Habis Gelap Terbitlah Terang… :)

Bismillah… Desember 2017

Hari ini bang Kemi ingin main nempel-nempel, jadinya umi kepikiran untuk membuat rumah dan pekarangan sekitarnya di buku gambarnya dengan cara menempelkan bentuk rumah, awan, matahari dan taman. Langkah awal adalah mengajak bang Kemi ke halaman mencari tanaman hijau dan mengguntingnya yang akan digunakan untuk ditempel di buku gambarnya. Kemi memilih rumput untuk digunting dan beberapa bunga liar yang ada di depan rumah.

Ketika sedang mneggunting rumput itulah, Kemi meminta bantuanku untuk mengambil wadah yang akan digunakan sebagai tempat penyimpanan tanaman yang telah diguntingnya. Sip, ini adalah salah satu kemandirian emosional yang teah dilatihkan beberapa waktu lalu, yaitu bisa mengekspresikan diri dalam artian bisa meminta sesuatu dengan jelas dan baik.

Beberapa saat setelah berhasil menggunting beberapa tanaman liar yang ada di depan rumah, kami pun hendak masuk ke dalam rumah dan alhamdulillah ketika aku hendak masuk setelah Kemi masuk duluan, kulihat sendal Kemi sudah disusun rapi sesuai tempat dan caranya. Wah alhamdulillah ternyata latihan kemandirian life skillnya mengenai kerapian sendal sudah bisa dipraktikkan walau tanpa komando dan dicontohkan ulang.

Tak ada yang tak mungkin jika memang kita sudah berikhtiyar dan berdoa terutama dalam hal membersamai anak-anak melatih kemandirian mereka. Pada awalnya memang rasanya akan berat sekali ketika kita ingin anak-anak bisa mandiri dalam hal-hal tertentu. Tetapi jika kita bersabar dan konsisten maka kita bisa memetik hasilnya dan rasanya akan sangat luar biasa sekali menyenangkan… J

Iklan

Okey, Life Skill Menyimpan Sendal Nih :)

Bismillah… Desember 2017

Hari ini masih dengan latihan kemandirian life skill bang Kemi, yaitu meletakkan dan merapikan sendal di tempat yang seharusnya. Sejak pagi hari ada beberapa kegiatan yang dilakukan dengan bang Kemi dalam rangka home education sekaligus untuk mengisi portofolionya. Dimulai dengan bermain ‘sekolah-sekolahan’ di mana bang Kemi merequest ingin belajar huruf0huruf. Belajar di sini sangat universal, bukan seperti yang sering terjadi di ruang-ruang kelas sekolah formal tetapi di sini kami belajar sambil mencocokkan bunyi huruf diselingi dengan nyanyian, cerita dan lain-lain (yaaaah namanya aja batita jadi memang tidak bertujuan harus bisa tetapi lebih kepada proses), hehehe.

Permainan kami selanjutnya adalah bermain dengan warna tetapi biasanya pakai kuas untuk kali ini aku menggantinya dengan potongan wortel, jadi seakan-akan kayak stempel gitu, hehehe. Dari warna-warna primer (merah, kuning dan biru) kita campur-campur sehingga menghasilkan warna baru seperti toska dan ungu. Nah karena main dengan warna otomatis tangan bang Kemi juga kena cipratan-cipratan warna sehingga ketika selesai bermain harus dibersihkan.

Kami membersihkan tangan kami di kran yang terdapat di teras rumah. Jadi otomatis kami harus memakai sendal. Selesai mencuci tangan, ketika hendak masuk rumah. Hampir sajaKemi menaikkan sendalnya ke depan pintu tetapi seeeet kayak yang punya rem kakinya, langsung berhenti dan memutar balik dan menyimpan sendalnya di tempat yang seharusnya. Hehehe

Alhamdulillah untuk life skill menyimpan dan merapikan sendal ini mungkin cukup sampai hari ini saja laporannya tetapi untuk latihan dan habitnya tetap senantiasa dijalankan seterusnya. J Good job son… J

Yuks Rapikan Sendalnya… :)

Bismillah… Desember 2017

Hari ini memulai latihan kemandirian abang Kemi di ranah life skillnya. Yang dipilih adalah latihan menyimpan sendalnya dengan rapi dan benar d tempat yang seharusnya. Sebenarnya sounding dan pencontohan life skill satu ini sudah dari beberapa waktu lalu tapi masih belum menjadi target yang harus dikuasai Kemi. Nah, bertepatan dengan tugas di kelasbunda sayang kali ini dengan tema melatih kemandirian, maka kurasa tepat untuk menjadikan latihan sebagai salah satu target kemandirian yang harus dikuasai oleh bang Kemi.

Hari ini di pagi hari selesai Kemi bermain di luar, seperti sebelum-sebelumnya dia langsung melepas sendal di depan pintu dan melepas sekena hatinya. Ups, langsung akupun memberi komando di depan pintu, wkwkwkw. Kuingatkan Kemi bagaimana seharusnya dia menyimpan sendal. Oooh iya, itu jawaban singkatnya diikuti dengan memperbaiki di mana dan bagaimana seharusnya sendalnya berada.

Ketika siang hari masih berlanjut dengan adegan yang sama dengan pagi hari tetapi belum selesai kuingatkan Kemi langsung bilang oh iya mi sendalnya dan langsung diperbaiki lagi -_-“

Nah, kejadian sangat menarik terjadi di sore hari ketika kami selesai bermain di halaman, kami masuk ke rumah bersamaan. Ketika kulepas dan kurapikan sendal di mana seharusnya berada, Kemi tanpa dikomando langsung mengikuti apa yang kulakukan. Dan ayahnya yang melihat adegan tersebut langsung memberikan rewadr ke bang Kemi dengan ucapan “waaaah alhamdulillah bagus bang, abang hebat ternyata bisa menyimpan sendalnya dengan rapi”.  Dan Kemi pun tertawa riang mendengar reward kata-kata dari ayahnya ^_^

Alhamdulillah semoga ini bisa menjadi habitmu ya nak… Sholih selalu… J

Puncak Latihan Kemandirian Emosional :)

Bismillah… Desember 2017

Alhamdulillah banyak progress yang sudah terlihat dari bang Kemi salah satunya perihal kemandirian emosionalnya. Sebagian besar ketika Kemi ingin mengungkapkan atau menginginkan sesuatu dia bisa lebih sabar dalam mengutarakan, tidak terlalu tergesa-gesa, meminimalisir rengekan dan tangisan serta dengan raut wajah yang lebih baik.

Walaupun sekali dua kali masih ada yang belum sesuai harapan, menurutku itu adalah hal yang wajar mengingat usianya baru menginjak 2 tahun 7 bulan. Sehingga latihan kemandirian ini tetap akan terus berlanjut walaupun tidak dilaporkan secara tertulis karena diharapkan akan menjadi habit untuk seterusnya. Hal tersebut bisa membawa dampak yang positif baik bagi anaknya sendiri maupun buatku sebagai emaknya, karena jujur ketika sulungku bisa mengendalikan emosinya dalam bertutur aku ikut termotivasi dan bisa meredakan amarah emosiku sehingga aku tetap bisa menjaga ‘kewarasanku’ sebagai seorang ibu 😀

Bismillah, untuk selanjutnya aku akan memulai melatih kemandirian life skill nya yaitu mengenai menyimpan sendalnya sendiri di tempat yang seharusnya dengan benar dan rapi. Biasanya Kemi ketika mau masuk rumah dengan otomatis membuka sendalnya bergelimpangan di depan pintu. Padahal sudah berulang kali sudah diingatkan untuk menyimpannya dengan rapi di teras sebelum pintu masuk.

Tidak ada yang tak mungkin jika kita mau berikhtiyar dan berdoa terutama dalam melatih kemandirian anak. Kunci yang dibutuhkan selain itu adalah kekonsistenan dan kesabaran tingkat tinggi, ehehehe. Okey cukup untuk latihan kemandirian emosional Kemi terutama dalam hal menyampaikan keinginan, gagasan maupun pendapat. Semoga senantiasa sholih ya buat bang Kemi dan dede Alfath J

Melatih Kemandirian Emosional (4)

Bismillah… Desember 2017

Melatih kemandirian emosional Kemi terus berlanjut. Hari ini tidak seperti biasanya bang Kemi tampak lemas setelah mandi sore. Tidak seceria biasanya, diajak main keluar tidak mau, ditawarin cemilan kesukaan tidak mau, diajak ngobrol hanya bilang iya atau nggak atau bahkan hanya berupa nggukan dan gelengan. Aku pun jadi cemas dan sudah mikir yang aneh-aneh.

Akupun mencoba untuk mendekati Kemi dan bertanya ada apa gerangan tapi hasilnya nihil. Tidak ada jawaban yang jelas dari Kemi. Sampai kemudian ayah turun tangan dan mencoba mencari tahu apa yang gerangan sedang terjadi. Tetapi ternyata sama hasilnya nihil, Kemi tetap tidak memberikan jawaban yang memmuaskan.

Kuperhatikan dengan seksama dan kucoba analisis melalui bahasa tubuh Kemi kira-kira apa yang sedang terjadi. Hmmm setelah beberapa lama kuperhatikan, kuanalisis dan kutarik kesimpulan “Kemi kemungkinan besar mau BAB”. Kudekati dia dan kutanya baik-baik apakah ada yang sakit. Dia menjawab tidak, dia ngantuk. Tetapi ketika diajak ke kamar untuk tidur dia tidak mau. Kucoba pertanyaan yang lain, apakah dia mau BAB. Kemi hanya diam saja dengan keringat semakin mengucur dari kepalanya. Nah, aha itu adalah tanda-tanda Kemi mau BAB ketika keringatnya mengucur seperti itu. Langsung kubilang bahwa dia harus ke toilet sekarang karena dia harus BAB.

Tiba-tiba Kemi hanya nangis dan meronta-ronta tidak mau ke toilet dan tidak mau BAB, ayahpun langsung turun tangan dan mengajak Kemi untuk ke toilet teapi dia tetap tidak mau dan terus menangis. Kemudian kubilang padanya bahwa jika dia BAB di celana maka celana kesukaan yang sedang dipakainya itu tidak bisa dipakai lagi malam ini karena akan bau. Kemi diam sejenak dan berkata bahwa dia ingin ke toilet. Case close setelah beberapa saat di toilet akhirnya urusan BAB kelar dan setelah itu Kemi kembali ceria lagi         -_-“

 

Melatih Kemandirian Emosional (3)

Bismillah… Desember 2017

Masih dengan melatih kemandirian emosional, hari ini ketika aku sedang berkutat di dapur menyelesaikan urusan domestik, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari kamar. Itu adalah suara Kemi, tumben dia bangun tidur pikirku. Biasanya dia langsung berlari ke dapur menghampiriku atau ayahnya.

Akupun bergegas ke kamar dan kulihat Kemi sudah keluar dari kamar masih dengan menangis. Kutanya dia tetapi yang terdengar adalah jawabannya diiringi dengan tangisan yang membuatku belum paham maksud jawabannya. Aku mencoba menenangkannya dan kuulangi lagi pertanyaanku sambil kubilang bahwa dia harus menjawab dengan betul dan suara yang jelas agar aku bisa memahami maksudnya. Akhirnya dia mencoba menahan tangisnya dan menata kalimatnya.

Dia mengajakku ke kamar dan menunjukkan ‘pintu’ kelambu masih terbuka dan berkata bahwa dia tidak bisa menutup kelambunya, dia merasa susah untuk menutupnya. Oooh, ternyata ini yang membuatnya menangis. Kujawab bahwa tidak apa-apa, umi yang akan membantunya menutup pintu kelambu. Kemi pun tersenyum dan berkata “iya ya Mi ditutup agar nyamuk ga masuk dan ga gigit dedek”. ^_^

Kuingatkan Kemi kembali bahwa ketika dia ingin menyampaikan sesuatu dia harus mengatakannya dengan jelas agar orang lain paham atau tau apa yang disampaikannya. J

Terkadang, seorang anak menangis untuk meluapkan perasaan kesal ataupun marah yang ketika ingin menyampaikan kepada orang lain dia tidak mampu untuk mengatakannya. Kita sebagai orang dewasa yang harus mencoba untuk menenangkan dan memahami maksud yang ingin disampaikan olehnya dan membimbing agar mereka bisa menyampaikan maksudnya dengan baik dan jelas.

Melatih Kemandirian Emosional (2)

Bismillah… Desember 2017

Masih dengan melatih kemandirian emosional bang Kemi. Kali ini ketika beres maghrib dan aku sedang menyusui adiknya Alfath, Kemi tiba-tiba membawa salah satu buku yang ingin dilahapnya malam ini menjelang tidur. Tiba-tiba dia melipir merepet ke arahku dan dengan rengekan ga jelas dia ingin baca buku itu.

Oke. Itu jawabku dan kuambilkan roket pen yang bisa mensuarakan buku tersebut semabri menungguku selesai menyusui adiknya. Kemi tetap merengek bahkan menangis ga jelas dan menolak roket pen yang kuberikan. Aku bertanya dan mengingatkan kepadanya kalau bicara ahrus baik-baik agar umi dan ayah paham. Sambil sesenggukan Kemi menahan tangisnya dan mulai bicara bahwa dia tidak mau pakai roket pen tapi mau dibacakan. Hmmm, aku pun menjelaskan kembali bahwa aku sedang menyusui adiknya dan akan membacakannya setelah adiknya tidur. Dan aku mendelegasikan membacanya kepada ayahnya.

Bukan senang, Kemi malah menangis ga jelas. Dia meminta aku yang harus membacakannya. Aku dan suami diam saja memperhatikan tingkah abang Kemi malam ini. Karena tidak direspon, Kemi pun menghentikan tangisnya dan berkata kembali bahwa dia ingin aku yang membacakan bukunya.

Alhamdulillah, Alfath sudah selesai disusui dan tertidur. Akhirnya aku mengambil buku yang dimaksud Kemi dan mulai membacakan. Tetapi Kemi kembali merengek dan karena aku tidak merespon akhirnya dia diam sesaat dan berbicara dengan baik. Dia menjelaskan bahwa dia ingin dibacakan sambil ditunjuk dengan jari kata per kata di dalam buku itu.

Oooh… oke isee. Akhirnya kegiatan malam inipun berjalan lancar dan Kemi alhamdulillah mulai memahami bahwa jika ingin meminta sesuatu dia harus menyampaikan dengan baik-baik agar orang lain paham apa yang dimaksudnya… J

Melatih Kemandirian Emosional (1)

Bismillah… Desember 2017

Hari ini aku memulai lebih intens melatih kemandirian emosional Kemi terutama dalam hal meminta dengan baik. Baik dalam hal intonasi, kejelasan penyampaian, hingga gestur tubuh dan mimik wajah. Sore ini kami ke salah satu swalayan yang ada di kota ini karena hendak mencari barang yang memang sedang diskon di sana, xixixi.

Beberapa saat setelah kami menyelesaikan acara belanja, kami pun keluar dan didapati di pintu keluar swalayan tersebut ada kerete otomatis yang bisa dinaiki anak-anak dengan membayar sepuluh ribu rupiah untuk beberapa putaran. Dengan beraneka tokoh kartun yang ada di kereta itu tentu saja menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk naik ke situ tidak terkecuali Kemi.

Ketika kami sedang menurunkan barang belanjaan kami di dekat kereta tersebut, tiba-tiba Kemi merengek nggak jelas walaupun belum sampai tahap menangis untuk bisa naik kereta. Kami sebenarnya dari awal sudah paham tetapi kami karena ingin melatihnya untuk bisa mengendalikan emosi maka kami bertanya apa yang diinginkan abang.

Pada awalnya Kemi tetap saja seperti merengek sambil cemberut dengan menatap kereta tersebut dan sesekali menarik baju ayahnya. Kami tetap bertanya ke Kemi apa yang dia inginkan. Aku mengingatkan Kemi bahwa dia tidak akan mendapatkan apapun jika dia berbicara seperti itu karena orang lain tidak akan paham apa yang diinginkan.

Akhirnya Kemi diam sejenak dan menatap kami dengan tersenyum agak dipaksa (wkwkwk) dia mengatur kalimatnya dengan jelas tanpa rengekan bahwa dia ingin naik kereta. Kami pun mengiyakan dengan perjanjian ketika kami mengatakan udahan mainnya dia harus sudahi naik keretanya dan dia menyanggupi.

Alhamdulillah sebelum kami meminta Kemi turun dari kereta dia terlebih dahulu meminta berhenti karena udahan aja mainnya. Kami tanya lagi apa sudah saja mainnya dan dia mengiyakan. Yasudah, akhirnya kami pun segera pulang dari pusat perbelanjaan. Orang tuanya senang anak-anak juga happy J

 

Ujung Kemandirian Tahap 1 :)

Bismillah… Desember 2017

Alhamdulillah, masih membersamai Kemi melatih kemandirian terutama mengenai menyimpan mainannya ke tempat semula atau tempat yang telah disediakan. Hari ini aku melihat yang berbeda dari Kemi. Ketika selesai main dengan bukunya Kemi langsung membereskan kembali buku yang telah diambilnya di rak dan ngotot ingin menyimpannya sendiri di rak di mana dia mengambilnya. Ku suruh dia letakkan saja di meja yang telah disediakan tetapi dia maunya di rak saja. Yasudah akhirnya ku iyakan dan kulihatkan saja bagaimana usahanya.

Beberapa saat berlalu tetap saja Kemi belum bisa memasukkan kembali bukunya ke rak karena memang agak susah untuk anak usia Kemi menyusun kembali buku ke dalam rak yang isinya full berjejer, perlu kekuatan ekstra wkwkwk. Akhirnya Kemi menatapku dan meminta bantuanku untuk memasukkan bukunya ke rak saat itu juga. Kuberikan senyumku dan kuhampiri dia sambil kemudian kuusap kepalanya dan berkata “okeeee sayang umi, umi bantu ya memasukkan bukunya ke rak”. Dan dia pun mengangguk sambil memberikan senyum manisnya kepadaku.

Huff, alhamdulillah untuk tahap kemandirian ini kurasa cukup sekian dijadikan role model walaupun tetap kemandirian beberes ini terurs dijalankan. Untuk selanjutnya aku akan membersamai dengan melatih kemandirian yang lain buat Kemi yaitu kemandirian di ranah emosional. Aku berharap Kemi bisa mengutarakan dengan baik apa yang diinginkannya kepada aku maupun kepada ayahnya, tanpa harus ada rengekan ataupun teriak-teriak tidak jelas ^_^

Masih Tentang Buku… :)

Bismillah… Desember 2017

Hari ini selesai bermain dengan buku-bukunya tanpa diduga alhamdulillah bang Kemi menyimpan buku-bukunya di atas meja yang telah disediakan. Awalnya selesai dia main, Kemi melipir dulu ke ruangan lain, kukira dia lupa untuk menyimpan kembali bukunya ke meja yang telah disediakan. Tetapi alhamdulillah sebelum mulutku kembali terbuka untuk memamnggilnya, Kemi sudah kembali ke tempat buku-bukunya dan memungut satu persatu untuk disimpan di meja sementara.

Alhamdulillah beberapa hari belajar bersama untuk senantiasa menyimpan barang yang sudah diambil ke tempat semula mulai berbuah hasil. Seperti pepatah bahwa membimbing anak usia seperti Kemi bagaikan mengukir di atas batu. Walau sulit tapi jika dilakukan terus menerus akan berbekas akhirnya.

Okey, cukup untuk hari ini InsyaAllah untuk kegiatan selanjutnya tetap semangat dalam membersamai Kemi dan Alfath… J