Pelukan Hangat Itu Menenangkanku…

Bismillah… 28 Januari 2017

Produktif merupakan suatu proses menghasilkan sesuatu yang bernilai. Bahkan berbicara atau berkomunikasi bisa dikatakan sebagai komunikasi produktif apabila apa yang keluar dari seseorang itu (baik suara maupun gestur tubuh dan mimic wajah) bisa membuat perubahan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Suara yang dimaksud disini bisa kata-kata yang positif ataupun nada atau intonasi yang sesuai dengan konteks yang dibicarakan sesuai dengan etika sopan santun. Sedangkan gestur tubuh dan mimic wajah misalnya dengan senyuman, belaian dan sentuhan yang menenangkan.

Hari ini, selesai kunjungan beberapa orang teman kami ke rumah, anak kami Kemi (20 bulan) yang sedang tidak fit karena flu dan batuk menangis dengan berteriak semenjak teman-teman kami keluar dari pintu rumah ketika pamitan pulang sampai mereka menghilang dari penglihatan kami. Kemi berteriak-teriak agar mereka tidak pulang dan masih ingin main, padahal kondisinya juga sudah mengantuk dikarenakan dari pagi sampai sore itu belum ada tidur.

Sering sekali ketika seperti itu dan Kemi tidak bisa dibujuk-bujuk aku kehilangan kontrol, seperti nada suara yang meninggi dan bola mata yang membesar agar dia mau diam. Tetapi kali ini aku mencoba untuk bertahan dan bersabar menghadapi tangisannya yang tak kunjung reda.

Kupeluk dia dengan menghilangkan emosi yang ada di dalam diriku, mencoba menyelami dan memahami kondisinya saat itu sambil mengusap-ngusap kepalanya. Alhamdulillah Kemi sedikit tenang. Ternyata walau perlakuan sama tetapi hati saya selaku pemeluknya tidak tenang dan emosi anak tetap saja akan merasakannya. Setelah sedikit tenang aku mulai mengajaknya mengobrol, tetapi dengan tema yang lain bukan mengenai “kenapa dia menangisa dan mau apa”. Aku mencoba mengobrol dengannya mengenai semut karena dia suka dengan hewan dan pas waktu itu ada semut melintas di dekat kakinya. Alhamdulillah Kemi merespon dan mulai mengobrol kembali dengan bertanya-tanya dan “memberi info” kepadaku.

Poin penting yang kudapat saat itu adalah ketika Kemi menangis dengan berteriak-teriak dan tidak bisa (sedang tidak mau) mendengarkan kata-kataku, aku sebagai umi nya yang harus tetap sabar meluaskan dan melapangkan hati untuk tetap tenang dan tersenyum menunggu waktu jeda kapan Kemi siap untuk mendengarkan tanpa aku harus ikutan “rewel”. Terkadang anak hanya butuh untuk dibelai dan dipeluk hangat tanpa kita harus berkata dengan rentetan kata-kata yang mungkin di usia nya saat ini belum begitu memahami rentetan kata-kata panjang tanpa jeda itu…

Wallahualam…

img_20160805_161440_1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s