Go To Library… :)

Bismillah… Desember 2017

Weekend kali ini kami pergi ke perpustakaan daerah karena sudah beberapa pekan terlewat. Abang Kemi tampak antusias ketika kami bilang bahwa kita akan ke perpustakaan. Tepat pukul 10 kami nyampai di sana dan alhamdulillah ketika di sana pas banget ada kegiatan mendongeng oleh kak Didi yang diadakan oleh perpus.

Ketika masuk ke ruang anak, Kemi langsung menuju rak yang berisi buku-buku dan memilih buku mengenai dinosaurus karena memang dia hobi dengan buku-buku yang membahas tentang dino atau hewan purba.

Beberapa saat kemudian kegiatan mendongeng di ruangan anak tersebut di mulai tetapi Kemi hanya mengerling sejenak kemudian asyik menatap kembali buku yang dipilihnya. Pada saat kak Didi mengajukan beberapa pertanyaan buat anak-anak yang hadir di kegiatan tersebut, kami menyuruh Kemi untuk menjawab tetapi Kemi ternyata tidak mau dan malah membalikkan badan dari kegiatan mendongeng -_-‘

Yasudahlah mungkin Kemi sedang asyik dengan buku yang dipegangnya dan aku yang memperhatikan dengan seksama cara mendongeng kak Didi agar bisa kuterapkan ke Kemi dan Alfath ketika di rumah, karena biasanya aku  berkisah ke mereka dengan caraku sendiri yang memang belum ada skill mendongeng, heheh ^_^”

Ketika Kemi selesai “membaca” (tepatnya membaca gambar, hehehe) Kemi mengajakku keluar ruangan anak untuk mencari ayahnya yang memang ada di ruangan dewasa. Akhirnya akupun mengikuti Kemi untuk keluar ruangan anak. Sebelum keluar kulihat buku yang telah dibaca Kemi tergeletak di lantai dan Kemi sudah berada keluar ruangan. Hmmm akhirnya aku pinggirkan buku tersebut ke rak yang aku tidak yakin apakah itu atau bukan rak tempat Kemi sebelumnya mengambil -_-“

Aku menghampiri Kemi yang sudah menunggu dan kembali kami mengobrol ringan sembari berjalan ke ruangan di mana ayah berada. Kembali kuingatkan Kemi bahwa walaupun bukan di rumah, jika mengambil barang harus dikembalikan lagi ke tempat semula. Jika Kemi tidak bisa, boleh meminta bantuan dengan siapa saja termasuk ke umi dan ayah J

Iklan

Balok-balok …:)

Bismillah… Desember 2017

Latihan kemandirian Kemi hari ini terus berlanjut, masih dengan tema ‘beres-beres’. Dan hari ini yang teramati adalah mainan baloknya. Sudah beberapa hari ini anak bujang seperti tidak seceria biasanya. Bahkan disuruh untuk main keluar rumah pun tidak mau, padahal biasanya dia sangat antusias untuk bermain di luar rumah.

Ketika dia ingin main balok, awalnya dia hanya mengulik-nguliknya sambil gegoleran. Kemudian aku dan ayahnya mencoba membuat ‘menara’ tinggi dengan balok-baloknya. Beberapa saat kemudian dia mulai ikutan untuk menyusun balok-balok tersebut menjadi menara tinggi sambil ngikutin ayahnya menyebutkan huruf-huruf hijaiyah yang tertulis di tiap baloknya.

Alhamdulillah, akhirnya Kemi berhasil menyusun baloknya menjadi menara tinggi seperti apa yang ayahnya buat. Setelah selesai dengan baloknya Kemi langsung melipir ke rak bukunya dan mulai mengobrak abrik buku-bukunya. Aku kemudian mengingatkannya kembali untuk bersama-sama membereskan balok yang sudah dipakai. Tetapi Kemi tidak mau ikut andil dalam membereskannya. Hmmm aku mendekati Kemi dan mencoba mengobrol santai. Setelah beberapa saat akhirnya Kemi mau memasukkan balok-balok tersebut ke dalam kotaknya walaupun sambil meringis tanda masih tidak sukarela ^_^”

Yasudahlah, mungkin akan tiba waktunya ketika Kemi akan menjadikan beberes itu sebagai habit tanpa ada negosiasi terlebih dahulu. Sekarang yang terpenting terus memberikan teladan, berdoa dan tetap istiqomah membimbingnya melatih kemandiriannya J

 

Beberes Buku (1)

Bismillah… Desember 2017

Latihan kemandirian bang Kemi terus berlanjut, temanya masih dengan membereskan mainan sampai benar-benar menjadi habitnya. Kali ini fokus yang kuamati adalah ketika Kemi bermain dengan buku-bukunya. Sesuai dengan perjanjian, selesai main apa yang tidak pada tempatnya harus dikembalikan lagi. Nah, untuk buku karena Kemi belum bisa untuk memasukkan secara berdiri buku-buku ke tempatnya (rak) semula maka kusediakan meja yang akan digunakan sebagai tempat untuk menumpuk buku-buku yang telah digunakan oleh Kemi.

Awalnya memang terasa masih sangat sulit untuk membuat Kemi bisa menunaikan perjanjian beres-beres ini (menumpuk buku-buku yang telah digunakan di atas meja). Hari ini setelah selesai main dengan bukunya, Kemi langsung beralih ke mainan yang lain, kemudian kuingatkan dia untuk menumpuk bukunya di tempat yang telah disediakan. Awalnya dia ogah-ogahan tetapi kemudian dia mulai mengambil buku-bukunya untuk diletakkan di atas meja yang disediakan.

Beberapa saat kemudia kulihat ada beberapa buah buku yang masih terbuka dan tergeletak di lantai. Kutanya Kemi apa dia bisa menyimpan buku tersebut ke atas meja yang telah disediakan? Kemi menjawab bahwa itu bukan abang yang berantakin tapi ayah yang ngeluarin -_-“

Ups, ternyata harus ada yang dikoreksi di sini tata cara kami untuk membuat habit Kemi terhadap mainannya. Ketika kubilang ke Kemi bahwa ayah mungkin lupa menyimpannya dan kuminta dia untuk menolongku meletekkannya di meja, dia menolak dengan alasan itu ayah yang ngeluarin bukan dia. Ooowwwh salah satu PR buatku, karena setidaknya itu menunjukkan bahwa Kemi tidak akan mengerjakan tugas yang bukan merupakan kewajibannya di rumah ini -_-“

Salah satu hal juga yang harus diperbaiki adalah kami orang tuanya juga harus konsisten perihal habit beberes setelah apa yang kami gunakan dan ‘ringan tangan’ melakukan apa saja yang kami bisa tanpa harus mengatakan ini kewajiban si A ini kewajiban si B.

Okeyyy kita perbaiki dan mulai kembali ya bang… J

 

Lego… :)

Bismillah… November 2017

Hari pertama mendampingi abang Kemi belajar kemandirian. Yang pertama kupilih untuk kubiasakan adalah membereskan mainannya, baik itu mainannya berupa lego, boneka, maupun buku-buku. Sebenarnya semenjak Kemi sudah bisa duduk dan merangkak, kami sudah membiasakan Kemi untuk selalu membereskan barang-barang yang telah dipakainya untuk main, dan alhamdulillah ketika usia setahunan Kemi terbiasa menyimpan kembali apa yang sudah diambilnya ke tempat semula. Tetapi semenjak kami menetap sementara di Kalimantan menanti kelahiranku, kebiasaan tersebut terlewatkan sehingga kami harus mengulang kembali agar bisa menjadi habit untuk Kemi.

Hari ini Kemi memilih bermain dengan legonya. Selang beberapa saat dia selesai bermain, aku mengingatkannya untuk memasukkan lego yang telah dimainkannya ke dalam kotaknya. Tentu saja, seharusnya di usia dini seperti Kemi teladan sangat dibutuhkan. Tetapi karena aku sedang menyusui adiknya, aku mencoba menggunakan kata-kata saja dan ingin melihat efek yang dihasilkan dari kata-kata tanpa teladan.

Memang, kata-kata tanpa teladan tidak segera memberikan efek kepada Kemi. Dia malah guling-guling saja di kasur, sembari bilang ‘umi saja yang beresin’ -_-“ Aku kemudian bertanya, ‘legonya mainan siapa? Dia menjawab Kemi. Kemudian aku melanjutkan pertanyaan kembali, “trus, tadi yang mainin legonya siapa?”. Dia pun menjawab Kemi. Aku kemudian lanjut bertanya “nah, kalau begitu abang harus membereskannya juga, kan sebelumnya sudah janji jika selesai main harus segera dibereskan kembali.

Kemi tetap saja berguling santai di kasur main, kemudian bilang ‘Kemi sakit perut umi, ga bisa gerak’ Hmmm -_-“

Yasudah, aku meletakkan adiknya kemudian kuusap Kemi dan kupeluk sembari berkata “hayuks kita bereskan legonya, umi bantu deh”. Setelah aku berkata seperti itu, Kemi langsung bangun dan mulai memunguti legonya satu persatu. Belum beres semua lego dimasukkan ke kotaknya, Kemi bilang ke aku bahwa dia udah capek dan akupun menjawab iya sudah gak apa-apa kalau capek. Yang penting abang sudah ikut membereskannya. Terima kasih ya bang ujarku.

Huff, hari ini alhamdulillah masih sebatas keterpaksaan dan belum beres semua tapi aku percaya yang namanya habit akan terjadi jika terus berulang dilatih dan dibiasakan secara terus menerus… J

Melatih Kemandirian Kemi… :)

Bismillah… November 2017

Tantangan dalam membersamai anak-anak menjadi rasa tersendiri bagi setiap orang tua terutama ibu yang waktunya lebih lama berkutat bersama anak dibanding ayah. Salah satu momen yang bisa menjadi kegiatan yang menantang serta menguras emosi dan kesabaran ibu adalah bagaimana melatihkan kemandirian untuk anak terutama bagi anak yang masih berusia batita seperti Kemi (2,5 tahun).

Banyak hal yang inginku terapkan ke Kemi agar dia memiliki kemandirian atas banyak hal dikarenakan sekarang aku juga harus bisa berbagi peran dan waktu sebagai ibu Kemi sekaligus ibu Alfath (adik Kemi) yang masih berusia 4 bulan. Sehingga, untuk saat ini sangat membantu sekali jika Kemi memiliki berbagai macam kemandirian. Tetapi, aku juga tetap harus memperhatikan bagaimana perkembangan Kemi dan kemandirian apa saja yang memang harus dimiliki Kemi sesuai dengan umurnya sekarang.

Ada beberapa jenis kemandirian yang harus dimiliki oleh seseorang, tetapi untuk Kemi sekarang aku fokus untuk mengembangkan kemandiriannya di ranah life skill dan emosional. Kedua ranah kemandirian ini menurutku adalah yang terpenting untuk Kemi dan juga bisa berpengaruh sangat besar buatku saat ini. Ketika Kemi bisa mandiri di ranah keterampilan hidup maka hal itu akan sangat membantuku dalam segi waktu ketika aku harus berkutat dengan urusan domestik ataupun adiknya. Sedangkan ranah emosional aku rasa penting dan mendesak untuk saat ini agar Kemi bisa mengontrol dan mengenali emosinya sehingga berdampak juga pada ‘kewarasan”ku sebagai seorang ibu sekaligus istri. Karena jujur saja, ketika anak tantrum aku harus fokus untuk bisa mengamati mengenali dan memahami kondisi anak, tetapi akan menjadi masalah buatku jika ketika tantrum aku sedang berkutat dengan bayi yang juga sedang rewel. -_-

Beberapa list yang kemandirian yang ingin kudampingi Kemi dalam kegiatannya di saat ini antara lain:

  • membereskan mainan sendiri, minimal berpartisipasi ketika meminta bantuan membereskan mainannya
  • mengambil dan minum susu sendiri ketika dia ingin minum susu
  • makan menggunakan sendok
  • merapikan sendalnya ketika masuk rumah
  • melepas dan memasang sendiri celananya ketika pipis/BAB
  • mandi sendiri
  • gosok gigi sendiri
  • memakai baju sendiri

sedangkan untuk keterampilan di ranah emosional yang ingin kulatih antara lain:

  • mengutarakan apa yang ingin disampaikan melalui kata-kata (verbal)
  • mengenali emosi yang sedang menghampirinya dan tau apa yang menyebabkannya

 

Rencana latihan kemandirian di atas bersifat sepanjang waktu dan tak terbatas waktu. Ketika ada 1 kemandirian yang sudah menjadi habit, maka akan dilanjutkan ke list yang lain disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi.

 

Tak ada yang tak mungkin jika kita berdoa dan berikhtiyar. Anak seyogianya adalah sosok peniru ulung sehingga ketika kita ingin menanamkan atau mengajarkan kemandirian maka kita sebagai orang terdekatnya harus senantiasa bisa menjadi contoh dan teladan. Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam melatih kemandirian pada anak, dan keluarga adalah lingkungan terbesar bagi anak terutama bagi anak usia dini J

Hasil KomProd.. :)

Bismillah… November 2017

Alhamdulillah game level#1 komunikasi produktif telah selesai dilaksanakan, walaupun harapannya memang setelah menjalankan game ini terbangun kebiasaan untuk menerapkan apa yang telah dilakukan selama 10 hari berturut-turut khususnya mengenai komunikasi produktif ini.

Selama proses pembelajaran ‘materi’ ini banyak hal yang didapat, salah satunya bagaimana cara memperbaiki pola asuh terhadap anak, bagaimana saya sebagai emaknya memperbaiki cara komunikasi terhadap anak, baik secara verbal maupun non verbal.

Memahami perasaan anak dengan mencoba menempatkan diri berada di posisi anak membuat saya merasakan apa yang ingin saya terima ataupun yang tidak ingin saya dapatkan dari orang sekitar terutama orang terdekat. Ketika mood saya kurang bagus yang berefek pada emosi dan hendak ‘meledak’, maka tiba-tiba saya ingat akan game yang sedang dijalankan. Seolah-olah game ini menjadi pengingat saya bahwa saya ‘harus’ berlaku professional terhadap situasi apapun terutama ketika berhadapan dengan orang terdekat saya seperti anak-anak dan suami.

Game ini juga membawa perubahan kepada komunikasi saya terhadap suami. Jika sebelumnya saya agak cuek terhadap intonasi, jawaban yang sekenanya walaupun suami tidak mempermasalahkan, tetapi dengan adanya tantangan ini saya mencoba memperhalus Bahasa verbal, memperindah panggilan dan jawaban terhadap beliau, ‘mempercantik’ gestur wajah dan tubuh, dan hal-hal positif lain. Dan ternyata suami sangat merespon dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dan sejak itu juga suami mencoba menghindari hal-hal yang membuat saya tidak suka tanpa saya harus bilang berulang kali J

Komunikasi merupakan dasar pijakan serta pondasi awal terhadap suatu hubungan, baik itu hubungan dengan anak maupun suami, sehingga jika kita sudah menguasai dan mempraktikkan komunikasi produktif ini, insyaAllah ketentraman dan hubungan harmonis di rumah bisa terjadi.

 

Team Teaching.. :)

Bismillah… November 2017

Hari ini merupakan hari yang luar biasa buatku. Hmmm kenapa? Karena apa yang terjadi hari ini kupikir adalah hasil dari komunikasi yang terus-menerus kami perbaiki. Komunikasi bukan saja berupa Bahasa yang dikeluarkan melalui suara, tetapi juga bersifat non verbal melalui mimik wajah, gerakan tubuh, sentuhan sehingga dari hasil komunikasi tersebut menghasilkan sesuatu, seperti saling pengertian, memahami satu dengan yang lain, dan sebagainya.

Suamiku, ayah bagi anak-anakku (ups, anak kami maksudnya, hehhe) hari ini memberikanku kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang kuperoleh di bangku perkuliahan maupun di bangku rumah (di rumah mah ga ada bangku, kecuali bangkunya si Kemi,wkwkwk). Beliau yang berprofesi sebagai pendidik (pendidik ya bukan sekedar pengajar) di salah satu perguruan tinggi di kota Serang memberikanku kesempatan untuk memakai kelasnya agar aku bisa menyalurkan minat dan bakatku serta ilmuku buat orang lain. Tetapi bukan hanya diriku saja yang ‘dikontrak’ hari ini , bahkan suamiku juga ‘mengontrak’ timku untuk membantuku di kelas (siapa lagi coba timku kalau bukan Kemi dan Alfath, wkwkwkw).

MasyaAllah… Aku yang sedari kecil senang yang namanya berbagi ilmu di depan kelas sangat berbahagia ketika suamiku memberikan kesempatan tersebut. Padahal aku tidak pernah memintanya. Tau kenapa? Karena komunikasi. Walau secara Bahasa tidak aku tuturkan bahwa aku ingin sekali berbagi ilmu dengan khalayak ramai di ruang yang namanya kelas, tapi ternyata beliau memahamiku.

Bagaimana beliau paham? Karena beliau ‘mengamati’. Mengamati ketika sesi mengobrol, mengamati ketika aku beraktivitas sehari-hari bersama anak-anak, dan lain-lain. Penting sekali bagi pasangan untuk memahami pasangannya agar terciipta suasana yang kondusif di dalam rumah tangga. Walau sebenarnya bagi pasangan tidak ada salahnya untuk berbicara langsung apa yang diinginkan, tetapi sebagian besar wanita terkadang susah untuk mengatakan apa yang diinginkan. Untuk itulah sebagai pengganti Bahasa verbal digunakan Bahasa non verbal dan pasangan seyogianya bisa ‘mengartikan’ Bahasa non verbal pasangannya. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada salahnya untuk belajar.

Kembali ke kisahku pagi ini, hehehe. Mungkin sebagian akan berkata bahkan sudah ada yang berkata langsung kepadaku “mengapa tidak bekerja (mengajar)?”. Aku selalu senang saja jika ada orang yang bertanya seperti itu. Karena aku dengan jawaban yang hampir sama (entahlah jika beberapa tahun lagi ditanya seperti itu apakah jawabanku tetap sama, wkwkwk) akan menjawab belum saatnya. Kenapa? Karena yang membutuhkanku saat ini adalah anak-anak dan suamiku dibandingkan orang yang ada di luar sana. Ada kalanya bahkan ada yang menyayangkan sekolah tinggi yang kutempuh tetapi tidak digunakan untuk ditransfer ke orang lain. Hmmm ini juga salah satu pernyataan yang aku senang ketika ada orang yang melayangkannya kepadaku. Dengan senang hati akan kujawab bahwa tujuanku menempuh pendidikan yang utama adalah agar aku bisa mendampingi tumbuh kembang anak-anakku, bukan untuk mendapat selembar ijazah yang kemudian kugunakan wara wiri mencari penghasilan. Karena apa? Kalau kata suamiku itu bukan kewajibanku tetapi kewajibannya. Seberat apapun masalah yang berhubungan dengan kata ‘ekonomi’ itu adalah tanggungjawab seorang suami. Ketika iseng aku berkata bahwa aku hanya ingin membantunya, beliau malah menjawab umi memang harus membantu tetapi bukan dengan cara ikut-ikutan kerja di luar tetapi membantu dengan shalat dhuha, doa, dan mendidik anak-anak. MasyaAllah.. aku benar-benar terharu dan bangga dengan pemimpinku ini (untuk yang satu ini tiap orang bisa saja berbeda penilaian, hehehe).

Alhamdulillah,, walaupun aku tidak bekerja di ranah publik tetapi aku masih bisa berbagi ilmu yang aku miliki, bisa dengan berdiskusi bersama teman, melalui tulisan, dan bahkan seperti hari ini aku berbagi ilmu dengan mahasiswa suamiku. Mungkin inilah salah satu keuntungan jika memiliki pasangan yang jurusannya sama, jadi bisa saling melengkapi. Wkwkwk

Hari ini pertama kali aku berbagi ilmu di depan kelas terutama di depan mahasiswa karena sudah bertahun-tahun aku tidak berdiri di depan kelas besar untuk berbagi ilmu. Setiap harinya hingga saat ini aku terbiasa berbagi ilmu di depan kelas kecil di mana mahasiswanya hanya satu orang yaitu Kemi. Wkwkwk .

Rasanya luar biasa deg-degan, grogi, dan excited!! Wooow Alfath yang ada di gendonganku merupakan jurus ampuh untuk menghilangkan ke grogianku pagi ini. Setiap aku merasa jantungku berdetak hebat, seketika kupeluk saja Alfath yang memang ada di gendonganku. Ternyata mengajar sambil menggendong bayi itu luar biasa.. hormone-hormon seperti endorphin, dopamine, rasanya berkeluaran tiada henti sehingga proses pembelajaran terasa sangat menyenangkan bagiku (entahlah kalo menurut mahasiswa,xixixi).

Alhamdulillah luar biasa, hari ini ini aku bisa menyalurkan minat bakatku, bisa berbagi ilmu dengan orang lain dan yang terpenting aku tetap bersama anak-anakku. Justru itu poinnya, with my childs… J

Semoga aku senantiasa bisa mendampingi tumbuh kembang kalian nak hingga melewati masa-masa ‘kritis’ kalian karena masa-masa ini tak akan pernah berulang dan tak akan pernah sama… J

Perlakuan Sebelum Mengenalkan Mesjid :)

Bismillah… November 2017

Salah satu perintah yang berbeda bagi kaum laki-laki adalah keharusan untuk sholat berjamaah di masjid. Anak-anak kami semuanya adalah laki-laki dan itu berarti kami mempunyai kewajiban untuk membimbing mereka cinta dengan masjid, salah satunya untuk shalat berjamaah. Tetapi, tidak seperti kebanyakan orang tua yang lain, kami tidak dengan serta merta membawa anak-anak untuk ikut ayahnya ke masjid ketika waktu shalat tiba. Bagi kami, walaupun anak harus dekat dengan masjid teapi adab tetap diutamakan.

Untuk sampai ke tahap membiasakan anak dibawa ke masjid, kami memulai langkah awal dengan sounding dan membiasakan anak untuk ikut shalat berjamaah di rumah. Bisa ikut uminya ketika shalat wajib atau ikut ayahnya ketika shalat sunah di rumah. Dengan demikian harapan kami anak setidaknya paham bahwa ada waktu-waktu di mana mereka harus tertib, tidak mengganggu kegiatan ibadah (shalat).

Setelah tahap ini dilalui oleh Kemi, tahap selanjutnya adalah kami mulai membawanya untuk ikut shalat berjamaah di masjid. Salah satu tanda bahwa Kemi sudah mulai bisa dibawa ke masjid adalah ketika dia meminta untuk ikut ayahnya shalat di masjid. Ketika itu kami juga mengajukan beberapa pertanyaan seputar kegiatan apa yang dilakukan di masjid waktu itu, dan apa aja yang harus dilakukan Kemi. Ketika jawabannya sudah pas menurut kami berarti itu tanda dia sudah siap untuk dibawa.

Pada awalnya kami menyepakati bahwa Kemimulai dibawa ke masjid ketika jam-jam shalat yang pendek seperti subuh dan maghrib. Karena rakaat yang pendek tidak akan membuat jenuh atau bosan anak usia seperti Kemi. Alhamdulillah dengan kesepakatan yang telah disepakati antara dua pihak (orang tua dan Kemi) kegiatan membawa Kemi shalat berjamaah di rakaat-rakaat pendek berjalan lancar.

Hari ini, ketika ayah hendak berangkat ke masjid menunaikan shalat zuhur, tiba-tiba Kemi merengek ingin ikut. Hmmm kami piker tidak ada salahnya mulai membawanya di rakaat yang agak panjang karena usianya juga sudah 2,5 tahun dan sudah dilatih untuk rakaat pendek. Dari hasil evaluasi juga Kemi menunjukkan ketika di masjid dia sudah tahu adabnya. Akhirnya dengan mengulang kesepakatan, Kemipun ikut ayahnya.

Aku yang menunggu di rumah agak deg-deg an karena memang ini pertama kalinya Kemi ikut ayahnya ke masjid dengan rakaat yang panjang. Setelah sampai rumah, Kemi membawakanku ‘oleh-oleh’ berupa ilalang yang ada d halaman masjid ^_^” kemudian dia bercerita ngapain aja di masjid. Walaupun Kemi tidak beres mengikuti shalat zuhurnya, dia tetap menjaga adabnya di masjid dengan duduk saja di samping ayahnya. Padahal di saat itu ada beberapa anak seusianya yang juga sedang lari-larian.

Mungkin ada sebagian orang tua yang tidak mempermasalahkan bagaimana tingkah polah anak-anak di masjid. Kamipun sebenarnya juga tidak. Tetapi kembali lagi bahwa di masjid banyak ragam dan pola piker sehingga tingkah pola anak juga dapat mengganggu orang lain yang memang butuh kekhusyukan di masjid. Kami hanya mengantisipasi, karena bisa jadi ketika orang lain terganggu dengan aktivitas anak, maka anak akan dimarah, di nasehati, dll. Sehingga bisa jadi di kemudian hari anak akan merasa tidak nyaman untuk kembali lagi ke masjid… J

IMG_20160604_154427

Jujur… :)

Bismillah… November 2017

Malam ini ketika kami sedang family time tiba-tiba Alfath menangis dengan kencang. Ternyata penyebabnya adalah ‘keisengan’ abangnya Kemi. Kami tidak serta merta langsung menjudge Kemi, tetapi kami mencoba untuk berkomunikasi terlebih dahulu, agar Kemi sendiri yang mengeluarkan dan menjelaskan apa yang telah dilakukannya terhadap Alfath.

Pada awalnya ayahnya yang bertanya tetapi Kemi tidak menjawab permasalahan yang ditanyakan, malah ngomong ngalur ngidul mengalihkan topik pembicaraan. Kemudian aku mencoba mendekati Kemi, memeluknya dan mengusap-ngusap kepalanya. Beberapa saat kemudian baru aku memulai obrolan mengenai peristiwa yang terjadi.

Pada awalnya Kemi diam saja tetapi kemudian mulai membuka mulutnya, dan dia mengakui apa yang dilakukannya. “Kemi gigit Alfathnya” begitu ucapnya sambil memelukku. Setelah dia mengucapkan pengakuan itu, dia langsung menangis. Kemungkinan itu adalah refleksi dari rasa bersalah yang muncul atas apa yang dilakukannya kepada adiknya atau mungkin saja rasa takut dimarahi oleh kami orang tuanya.

Mendengar pengakuannya itu, memang awalnya aku akan marah karena ini bukan kali pertama Kemi menggigit adiknya sampai berbekas, tetapi sebelum aku membuka mulut ayah mengingatkanku bahwa Kemi sudah jujur. Huff aku pun menarik nafas panjang dan menghembuskan dan tersenyum kepada sulungku. Aku kembali  memeluknya dan mencoba mengajak berkomunikasi dua arah tentang perilaku yang dilakukannya.

Arah topik kami adalah bahwa apa yang dilakukannya adalah tidak baik dan menyakiti bahkan orang-orang tidak akan suka sebagaimana Kemi tidak suka jika digigit.

Alhamdulillah… setelah ngobrol dua arah dengan Kemi, dia menghampiri adiknya yang sedang digendong ayah dan memegang tangan adiknya seraya dicium dan mengucapkan ‘maaf ya dek maaf’.

Hmmm semoga ini adalah kali terakhir Kemi menggigit adiknya -_-‘

Terkadang rasa takut bisa membuat seorang anak untuk tidak mengutarakan apa yang sedang dialaminya, bahkan cenderung ditutup-tutupi. Kita sebagai orang tua hendaknya berusaha untuk mengambil sikap sebijak mungkin. Tidak perlu kita langsung ke pokok permasalahan yang ingin kita bahas. Kita bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati dengan komunikasi non verbal terlebih dahulu agar anak merasa nyaman dana man. Ketika anak merasa aman dan nyaman maka dengan sendirinya anak akan terbuka dengan kita J

Gara-gara Buku… :)

Bismillah… November 2017

Hari ini ayah mengajak kami pergi keluar untuk belanja keperluan ayah, di mana sebelumnya kami sounding Kemi bahwa ga ada jajan di saat berada di toko. Kami pun berkeliling mencari barang yang dibutuhkan oleh ayah. Ketika kami sedang berkeliling tiba-tiba kami melihat ada pojokan yang sedang ‘bazar’ buku. Wah tumben sekali karena selama di kota ini bahkan ketika kami dengan sengaja mencari toko buku ternyata toko buku yang sedang dicari sudah tutup karena pailit.

Hmmm kami pun sepakat untuk membawa Kemi ke pojokan itu dan mempersilakannya untuk memilih buku dan akan di seleksi oleh umi ayah atas buku yang dipilihnya. Kemi pun senang karena memang kami pernah berjanji untuk mengajaknya ke toko buku tetapi ternyata di kota ini susah sekali menemukan toko buku yang menyediakan buku anak.

Hampir sejam Kemi bernegosiasi dengan ayah untuk memilih buku yang diinginkan -_-‘

Pada awalnya Kemi ingin salah satu buku yang merupakan buku stiker tetapi konten stikernya kami rasa kurang baik buat Kemi makanya kami tidak meng acc. Tetapi Kemi kekeh pengen buku itu. Ayah mencarikan buku alternative seperti buku tentang bumi, hiu, dan dinosaurus. Kemi disuruh untuk memilih apa yang diinginkan dari ketiga buku itu.

Agak alot negosiasi kali ini , karena kalo sudah menyangkut buku Kemi suka kekeh atas pilihannya. Akhirnya tidak ada jalan lain, ayah mengeluarkan jurus ceritanya. Ayah bercerita mengenai hiu, dinosaurus dan bumi sambil memperlihatkan isi dari buku-buku yang ditawarkan…

Huff, perundingan pun berakhir dengan hasil abang Kemi memilih buku tentang dinosaurus. Sepanjang perjalanan sampai ke kasir buku yang dipilih ga dilepas-lepas dari pelukannya bang Kemi. Bahkan sampai di meja kasir kami harus ngebujuknya kembali untuk membayarnya terlebih dahulu baru bisa dibawa pulang… J