Review: The Read Aloud Handbook

Judul: The Read Aloud Handbook edisi ke 7

Penulis: Jim Trelease

Penerbit: Naura

Pertama kali melihat sekilas judul dan sampul buku ini yang terpikir olehku adalah buku ini berkisah mengenai pengalaman penulis membacakan buat anak-anaknya, kiat-kiatnya dan sebagainya. Ternyata baru beberapa halaman membaca buku ini pembaca akan mendapati bahwa isi buku ini lebih dari sekedar pengalaman dan triks membacakan buat anak. Buku ini membahas secara komprehensif mengenai keluarga serta pendidikan yang benang merahnya mengarah kepada kegiatan membaca.

Buku ini terdiri atas 10 Bab yang akan mengajak para pembaca menikmati setiap alur tulisan penulis yang sangat apik. Bukan sekedar opini yang dibangun oleh Jim, tetapi pembaca juga disuguhkan bukti dan data yang didapat penulis dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan. Selain itu, di buku ini juga diberikaan judul-judul buku bacaan yang bisa dibacakan kepada anak sesuai usia serta diberikan catatan kaki yang berisi sumber yang memperkuat opini penulis.

Bab 1 berisi mengenai latar belakang mengapa harus membacakan cerita. Di sini juga menyangkut masalah pendidikan serta studi internasional yang berkutat tentang membaca. Ada banyak alasan ketika harus membacakan buku kepada anak-anak kita, antara lain: memberikan kepastian, menghibur, menjalin ikatan, memberi informasi atau penjelsan, membangkitkan rasa ingin tahu, memberi inspirasi, membangun kosakata, mengkondisikan otak si anak untuk mengasosiasikan membaca dengan kebahagiaan, menciptakan informasi yang berfungsi sebagai latar belakang, dan lain-lain (bisa dibaca di bab 1 ini, hehehe)

Di sini kita juga akan disuguhkan 2 fakta mengenai membaca, yaitu (1) manusia itu suka hal yang menyenangkan; (2) membaca adalah suatu keahlian yang didapat perlahan-lahan. Kita bisa membuat anak suka membaca jika membaca adalah hal menyenangkan bagi mereka. Dan bagaimana caranya? Kita para orang tua yang harus membuatnya menjadi pengalaman yang menyenangkan. Setelah anak-anak suka membaca atau dibacakan apakah berhenti sampai disitu? Ternyata tidak, kebiasaan tersebut bahkan harus senantiasa dipupuk hingga mereka memasuki jenjang sekolah atas karena membaca merupakan suatu bentuk keahlian dan keahlian terbentuk dari kebaisaan yang terus menerus dilakukan.

Penasaran negara mana yang merupakan negara-negara terbaik menurut studi Internasional dalam hal literasi? Di sini dijabarkan beberapa negara yang memperoleh predikat teratas seperti Finlandia, Amerika, Swedia, dan Prancis. Selain itu penulis juga menjabarkan bagaimana perlakuan di tiap-tiap negara (terutama Finlandia) terhadap anak-anak dalam hal membaca.

Bab kedua membahas mengenai waktu yang tepat memulai dan mengakhiri membacakan kepada anak. Pada bab ini juga dibahas manfaat membacakan nyaring kepada anak-anak spesial dan diceritakan dengan sangat menyentuh dan bersemangat kisah nyata dari keberhasilan salah satu orang tua yang membacakan nyaring kepada salah satu anaknya yang lahir dengan kerusakan kromosom. Membacakan nyaring juga sangat bermanfaat bagi anak ketika memasuki usia sekolah mereka, terutama pada kekayaan kosakata  untuk menunjang pemahaman mereka terhadap semua yang diajarkan di sekolah. Ada triks dan tips yang diberikan Jim dibukunya untuk menarik minat anak terhadap membaca, antara lain 3B, yaitu book (buku), book basket (keranjang buku), dan bed lamp (lampu tidur).

Bab 3 membahas mengenai tahapan membacakan cerita. Pada usia anak hingga 4 bulan ternyata tidak masalah buku atau tulisan apa saja yang kita bacakan kepada anak, dengan syarat kita (orang tua) yang membacakan nyaring, maka mereka akan tertarik. Untuk anak di tahun pertama, buku yang cocok dibacakan kepada mereka sebaiknya buku-buku yang menstimulasi penglihatan dan pendengarannya, yaitu buku- buku bergambar penuh dengan warna-warna cerah dan bunyi-bunyi yang menyenangkan untuk menarik perhatian bayi kita. Di saat usia anak yang sudah bisa memberikan feed back berupa ‘minta dibacakan’ maka akan ada fenomena immersion (pengulangan). Immersion merupakan salah satu kegiatan anak dalam memahami kosakata-kosakata baru yang mereka dengar. Perkembangan teknologi dewasa ini juga menghapiri buku, di mana dewasa ini banyak bermunculan audiobook, yang bisa menjadi pendamping tambahan anak dalam hal membaca. Menjadi pendamping bukan pengganti, karena pembaca terbaik bagi anak adalah orang tua mereka sendiri.

Bab 4 membahas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam membaca nyaring. Berlanjut ke bab 5 yang membahas mengenai membaca dalam hati yang merupakan mitra/patner membaca nyaring. Tentu saja ketika anak terbiasa dibacakan nyaring dan sudah bisa membaca sendiri, kita bisa melihat progresnya apakah anak sudah cinta dengan membaca atau tidak. Kita bisa melihatnya dengan kegiatan anak yang tetap membaca sendiri di ragam aktivitasnya. Salah satu kalimat yang bisa saya simpulkan dan merupakan bagian yang sangat saya suka adalah kita akan tau mana yang termasuk buku ‘sampah’ jika kita sudah membaca banyak buku dan menemukan buku yang bagus. Ada yang suka baca komik? Di sini juga dibahas bahwa komik merupakan salah satu batu loncatan bagi anak untuk menjadi pembaca handal di kemudian hari lho J

Bab 6 membahas mengenai pengaruh buku di rumah, sekolah dan perpustakaan. Di bab ini dibahas korelasi banyaknya jumlah buku yang ada di rumah dengan minat membaca, kenaikan nilai sains, dan belajar anak. Era digital yang telah banyak mengganti media cetak dengan e-book membuat perpustakaan juga mengganti buku-buku mereka dengan e-book dan layanan internet untuk menarik pengunjung, terutama pengunjung muda. Walau e book terkesan praktis dan lebih murah dibanding cetak, tetapi berdasarkan penelitian, seseorang yang membaca melalui buku cetak akan lebih mudah mengingat termasuk letak/posisi kalimat dibanding jika membaca melalui ebook.

Bab 7 masih mengenai tentang digital, yaitu membahas pembelajaran digital apakah berita baik dan buruk? Di bab ini bahasan yang menarik mengenai para eksekutif dan teknisi dari perusahaan teknologi seperti Apple, Yahoo, dan Google yang menyekolahkan anak-anak mereka yang usiadasar ke sekolah tanpa teknologi, tetapi mereka memilih sekolah yang berkutat dengan pembelajaran dan kreativitas, tanpa gawai teknologi.

Bab 8 membahas mengenai tv, audio, dan teknologi merugikan atau membantu kemampuan membaca. Secara garis besar, di bab ini dibahas bagaimana tv dan teknologi yang bermasalah bukan pada kontennya tetapi pada apa yang tidak dilakukan anak ketika mereka hanya menatap layar yang ada di depan mereka. Pembatasan layar bagi anak-anak sangat diperlukan untuk mengkondisikan mereka. Di sini juga para orang tua sedikit disentil bahwa mainan yang paling bermanfaat bagi seorang anak adalah mainan yang mengharuskan anak beraktivitas. Semakin banyak mereka menggunakan pikiran dan tubuh mereka untuk melakukan sesuatu, semakin banyak yang mereka pelajaari.

Bab 9 membahas mengenai ayah. Bagaimana seharusnya seorang ayah mengambil peran dalam proses tumbuh kembang anak. Dan bagaimana pengaruhnya bagi perkembangan jiwa emosional dan kecerdasan anak.

Bab 10 membahas mengenai perjalanan membaca seorang anak hiper. Siapakah itu? Penulis, yaitu Jim Trelease J

Buku yang sangat luar biasa, wajib dibaca seluruh orang tua maupun pendidik 😀

The Read-Aloud Handbook

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s