Menepati Janji….

Bismillah…5 Februari 2017

Janji adalah hutang yang harus dilunasi. Begitu juga janji seorang ayah kepada anak juga harus ditepati karena seyogianya ayah merupakan panutan awal bagi seorang anak dalam bersikap. Jika ayah yang berjanji senantiasa menepati janjinya maka anak bisa menilai bahwa ayahnya adalah seorang laki-laki (ayah) yang bertanggungjawab yang senantiasa apa yang diucapkan selaras dengan apa yang dilakukan. Sehingga kelak diharapkan anak juga akan menjadi sosok yang bertanggungjawab yang memegang janjinya, bukan hanya mengucap janji-janji belaka tanpa pembuktian. Karena seorang laki-laki dilihat dan dinilai salah satunya adalah bukti dari apa yang diucapkan bukan hanya sekedar ucapan kosong belaka laksana tong kosong nyaring bunyinya.

Minggu ini ayah sudah berjanji kepada Kemi untuk naik kuda benaran, bukan naik kuda ayah. Pagi-pagi minggu kami sudah berangkat ke pasar minggu yang berada di dekat kediaman kami Cigugur, Parongpong. Ketika sampai di lokasi sudah terlihat beberapa ekor kuda dan Kemi sudah menunjuk-nunjuk dan bilang naik…naik…. Tetapi sejak di rumah sudah membuat kesepakatan bersama bahwa ummi mencari beberapa barang dulu, kemudian kita makan baru setelah itu naik kuda.

Ketika di lokasi aku mengingatkan Kemi kembali mengenai perjanjian yang telah kami buat dan Kemi bilang iya. Kami pun masuk ke pasar minggu dan berburu beberapa barang kemudian makan. Ketika makan Kemi beberapa kali mengingatkan kami (ayah dan ummi) untuk naik kuda. Dan kami meminta Kemi untuk menghabiskan makanannya dulu baru kemudian naik kuda.

Di perjalanan atau di area pasar minggu banyak permainan untuk anak-anak usia Kemi seperti kereta api, kuda-kudaan putar, ayunan, tangkap bola dan sebagainya. Dan sempat Kemi menunjuk-nunjuk kereta api dan teriak ingin naik. Tapi karena dari awal sudah membuat kesepakatan akan naik kuda benaran bukan permainan seperti kereta api, kami tentu saja tidak mengabulkan dan memberi pengertian kepada Kemi. Setelah beberapa kali mengingatkan kesepakatan kami Kemipun mengiyakan.

Akhirnya sampailah ke tempat ‘parkiran’ kuda. Sebelum naik kami bertanya kembali kepada Kemi apakah mau naik kudanya dan Kemi mengiyakan. Kemudia aku pun melanjutkan kembali apakah berani naik sendiri tanpa ayah? Karena Kemikan sudah berjanji akan naik sendriri. Dan Kemi mengiyakan. Huff, sebenarnya agak deg-degan membiarkannya naik kuda sendiri tanpa didampingi ayahnya. Tetapi karena sudah membuat kesepakatan dan ingin Kemi belajar keseimbangan juga berani maka akupun juga belajar berani. Yup belajar berani membiarkan Kemi naik kuda sendiri 😀

Setelah selesai dan Kemi turun dari kuda, satu kata yang dia ucapkan ketika kugendong turun dari kuda adalah “tacuuuut’ sambil menggerakkan kedua tangan seperti orang kedinginan. Akupun kaget. Wow ternyata walau takut dia tidak bersuara seperti menangisa minta turun tetapi terus saja di atas kuda sampai selesai. Akupun langsung merespon dengan ucapan walaupun begitu Kemi berani lho… berani naik kuda sendiri.. Beraniiii sambil mengepalkan tangan ke atas. Dan Kemi malah mengikuti perkataan dan gerakan tanganku. Beraniiii … 😀

Wallahualam…

img_20170205_094216_hdr

Menempel Dinosaurus…

Bismillah…. 3 Februari 2017

Usia 21 bulan merupakan usia di mana anak selalu senang untuk bermain terutama ketika ditemani oleh ayah umminya. Ketika proses bermain itulah anak akan belajar dan menambah pengalaman serta value yang orang tuanya sisipkan di kegiatan itu. Terkadang, ketika proses bermain anak akan menemukan sesuatu yang baru, pengetahuan dan pengalaman yang baru bahkan value yang baru dikenalnya. Sebagai contoh, ketika anak bermain kuda-kudaan, mungkin saja anak akan belajar melatih motoric kasarnya dan melatih keseimbangan tubuh, selain itu anak juga berlatih mengucapkan terima kasih kepada ayahnya yang telah bersedia menjadi ‘kuda’ yang ditunggangi, bahkan boleh jadi ketika anak terjatuh anak akan belajar rasa sakit.

Di keluarga kecil kami bermain yang sering kami lakukan adalah bermain bersama buku. Seperti hari ini, seharian cuaca mendung disertai hujan yang tak henti-hentinya turun (semoga hujan yang turun membawa manfaat..) jadi kami memanfaatkan waktu maghrib sampai isya dengan bermain bersama buku. Kami mempersilakan Kemi untuk memilih buku yang akan menemaninya bermain dan Kemi memilih buku tempel-tempel dinosaurus.

Ummi bertugas menggunting gambar yang akan ditempel, ayah memandu Kemi, dan Kemi bertugas mengeksekusi (menempel) di bukunya. Sambil menempel ayah juga memperkenalkan jenis-jenis dinosaurus yang tertera di bukunya. Misalnya dinosaurus berleher panjang, dinosaurus yang makan tumbuhan, dinosaurus yang giginya tajam, dinosaurus terbang bahkan juga mengenalkan rumput dan pohon yang terdapat di gambar.

Melalui kegiatan seperti itu dengan ditemani ayah ummi serta komunikasi yang produktif, Kemi akan belajar dan menjadi tahu dengan cara yang menyenangkan. Apabila seseorang mengalami pengalaman yang menyenangkan makan akan lebih mudah baginya memasukkan pengetahuan apa saja yang disipkan kepadanya.

Bagi seorang anak seusia Kemi, tidak ada yang namanya istilah belajar. Yang ada adalah bermain. Tinggal bagaimana kita selaku orang tuanya menyisipkan pengetahuan, pengalaman serta value ke dalam kegiatan yang sedang dilakukannya. Bahkan kegiatan bersama antara anak dan orangtua akan menambah kedekatan serta kasih saying antara anak kepada orang tua dan sebaliknya.

Wallahualam….

IMG_20170209_132604_HDR.jpg