamnya. Sejak bang Kemi masih bayi, aku dan paksu senantiasa membacakan secara nyaring kepada Kemi dengan keyakinan, bahwa telinga dan otaknya sudah saling tersambung satu sama lain walau Kemi belum bisa mengucapkan. Berdasar kepada keyakinan tersebut kami senantiasa rutin membacakan kepada Kemi secara nyaring walau di awal-awal terkadang Kemi tidak memperhatikan.

Beberapa waktu kemudian dengan agenda rutin kami membacakan nyaring, kami tau bahwa itu namanya ‘read aloud’. Yup, hanya sekedar tau dan sekilas mencari tau apa itu read aloud.

Memiliki buku Membacakan Nyaring dari mbak Rossie menambah wawasan dan ilmu kami mengenai betapa pentingnya membacakan kepada anak-anak sejak dini (baca: membacakan bukan diajarin baca). Buku ini mengupas tuntas segala manfaat membacakan kepada ananda sejak usia 0 tahun bahkan sejak dalam kandungan. Secara gamblang di sini juga dijelaskan tahap perkembangan ananda yang dimulai sejak 0 bulan hingga 2 tahun, dimulai dengan tahap mendengar berlanjut pada tahap mengamati, bergumam, berceloteh, membuat kata hingga akhirnya memasuki tahap mengucapkan kalimat.

Buku ini juga memberikan alternatif kegiatan apa saja yang bisa dilakukan ayah bunda dalam menstimulus ananda sesuai usianya serta contoh media yang bisa dipakai sejak usia 0 hingga 24 bulan..

Senang sekali rasanya saya bisa memiliki dan membaca kontennya, karena saya seorang ibu dengan ananda usia18 bulan yang tentunya membutuhkan sedikit banyaknya contoh dan pengalaman dari orang-orang hebat yang sudah membuktikan… 🙂

img_20190122_161307

Review Buku : Menyayangi Anak Sepenuh Hati

Judul: Menyayangi Anak Sepenuh Hati

Penulis: Ida Nur Laila

Penerbit: Era Adicitra Intermedia, 2018

 

Bismillah…

Teknologi mempunyai peranan penting dalam kehidupan kita, salah satunya kita menggunakan teknologi untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di dekat kita maupun yang berada jauh dari lokasi di mana kita berada. Saat ini seringkali kita dapati berita mengenai peristiwa yang tidak mengenakkan berkaitan dengan anak. Banyak kekerasan bahkan hingga nyawa hilang lantaran terjadi kekerasan tersebut. Kekerasan pada anak terjadi bukan saja oleh orang yang tidak ada hubungan kekerabatan tetapi juga dilakukan oleh orang terdekat dengan korban bahkan ibu kandung.

Setiap orang tua ketika ditanya mengenai apakah mereka sayang dengan anak mereka, maka bisa dipastikan jawaban yang terlontar dari mulut orang tua adalah sayang. Tetapi apakah anak-anak juga merasakan hal yang sama atau malah sebaliknya? Apakah anak-anak mengetahui bahwa orang tua sayang dengan mereka atau mereka justru merasa bahwa orang tua tidak menyayangi mereka?

Buku ini mengupas mengenai bagaimana orang tua bisa bersikap menghadapi segala problem yang dihadapi anak-anak. Penulis yang merupakan orang tua dengan 6 orang anak serta sebagai aktivis parenting mengupas tuntas disertai dengan pengalaman nyata penulis sendiri bagaimana solusi yang bisa dihadirkan dalam membersamai anak-anak.

Bukan sekedar kontak fisik yang harus dihadirkan oleh para orang tua tetapi juga bagaimana ketika fisik hadir maupun tidak hadir di dekat buah hati, ruh dan jiwa kita tetap hadir dalam membersamai mereka. Beberapa bab dalam buku ini juga disertai dengan lembar evaluasi bagi orang tua untuk mengevaluasi diri sendiri apakah sudah menjadi orang tua yang membersamai anak sepenuh jiwa atau hanya sekedar membersamai secara fisik. Selain itu di dalam buku ini juga dihadirkan Undang-Undang mengenai perlindungan Anak yang bisa kita pegang sebagai kekuatan hukum negara. Di bagian akhir buku ini juga diberikan bonus spesial dari penulis berupa ‘suplemen’ yang merupakan cara-cara yang Beliau lakukan di rumah dalam membersamai anak-anak agar cinta itu tumbuh bukan saja pada diri orang tua tetapi juga pada jiwa anak-anak (Bukan saja cinta bertepuk sebelah tangan karena hanya orang tua yang merasakan tetapi juga penerimaan cinta itu dirasakan juga oleh anak-anak dan dibalas kembali dengan cinta kepada orang tua)

 

Review: Parenting With Heart

Bismillah…

Judul : Parenting with hearth “Menumbuhkan Anak dengan Hati”

Penulis : Elia Daryati dan Anna Farida

Penerbit : Kaifa, 2014

 

Dunia anak tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak sekali hal kompleks yang mereka alami, baik secara psikologis, spiritual, maupun fisik. Orang tua (berarti disini yang dimaksud adalah ayah dan bunda) diharapkan bisa bersinergi dalam mendampingi anak-anak sesuai dengan peran dan porsinya agar tidak terjadi ketimpangan dalam pengasuhan.

Seringkali anak-anak hanya mengenal engan baik salah satu orang tua, entah itu ibu atau ayah, atau bahkan tidak mengenal keduanya karena mereka lebih mengenal pengasuh ketiga mereka (baca: pengasuh/pembantu). Orang tua juga dituntut untuk menjadi pembelajar sejati di universitas kehidupan karena zaman yang terus berubah dan anak juga berkembang sangat pesat diiringi dengan pesatnya teknologi yang berkembang.

Kita tidak bisa lagi menyamakan model pengasuhan yang kita terima dulu dengan menerapkannya kepada anak-anak kita sekarang karena mereka hidup bukan di zaman kita dulu. Era digital menuntut kita juga menjadi orang tua digital, dalam artian kita juga setidaknya bisa menjadi teman anak-anak ketika mereka membahas tema yang berhubungan dengan dunia digital sehingga tidak terdapat jurang yang memisahkan kita dengan anak-anak.

Buku ini membahas 45 cerita pengasuhan yang nyata terjadi di sekitar kita atau bahkan kita sendiri yang mengalami. Dimulai dengan membahas bagaimana orang tua mendampingi anak menemukan konsep diri mereka, berlanjut dengan bagaimana teladan dan peran serta komitmen orang tua dalam mendampingi anak-anak, berlanjut dengan bagaimana seharusnya orang tua berperan dalam pendidikan dan mengajarkan sesuatu yang masih tabu di masyarakat padahal merupakan hal yang penting yang harus diketahui oleh anak, dan terakhir buku ini juga membahas secara khusus mengenai bagaimana pengasuhan yang tepat yang kita terapkan buat anak-anak remaja (ABG). Buku ini mengajak kita bukan sekedar kebetulan menjadi orang tua, tetapi menjadi orang tua betulan. Orang tua yang bisa merasakan bagaimana ketika kita yang berada di posisi anak, bukan menjadi orang tua diktator, yang membuat anak menjadi objek penderita karena harus mengikuti keinginan dan arahan orang tua.

Counting

Bismillah…

Media edukasi yang dibikin sendiri ternyata selain efektif buat anak juga efektif buat waktu emaknya. Kenapa? karena dilain waktu ketika emak tidak ada waktu untuk membuat media main dan belajar, media yang pernah dibuat bisa digunakan kembali.

Alhamdulillah salah satu media edukasi Kemi yang pernah dibuat ketika pekan matematika, dibawa ayah ketika berkunjung ke Kalimantan beberapa waktu lalu. Hari ini emak lagi riweh ga bisa mikirin apalagi buat media main dan belajar bang Kemi, alhasil emaknya nawarin bang Kemi buat main media yang ada, yaitu dadu beserta papan angka nya. Dan alhamdulillah ternyata bang Kemi mau dan masih antusias 🙂

Cara mainnya gampang sekali, bang Kemi melemparkan dadu, kemudian menghitung bulatan yang tampil di muka dan selanjutnya memilih kartu angka sesuai dengan bilangan dadu yang muncul. Alhamdulillah hari ini bang Kemi tetap bermain bermakna bersama Umi 🙂

Sholih dan cinta ilmu selalu anak-anak Umi 🙂

 

Mengenal M, N, dan K

Bismillah…

Hari ini bang Kemi belajar dan bermain dengan huruf M, N dan K. Selain mengenal huruf-huruf tersebut, bang Kemi juga dikenalkan dengan hewan-hewan yang berawalan dari huruf-huruf tersebut.

Kegiatan awal bang Kemi diminta untuk memilah dan memilih hewan-hewan yang berawalan dari huruf M, N, dan K. Setelah agak lama memilih dari 100 kertas gambar hewan yang tersedia, akhirnya terpilihlah 3 hewan dengan awalan M, 1 hewan awalan N, dan 3 hewan dengan awalan K. Setelah hewan-hewan sudah terpilih bang Kemi mulai menempelkan hewan-hewan tersebut sesuai dengan awalan huruf yang tersedia.

Kegiatan ini mempunya beberapa manfaat antara lain anak secara tidak langsung mampu mengingat huruf,  anak juga belajar untuk membuat kata berawalan huruf yang dipelajari, anak juga mengenal hewan-hewan, serta anak mampu mengklasifikasikan hewan-hewan yang dimaksud.

Sholih dan cinta ilmu selalu anak-anak Umi 🙂

Menjahit

Bismillah…

Hari ini kembali melatih motorik halus bang Kemi dengan cara menjahit. Bahan yang dipakai kali ini adalah kain flanel dan tali sepatu. Kain flanel dilubangi di bagian sisi-sisinya dan bang Kemi diminta untuk memasukkan tali sepatu ke lubang-lubang berurutan.

Di awal kegiatan bang Kemi mampu untuk memasukkan tali ke lubang secara berurutan tetapi setelah melewati 4 lubang, konsistensi bang Kemi goyah dan dia mulai memasukkan tali sepatu ke lubang secara acak, hehehe

Kegiatan ini bermanfaat dalam melatih motorik halus, kesabaran, dan juga matematika. matematika yang dimaksud di sini adalah cara berpikir sistematis (berurut) dan juga menghitung berapa tusukan yang berhasil dilakukan oleh bang Kemi dalam menjahit kain flanel tersebut 🙂

Sholih dan cinta ilmu selalu anak-anak Umi 🙂