Abang Kemi… :)

Bismillah… Januari 2018

Malam ini antara maghrib dan isya aku mencoba membiarkan bang Kemi untuk bermain sesukanya tanpa ‘kawalan’. Awalnya aku agak was-was juga apalagi kalo bang Kemi bermainnya dekat adiknya. Aku ingin tahu jika tanpa kawalan dan masukan ide dari kami kira-kira apa yang akan dimainkan oleh bang Kemi.

Aku bilang kepada bang Kemi “bang, sok aja abang mau lakukan dan main apa aja yang abang suka, umi gak akan ikutan y”. bang Kemi hanya menganggukkan kepalanya dan berkata “ooo iya’. Beberapa waktu kemudian bang Kemi mengambil salah satu kotak mainannya yang berisi bermacam-macam mainan kecil, Kemi terlihat asyik memainkan mainannya yang sejenis puzle tapi bulat-bulat (entah apa namanya aku juga tidak tahu). Kemi mengajak ayahnya untuk membantunya membuatkan jerapah dengan mainan itu dan dimulailah ‘proyek’ jerapah bang Kemi dan ayah. Setelah beberapa saat bermain membuat jerapah, mungkin bang Kemi agak bosan dia berhenti memainkannya dan sedikit demi sedikit menyimpan mainan-mainan kecilnya itu ke dalam kotaknya kembali. Alhamdulillah walaupun masih ada yang berserakan tapi dia telah menunaikan ‘kewajibannya’ terhadap mainan yang dimainkan, yaitu harus dibereskan kembali ke tempatnya semula J

Sesi selanjutnya bang Kemi menyusulku masuk ke dalam kamar sambil membaca buku mengenai transportasi. Aku hanya melirik sejenak dan bertanya “mau ngapain sekarang bang?” bang Kemi menjawab sambil membuka buku yang dibawanya “mau baca buku ini aja ah, abang mau baca sendiri aja”  ^_^”

Kemudian Kemi mulai ‘membaca’ buku yang dibukanya dan aku senyum-senyum geli mendengarnya, karena memang bang Kemi belum bisa membaca kalimat, baru mengenal huruf-huruf saja. Akhirnya selesai apa yang kukerjakan aku menawarkan diri untuk membacakan dan bang Kemi menolak karena menurutnya dia sudah selesai baca bukunya dan mau bermain dengan adiknya.

Adiknya sedang menangis ketika Kemi hendak bermain dengan adiknya. Kulihat dan kuamati apa yang akan dilakukan bang Kemi. Ternyata masyaAllah alhamdulillah bang Kemi mencoba untuk menghibur adiknya agar berhenti menangis. Dan ternyata alhamdulillah adiknya berhenti menangis dan malah berteriak-teriak kegirangan ‘bermain’ dengan abangnya. masyaAllah… semoga bang Kemi dan dede Afath menjadi hamba-hamba sholih dan selalu akur y J

Iklan

Fitrah Seksualitas…

Bismillah… Januari 2018

Pekan ini kami kedatangan nenek dari Bandung yang biasa di sapa cucu-cucnya dengan sebutan mamah (karena ngikutin om tante ayah uminya juga para sepupu). Seharian ini Kemi pergi bersama mamah dan ayah untuk mengurus suatu keperluan dibeberapa tempat, salah satunya di bank dan di kebun. Dari cerita Kemi dan mamah, selama di kebun Kemi terlihat senang berlari ke sana kemari bahkan ketika melihat pohon rambutan yang sedang berbuah tanpa malu-malu (ini mah ortunya yang malu,xixixi) Kemi meminta buah rambutan itu untuk dimakannya, dan diambilkanlah oleh si pemilik kebun buah rambutan itu dengan balasan ucapan terima kasih dari bang Kemi.

Bang Kemi juga antusias bercerita ketika sedang di bank dia menonton televisi yang terpampang di sana mengenai cumi-cumi dan mengkaitkan cerita cumi-cuminya dengan cumi-cumi yang ada di jual oleh mang sayur komplek setiap pagi -_-“

Kemi dan mamah hari ini terlihat lengket bahkan ketika malam bang Kemi tidur bersama mamah (di bagian ini aku sebagai emaknya rada sedih walau mungkin terdengar lebay, hiks hiks hiks ternyata anakku lambat laun akan berpisah jua dari emaknya ini…).

Tengah malam menghampiri, tetiba gagang pintu terdengar menderit-derit, aku kaget, kirain siapa, beberapa saat kemudian terdengar suara bang Kemi “Umi… Umi,,, mau masuk abang Keminya”. Oooh ternyata bang Kemi, akupun menjawab panggilannya dan segera membukakan pintu. Kemi pun langsung masuk dan naik ke kasur. Sesampainya di kasur dia minta peluk dan bercerita kembali, bahkan dia juga bilang kangen dengan uminya, hiks hiks aku jadi baper, wkwkkw

Ketika acara temu kangen di kasur, Kemi bercerita mengenai salah satu film yang pernah kami tontotn yaitu Lion King, terutama mengenai tokoh Simba. Tiba-tiba Kemi bilang “kasihan anak singanya t, ayahnya diinjak bison dan jatuh, meninggal deh. Kan ayahnya ngelahirin Simba”. Aha aku langsung mendapatkan celah untuk masuk dalam pembelajaran mengenai fitrah seksualitas terutama tentang perbedaan perempuan dan laki-laki. Akupun bertanya kepada Kemi “bang, kalo yang ngelahirin bang Kemi dan dede Afath siapa?” Kemi menjawab “Umi”. Aku pun langsung melanjutkan “nah, sama anak singa juga dilahirin oleh umi singa nya sayang, bukan ayahnya”. Kemi lantas menjawab “ooooh iy” sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian obrolan kamipun berlanjut mengenai perbedaan ciri-ciri fisik antara laki-laki dan perempuan. Waaaah alhamdulillah masyaAllah malam yang luar biasa, karena setiap moment harus bisa kita abadikan menjadi sebuah hikmah pembelajaran, baik bagi kita sebagai orang tua maupun bagi anak-anak kita. Seyogianya belajar dan bermain bagi anak adalah satu kesatuan, dan setiap momen dan waktu adalah sebuah pembelajaran, karena belajar tidak terbatas ruang dan waktu, justru belajar dapat kita ciptakan di setiap momen yang tercipta J

Kata Sakti Itu “Terima Kasih”

Bismillah… Januari 2018

Sejak usia bang Kemi sekitar 7/9 bulan, salah satu program pembelajaran adab buatnya adalah TTM (terima kasih, tolong, maaf). Pada usia itu bang Kemi memang belum bisa untuk mengucapkan kata-kata tersebut dan mungkin juga belum memahami makna dari 3 ucapan ‘sakti’ itu, tetapi kami meyakini bahwa anak adalah ‘mesin’ fotokopi yang canggih, terutama dalam mengkopi perilaku orang terdekatnya, ayah dan uminya.

Berbulan-bulan berlalu bahkan sudah mendekati hampir 3 tahun usia bang Kemi, kami tetap menjalankan program TTM ini, karena bukan saja berharap anak-anak akan menjadikannya habit tanpa makna tetapi lebih kepada habit bermakna bahkan buat kami orang tuanya, karena jujur saja buatku yang memiliki ego tinggi kata maaf sangat sangat berat terlepas dari bibir ketika melakukan kesalahan.

Walaupun sampai sekarang bang Kemi terkadang masih harus diingatkan untuk mengucapkan kata ‘terima kasih’ tetapi dengan kode yang sedikit saja bang Kemi langsung ingat dan mengucapkan terima kasih ditambah senyum tulusnya kepada yang bersangkutan. Seperti hari ini, ketika pagi-pagi ibu jamu seperti biasa datang ke rumah kami dan bang Kemi dengan habitnya ikut duduk di sampingku dan memesan ‘rasa jeruk bu’ -_- (eleeeh anak usia segini keranjingan minum jamu coba, helloooo). Ketika ibu jamu memberikan gelas berisi pesanan jamunya kepadanya, bang Kemi dengan serta merta mengucapkan ‘terima kasih’ sambil tersenyum J

Aku surprise saja mendengar refleks ucapan dan mimik wajah khas bang Kemi karena biasanya ketika bu jamu memberikan jamunya kepada Kemi, aku harus memberikan sedikit kode baru bang Kemi ingat mengucapkan terima kasih. Pun ketika bang Kemi selesai meminum jamunya, dia memberikan gelasnya kepada ibu jamu dan mengucapkan terima kasih untuk kedua kalinya. Waaaah masyaAllah… semoga menjadi habit y nak J

Telpon Benang… :)

Bismillah… Januari 2018

Bagi seorang anak, bermain adalah belajar dan belajar haruslah sambil bermain, hehehe. Hari ini agak bingung mau merancang main apa buat bang Kemi karena fokusku terbagi dengan mpasi Alfath -_-“

Kulihat ada kaleng yang dikumpulkan oleh ayah, dan tetiba ide main pun muncul. AHA kuperlihatkan kepada Kemi dua buah kaleng dan kutanya kira-kira kaleng-kaleng ini bisa kita manfaatkan buat apa. Kemi langsung menjawab “telpon-telponan Mi, kayak yang di upin upin tu bah, yang kita lihat di tempat nenek”.

Siiip, akhirnya kamipun bersama-sama membuat telpon-telponan benang. Aku merangkainya, sedangkan bang Kemi mengambil dan menyediakan bahan dan alat yang kubutuhkan sesuai dengan intruksi. Alhamdulillah setelah beberapa saat telpon-telponan kamipun jadi deh. Kami bersuka cita mengobrol via telpon itu, bahkan bang Kemi mengajak adiknya mengobrol dengan telpon itu walau adiknya belum paham atas apa yang dilakukan abangnya -_-“

Alhamdulillah hari ini abang Kemi belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Selain itu kami juga memperoleh informasi tambahan melalui buku Kemi berkaitan dengan telpon benang J

Ayah Time… :)

Bismillah… Januari 2018

Hari ini tema pembelajaran bang Kemi spesial, yaitu bersama ayah berdua aja. Sejak pagi hingga sore hari bang Kemi dibawa ayah pergi ke kampus tempat ayah bekerja di ranah publik. Kuharapkan pembelajaran hari ini meningkatkan kualitas antara ayah dan anak, selain itu juga meningkatkan kuantitas sehingga menjadi penyeimbang antara kegiatanku bersama Kemi dengan kegiatan ayah bersama Kemi.

Beberapa manfaat yang bisa diambil dari kegiatan ‘lapangan’ Kemi antara lain, Kemi bisa mengetahui sedikitnya mengenai pekerjaan ayahnya di luar rumah, bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga inti, serta belajar bersabar ketika harus menunggu ayah menyelesaikan pekerjaan ayah di kampus J

Dari ‘laporan’ ayah, selama di kampus Kemi terlihat menikmati kegiatannya selama di sana, seperti mengoprek-ngoprek ruangan, makan minum apa yang ada di sana bersama dosen-dosen lain walau ayah sedang sibuk mengerjakan laporan, main bersama teman ayah dengan buku dan roket walternya, ngoceh sana sini dan yang terpenting Kemi sabar menunggu ayah menyelesaikan laporan ayah, tanpa merengek-rengek minta pulang (padahal lumayan lama dari pagi hingga sore selepas ashar).

Sesampainya di rumah bang Kemi bercerita kepadaku apa saja yang dilakukannya di kampus dan siapa saja yang menjadi ‘temannya’ selama di sana. Beberapa saat Kemi bercerita dengan antusias, tidak berapa lama Kemi mengajakku untuk ke kamar dan dia langsung berbaring dan terlelap -_-“

Alhamdulillah.. kuharap Kemi dapat pelajaran hari ini mengenai gambaran pekerjaan ayahnya di luar rumah serta Kemi bisa mempraktekkan ‘sabar’ di dalam kehidupannya J

Golden Age… :)

Bismillah… Januari 2018

Anak merupakan anugerah sekaligus cobaan bagi orang tua yang dititipkan. Banyak yang mengatakan bahwasanya anak terlahir seperti kertas putih, bersih, padahal seyogianya tidaklah demikian. Anak terlahir dengan membawa seperangkat fitrah yang harus kita instal agar fitrah-fitrah tersebut tetap sesuai jalurnya. Apa yang kita berikan kepada anak-anak kita sebagai stimulus, maka itulah yang akan terinstal di kehidupannya tentu saja ikhtiyar yang kita lakukan tetap Alllah sebagai penentu akhirnya, bukankah Nabi Nuh saja, seorang utusan Allah, pembawa risalah kebenaran Ilahiyah, ternyata ananda tercinta ikut terkena azab Allah karena keingkaran sang putra? Hmmm untuk itulah kita harus senantiasa selain ikhtiyar tetpa terus berdoa kepada Sang Pemilik buah hati kita agar senantiasa diberikan hidayah kebenaran.

Salah satu program yang kami rancang salah satu yang terbaru buat abang Kemi adalah menonton. Setelah sekitar 3 pekan kami lakukan pengamatan terhadap abang Kemi. Pekan pertama ketika film Lion King ditontonnya, perilaku abang Kemi serta apa yang dibicarakannya tak lepas dari seluk beluk film tersebut, bahkan panggilan seluruh penghuni rumah juga berubah menjadi abang singa, umi singa, ayah singa dan dedek singa. Pekan kedua berlanjut ke film Kungfu Panda, ternyata sama seperti pekan sebelumnya. Sepanjang hari yang ditiru baik prilaku dan kisah-kisah tak lepas dari film kungfu panda. Begitu juga ketika pekan ketiga mengenai film zootopia yang bercerita mengenai polisi kelinci. Sepanjang hari yang ditiru baik prilaku dan ceritanya adalah mengenai polisi. Bahkan abang Kemi bilang dia ingin menjadi polisi -_-

Dari tiga pekan ini kami menyimpulkan bahwasanya seorang anak khususnya ketika masa-masa golden age, memang gemar untuk meniru apa saja informasi yang didapatnya, baik itu info yang tidak baik ataupun baik, karena seyogianya masa-masa ini masa dimana anak belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek.

Salah satu tugas utama orang tua adalah memberikan dan menggiring anak-anak kita dalam penyajian informasi yang sesuai dengan apa yang kita inginkan sesuai dengan tujuan visi misi keluarga kita. Untuk apa kita diciptakan, untuk apa kita hidup di dunia dan apa tugas kita di dunia ini. Jika kita ingin anak-anak kita meniru dan bertutur laksana seperti apa yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul, maka kita juga harus senantiasa memberikan ‘suguhan’/ informasi-informasi yang mengarah ke arah itu, bukan sebaliknya. Semoga kita senantiasa dibimbing untuk menjadi orang tua betulan, bukan kebetulan menjadi orang tua. Karena kelak, kita kaan dimintai pertanggungjawaban dari apa yang Allah titipkan kepada kita (anak).

Hewan Darat dan Hewan Laut.. :)

Bismillah… Januari 2018

Hari ini aku mencoba mengajak Kemi bermain mengenai hewan-hewan yang memang merupakan favoritnya. Aku mencoba mengajaknya untuk menganalisis, mengklasifikasi (uhuii bahasanyaaa,wkwkkw) mana yang termasuk hewan darat dan mana yang termasuk hewan laut. Aku menyediakan 2 habitat, yaitu satu untuk hewan darat yang ditempatkan menggunakan baki yang ditutup dengan kertas berwarna hijau dan coklat yang menunjukkan bahwa itu tanah dan rerumputan, sedangkan satu lagi wadah plastik yang kuisi dengan air yang menunjukkan bahwa itu habitat untuk hewan laut.

Untuk hewan-hewannya sendiri kupinjam saja dari mainan bang Kemi, ada cetah, beruang, ikan, kepiting, rusa, dan lain-lain. Aku mulai memberikan intruksi kepada Kemi untuk memilah mana saja hewan yang hidupnya di tanah (darat) dan mana saja hewan yang hidupnya di air. Dan bang Kemi harus meletakkan setiap hewan di tempat hidupnya masing-masing.

Bang Kemi sangat senang terutama di bagian air, karena dia bisa nyambil main air -_-

Alhamdulillah beberapa saat bang Kemi bisa memasukkan hewan-hewan sesuai dengan tempat hidup masing-masing. Setelah itu kami memperdalam apa yang sudah kami lakukan tadi dengan mencari informasi yang lebih akurat di salah satu buku koleksi perpus bang Kemi.

Selain itu kami juga membahas Allah Sang Maha Pencipta yang dengan KeMahaBesaranNya mampu menciptakan hewan-hewan dengan berbagai jenis dan habitatnya. Alhamdulillah hari ini dengan kegiatan ini beberapa macam fitrah kecerdasan dapat dicoba untuk ditumbuhkan, antara lain fitrah spiritual, fitrah belajar dan bernalar, fitrah empati dan kasih sayang terhadap sesama makhluk J

Hafidz Quran??? Hmmm

Bismillah… Januari 2018

Keluarga kami mungkin bisa dibilang sedikit ‘nyeleneh’, di saat keluarga yang lain gencar dan berlomba-lomba untuk mem’push’ anak-anak mereka menjadi penghapal Quran sejak usia yang sangat dini, kami masih merasa ‘santai’ saja. Emang kami tidak ingin anak-anak menjadi seorang Hafizd? Hmmm semua orang tua Muslim pasti ingin dong bahkan sangat ingin. Tetapi, kami meyakini bahwasanya setiap anak membawa potensi masing-masing sejak terlahir ke dunia ini.

Kami tidak terburu-buru untuk membuat anak kami bisa menghapal ini itu termasuk menghapal Quran. Karena yang kami yakini adalah adab sebelum ilmu. Jikapun kelak Allah menakdirkan buah hati kami menjadi penghapal dan pemulia Quran, kami berharap bukan saja penghapal di bibir tetapi juga pengamal dari apa yang dihapal dan diucapkan di bibir. Aamiin…

Sejak mereka terlahir atau bahkan sejak masih di dalam kandungan, beberapa cara sudah kami lakukan untuk memancing mereka mencintai Quran. Salah satunya rutin untuk membacakan dan memperdengarkan Murattal Alquran. Sampai saat ini kami belum pernah sengaja mengajak mereka menghapalkannya, hanya sekedar memancing dan membacakan secara berulang dengan suara keras layaknya read aloud.

Alhamdulillah di usia bang Kemi yang mendekati 3 tahun, sudah beberapa doa dan surat pendek yang bisa dihapalnya. Apakah kami sengaja mengajaknya untuk mengahapal dan ada waktu khusus? Tidak. Sejak masih bayi kami membiasakan ketika melakukan sesuatu berdoa dengan suara keras agar anak-anak mendengar.

Misalnya ketika mau tidur, bangun tidur atau sebelum makan, kami berdoa bersama terlebih dahulu. Jika dulu aku atau ayahnya yang memimpin alhamdulillah untuk doa tidur atau sebelum makan sudah diambil alih oleh bang Kemi. Awalnya aku dan suami benar-benar kaget masyaAllah ternyata bang Kemi bisa melafalkannya tanpa kami bimbing. Dan itu dilakukannya sambil ngoceh. J

Untuk surah-surah pendek kami membiasakan untuk memperdengarkan berulang-ulang dengan read aloud, bahkan ketika aku sholat sunah, aku sengaja untuk mengeraskan suaraku hingga terdengar oleh bang Kemi. insyaAllah akan tiba masanya di mana Kemi akan mulai menghapal dan mentadaburi ayat-ayatNya dengan kemauannya sendiri, kami selaku orang tuanya hanya memancing fitrah yang ada di dalam dirinya.. Salah satu program terdekat kami yang berhubungan dengan Quran adalah membawa bang Kemi ke tempat tahfidz Quran khusus balita. Tidak segera untuk memasukkannya, tetapi hanya sekedar mengenalkannya dan mengajaknya bermain di area tersebut. Jika bang Kemi tertarik untuk bergabung dengan teman-teman sebayanya di situ, why not??!! J

Kungfu Panda… :)

Bismillah… Januari 2018

Tahun yang baru kami selaku fasilitator anak-anak membuat salah satu program baru buat bang Kemi, salah satunya belajar menggunakan media elektronik yang bernama televisi (tv). Sejak awal, kami belum memberikan ijin Kemi untuk mengenal TV ketika di rumah, kecuali ketika kami berkunjung ke sanak saudara dan kakek neneknya yang tentu saja agak sukar untuk mengendalikan orang lain. Hehehe

Alhasil, program menonton seminggu sekali buat bang Kemi membuatnya happy dan antusias. Walaupun judulnya menonton, tapi tetap saja ini merupakan program pembelajaran sehingga konten yang kami sajikan juga harus mengandung pembelajaran bagi Kemi dan kami selaku orang tuanya. Konten yang kami sajikan kami selaku fasilitator yang memilihkan dan Kemi menontonnya juga bersama-sama dengan kami sambil mengobrol berdiskusi ketika film sedang berlangsung.

Seperti minggu ini, kami menyajikan film Kungfu Panda buat bang Kemi. Wah bang Kemi sangat antusias sekali karena memang tokoh-tokoh yang ada di film itu adalah berupa hewan-hewan yang menjadi favoritnya. Sekitar sejam film berlangsung, kami meminta bang Kemi mereview film yang telah ditontonnya. Dan alhamdulillah dengan antusias bang Kemi menceritakan kembali film yang telah ditontonnya itu sambil diiringi dengan gerakan-gerakan yang dilihatnya di film.

Kami juga meminta bang Kemi menjelaskan kira-kira perbuatan baik apa yang bisa kita contoh dari film yang telah ditonton, tentu saja dengan panduan kami, karena memang usia Kemi belum bisa sepenuhnya untuk menjabarkan hikmah yang didapat dari sebuah film. Hehehe

Ada beberapa poin penting yang kami dapat dari pembelajaran melalui media elektronik ini antara lain adalah melatih kecerdasan bahasa dan estetikanya. Selain itu juga bisa melihat perkembangan kecerdasan emosional dan logikanya, bagaimana urutan cerita yang dijabarkannya melalui menceritakan kembali J

Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang harus kita takuti tetapi bagaimana teknologi yang berkembang sangat cepat dapat kita manfaatkan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat dan positif J

Lempar Bola :)

Bismillah… Januari 2018

Hari ini aku mencoba merancang games buat bang Kemi dengan menggunakan media yang sudah ada dan dipakai sebelumnya, yaitu bola hijaiyah. Dengan memanfaatkan bola hijaiyah aku menambah media yang lain seperti botol-botol bekas yang ada di rumah yang kemudian ditempel kertas dan ditulis dengan huruf. Masing-masing botol ditulis dengan 1 huruf, baik itu huruf kapital maupun huruf kecil.

Aturan mainnya, botol-botol disusun berjejer, kemudian dengan jarak tertentu bang Kemi melempar botol di depannya menggunakan bola hijaiyah yang sudah ada sebelumnya.

Abang Kemi mengambil satu bola hijaiyah dan menyebutkan huruf hijaiyah apa yang tertulis di situ kemudian melemparnya. Hasil dari lemparan diambil, dan disebutkan huruf apa yang tertera pada botol yang dijatuhkan. Selain itu Kemi juga diminta menyebutkan ada berapa botol yang terjatuh.

Kemi juga diminta untuk menderetkan dua botol yang berbeda dan kuminta untuk melihat perbedaan antara dua botol itu. Dipilih yang mana botol yang tinggi dan mana yang lebih pendek di antara botol yang disandingkan.

Di tengah-tengah game aku ikutan main dan melempar. Tentu saja hasil yang diperoleh lebih banyak dari lemparan Kemi (heheehe), dan Kemi dengan antusias dengan bersemangat melempar-lempar bola untuk mendapatkan jumlah botol yang jatuh lebih banyak. Kudekati Kemi dan kubilang “abang harusnya baca Basmallah, minta pertolongan Allah biar bisa kena sasarannya banyak”. Oh iy, Kemi menanggapi ucapanku kemudian dia membaca Basmallah dan melempar bolanya J

Beberapa kecerdasan yang didapat dari game ini antara lain kecerdasan jasmani/kinestetik, spiritual, logika matematik, dan emosional J