Kreasi Sedotan

Bismillah…

Kali ini bang Kemi bermain dan belajar menggunakan sedotan yang telah Umi otak atik menjadi bagian-bagian kecil berwarna. Tujuan dari bermain kali ini adalah melatih motorik halus, belajar mengenal warna, mengklasifiksikan/mengelompokkannya, dan menghitung serta mengenal abjad.

Bahan yang digunakan kali ini adalah sedotan, isolasi warna (merah, kuning dan hijau), lidi, dan storeofoam. Sedotan dililit dengan warna yang diinginkan, kemudian dipotong menjadi 4 bagian sama panjang. Setelah itu dibidang storeofoam ditusukkan lidi sejumlah warna yang digunakan dan didepan lidi masing-masing diberi label sesuai warna yang akan dipakai.

Aturan mainnya, bang Kemi diminta memasukkan sedotan warna sesuai dengan label pada masing-masing lidi sampai di ujung lidi. Setelah ketiga lidi penuh dengan masing-masing warna, bang Kemi diminta menghitung tiap warna yang ada di lidi, kemudian diminta pendpatanya apakah masing-masing lidi tersebut sama jumlah sedotannya atau berbeda.

Alhamdulillah ternyata bang Kemi suka dengan mainan belajar yang Umi bikin hari ini. Beberapa kali dia mencabut dan memasukkan kembali sedotan warna serta menghitung ulang jumlah sedotan warna tersebut. Hasil akhir diperoleh bahwa tiap lidi memerlukan 7 sedotan warna untuk bisa memenuhi lidi yang tertancap, dan itu sama untuk ketiga lidi.

Soleh dan cinta ilmu selalu anak-anak Umi 🙂

Iklan

Stiker…

CYMERA_20180329_152423Bismillah…

Masih dengan cerita mengenai stiker. Jika sebelumnya membahas mengenai gender, bang Kemi dapat membedakan perempuan dan laki-laki, sekarang berhubungan dengan hitung menghitung atau membilang.

Dari awal sudah dikasi rule bahwa bang Kemi boleh menempelkan stikernya setiap malam hanya 2 stiker saja, selebihnya disimpan lagi untuk keesokan harinya. Malam ini, bang Kemi mengambil jatahnya, dan tanpa diinstruksikan, dia mengambil dan memilih stiker yang akan ditempelkannya tepat sebanyak 2 buah.

Ketika stiker yang dipilih sudah ditangan, aku bertanya pada bang Kemi berapa jumlah stiker yang diambilnya tersebut. Tanpa menghitung dengan mengeraskan suaranya, dia menjawab spontan, “dua mi, kan abang boleh nempel 2 stiker kalo malam”.

Alhamdulillah… untuk bilangan kecil 1,2,3 tanpa menghitung dengan mengeraskan suara ternyata bang Kemi sudah paham membilang dengan bilangan tersebut 🙂

Soleh dan cinta ilmu selalu ya anak-anak Umi 🙂

 

Mengenal Gender

Bismillah…

Menurut teori FBE, ada 8 jenis fitrah pada anak yang harus dioptimalkan dalam membimbingnya salah satunya adalah fitrah seksualitas. Sejak dini seyogianya anak-anak sudah dikenalkan dan sudah memahami perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya agar kelak ketika mereka sudah tumbuh dan berkembang menjadi sosok pribadi yang lebih matang (dewasa), mereka berjalan sesuai fitrah pada diri mereka. Seorang laki-laki paham betul mengenai siapa mereka, begitu juga seorang wanita juga akan paham bahwa dia adalah seorang wanita dan tau tugas, tanggungjawab serta kewajiban yang melekat pada diri mereka, selain itu hal terpenting adalah mereka paham dan berjalan sesuai kodratnya siapa yang akan menjadi pasangan mereka dan bagaimana menyalurkan hasrat serta kebutuhan seksual mereka kelak.

Malam ini merupakan tertangkapnya kembali moment “AHA” buat pembelajaran bang Kemi, dan ini juga bisa dihubungkan dengan matematika sesuai dengan game level 6 pada kelas bunda sayang, yaitu mengenai gender, anak mengenal laki-laki dan perempuan.

Bang Kemi dibelikan oleh tante Evi stiker karakter buat ditempel-tempel karena memang hobi bang Kemi adalah tempel-menempel. Nah, ketika hendak mengambil karakter pada stiker, kubiarkan saja bang Kemi mengambil acak, dan ternyata dia mengambil dua stiker yang berbeda karakter secara gender (dari awal instruksinya buat bang Kemi memang dijatahi 2 stiker saja setiap malam buat menempel). Tanpa disangka bang Kemi mengambil 2 stiker yang dipilihnya dan memberikan salah satunya buatku sambil berkata “ini buat Umi, yang warna pink karena umi kan perempuan, kalo abang yang ini aja, kan abang laki-laki kan Mi”. Wah alhamdulillah, secara teori bang Kemi sudah bisa membedakan mana laki-laki dan perempuan. Ketika ada moment seperti ini aku langsung membuat topik mengenai gender ini agar bang Kemi lebih memahami.

Aku mulai mengajak bang Kemi berdiskusi ringan mengenai perbedaan secara fisik/yang terlihat antara Umi dan bang Kemi, kemudian aku meminta menyebutkan gender ayah, dede Alfath, nenek, tante Evi, dan lain-lain, tergolong laki-laki atau perempuan, dan terakhir ditutup dengan betapa Maha Besarnya Allah yang telah menciptakan Umi dan Ayah berpasang-pasangan. Alhamdulillah sampai sini bang Kemi sudah mengenal, insyaAllah ke depannya akan lebih menjurus untuk pemahamannya 🙂

Sepotong Kue

Bismillah…

Matematika ada di sekitar kita. Kalimat ini benar adanya, mulai dari hal remeh temeh seperti berjalan bahkan yang detail seperti membangun menara. Malam ini salah satu moment ‘AHA’ mengenai matematika kudapat kembali dari bang Kemi. Ketika itu bang Kemi sedang makan kue yang memang sudah kupotong-potong menjadi bagian kecil agar bisa langsung dimasukkannya ke mulut untuk di makan.

Tiba-tiba aku harus kembali ke kamar karena dede Alfath menangis terbangun dari tidurnya. Aku bergegas buat menghampiri dede Alfath dan kutinggalkan sejenak bang Kemi dengan kuenya. kKetika aku kembali ke dapur untuk menemani bang Kemi, terlihat olehku kue yang gede yang memang belum sempat kupotong sudah calar malar. Dengan sedikit kaget akupun bertanya pada bang Kemi.

Umi: Bang, kok kuenya jadi seperti ini?                                                                                             Kemi: Iy, abang yang buat                                                                                                                    Umi: Lho, kenapa?                                                                                                                                  Kemi: Abang t maok potong-potongnya bah Mi                                                                               Umi: Oh gitu, kenapa emang kok mau dipotong?                                                                           Kemi: iya, kan kuenya gede, abang mau potong jadi kecil-kecil karena mulut abang kan kecil                                                                                                                                                            Umi: Oh gitu. Jadi kesimpulannya, kue yang belom dipotong ukurannya gede, mulut abang kecil. Gitu y?                                                                                                                                Kemi: Iya Mi

Alhamdulillah… hingga saat ini bang Kemi sudah memahami konsep besar kecil. Soleh selalu anak-anak Umi dan terus cinta ilmu y 🙂

 

 

Bermain Bersama Hujan

Bismillah…

Tantangan kuliah Bunsay level 6 membahas mengenai Matematika, khususnya matematika di sekitar kita. Untuk tema Matematika ini sebenarnya buat Kemi sudah pernah dilakukan pemberian stimulus secara intens beberapa waktu lalu, khusus mengenai matematikaSehingga untuk saat ini saya tidak terlalu berfokus memberikan stimulus khusus mengenai matematika.

Untuk menyelesaikan tantangan ini saya hanya akan ‘memantik”sedikit segala peristiwa yang dialami oleh bang Kemi kemudian memasukkan unsur matematikanya, walaupun memang sebagian besar kegiatan yang dilakukan bang Kemi pasti ada matematikanya, heee

Seperti saat ini ketika hujan turun cukup deras dan membuat halaman rumah sedikit tergenang air, lantas dia meminta untuk main air ke tanah. Hmmm aku jadi berpikir untuk sekalian memasukkan pembelajaran buatnya karena prinsipku bermain adalah belajar dan belajar adalah bermain. Aku membuat kapal-kapalan untuk bang Kemi. Ada kapal yang terbuat dari sedotan (rakit sebenarnya mah ini, heheh),  ada yang terbuat dari kertas, dan terakhir kapal yang kubuat dari kertas tetapi bagian bawah dan badannya dilapisi dengan lilin.

Kuminta bang Kemi satu-satu dan perlahan meletakkan kapal-kapal itu ke atas genangan air dan kuminta amati kapal mana yang duluan tenggelam. beberapa saat kemudian ternyata bang Kemi bilang bahwa semuanya tenggelam dan kulihat sekaligus kaget bahwa semua kapalnya tenggelam, tidak sesuai dengan ekspektasiku. Kuamati sejenak dan kuminta bang Kemi menjelaskan kira-kira mengapa kapalnya tenggelam. Akhirnya dengan bahasa anak seusianya bang Kemi bilang bahwa yang dari kertas airnya naik ke atas (maksudnya kertas menyerap air), dan yang terbuat dari sedotan airnya masuk melalui lubang-lubang sedotan (oalaaa aku tidak kepikiran hal itu), hihihi.

Kemudian bang Kemi mengambil balon kecil yang merupakan mainan adiknya. Dia meletakkan balon tersebut di atas genangan air dan terlihat bahwa balon tersebut tidak tenggelam. Wah ternyata gerakan refleks bang Kemi meletakkan balon bisa menjadi bahan buatku mengajarkan tenggelam dan mengapung. Selain itu perbedaan bahan-bahan yang dipakai masuk ke ranah sains dan juga Matematika. Kenapa matematika juga masuk? karena matematika tidak sekedar hitung-menghitung tetapi juga mengetahui perbedaan, salah satunya ya ini, perbedaan tekstur bahan, perbedaan tempat (tenggelam dan mengapung), serta perbedaan massa masing-masing kapal yang dibuat dari bahan yang berbeda heheheh

 

Mengantar Ayah

Bismillah…

26 Maret 2018

“Jangan dekat-dekat, Umi bobo’ dengan dedek aja, abang sendiri aja, jauh-jauh” ujar sulungku sambil terisak membalikkan badannya dan memeluk gulingnya. Prangggg!!! Seakan jantung dan hatiku pecah berkeping-keping mendengar kalimat seperti ini dari mulut kecilnya. Terlintas kembali di benakku peristiwa tadi pagi ketika di bandara…

Jam di dinding menunjukkan tepat pukul 7.30 WIB ketika aku, ayah, Kemi dan Alfath dijemput abangku untuk mengantar ayah ke bandara yang akan berangkat kembali ke Serang Banten. Beberapa hari sebelum ini aku dan ayah anak-anak sudah mensounding bang Kemi bahwa hari ini ayah akan kembali duluan ke Serang untuk menyelesaikan sekolah dan akan kembali menjemput bang Kemi, aku dan dede Alfath beberapa bulan ke depan. Awalnya bang Kemi memang tidak menerima dan selalu berkata bahwa dia ingin ikut naik pesawat bersama ayah, aku dan dede Alfath saat itu juga dan ingin kembali pulang ke rumah. Namun, berulang kali mensounding akhirnya kami menerima jawaban berbeda dari bang Kemi, yaitu persetujuannya. Tetapi, ternyata ketika hari H, semua sounding yang sudah dilakukan gatot alias gagal total.

Tiba saatnya ayah yang sedari awal sudah cek in kemudian keluar kembali, harus benar-benar masuk ke ruang tunggu karena waktu boarding sudah tiba. Di mulai dari pamitan dan salam ke abangku, berlanjut ke Tasya (anaknya abang), hingga ke bang Kemi, yang awalnya masih menerima uluran tangan ayahnya yang ingin pamitan. Mungkin paham akan situasi yang akan terjadi, bang Kemi selalu memegang baju ayahnya sejak ayahnya berpamitan dengannya. Bahkan ketika ayahnya sudah mencapai pintu masuk, bang Kemi tetap memegang baju ayahnya bahkan memeluk kaki ayahnya sembari bilang “ikut ayah, ikut”. Huff, aku sudah menduga hal ini akan terjadi.

“Ayah selesaikan sekolah ayah dulu ya, bang Kemi sama Umi dan dede Alfath di sini tungguin ayah, nanti InsyaAllah akan ayah jemput” ujar suamiku. Alih-alih melepaskan cengkeramannya, yang ada malahan mulai terdengar isakan dan tangisan bang Kemi sembari memeluk lebih erat kaki ayahnya. Kulihat tatapan mata pemimpinku ini dan terlihat nanar di matanya walaupun mulut berucap seolah-olah tampak tegar tetapi kutahu bahwa ini juga berat buatnya. Sosok ayah yang lembut dan dekat dengan keluarga terutama anak-anak membuatnya berat dan mungkin terluka menyaksikan anak sulungnya yang merengek akan kepergiannya.

Kulihat dengan berat hati dia melepaskan cengkeraman bang Kemi yang semakin erat di kakinya dan dengan isyarat kepala dan mata seolah berkata kepadaku “sok Mi, tolong langsung bawa Kemi pergi dari sini”. Kupegang tangan bang Kemi dan kuajak pulang, tetapi teriakan dan tangisnya mulai naik beberapa oktaf dan itu membuatku ikut sedih.

Aku yang sedang menggendong Alfath hanya bisa mencoba menarik bang Kemi ke pangkuanku walau berat karena memang tangan kananku sedang menopang badan adiknya. Abangku yang sedang berada di situ juga mencoba merayu bang Kemi dengan banyak hal, ngajak mandi bola, bermain tempat kaka Tasya, dan sebagainya. Tetapi nihil. Bang Kemi terus saja menangis dan berteriak tidak mau, dia hanya ingin ikut ayahnya. Abangku langsung mengambil tindakan karena memang waktu keberangkatan yang mepet. Bang Kemi langsung diambil dan digendong oleh abangku tetapi bang Kemi semakin meronta-ronta ga karuan. Di saat cengkeraman bang Kemi sudah lepas, ayah langsung melesat masuk ke pintu masuk tanpa menoleh terus saja masuk hingga akhirnya punggung beliau tidak terlihat lagi.

Bang Kemi yang terus saja meronta dan berteriak memanggil ayahnya tidak bisa ditenangkan. Kucoba mengambil alih dengan meminta tolong abangku menggendong Alfath kemudian kugendong bang Kemi karena biasanya disaat bang Kemi menangis digendong uminya adalah salah satu cara ampuh membuatnya tenang. Ups, ternyata kali ini aku salah. Bang Kemi tetap meronta-ronta bahkan mulai memukul-mukul badanku. Aku benar-benar merasa sedih sangat sedih dengan keadaaan bang Kemi saat ini.

Kubiarkan saja dia memukul-mukul badanku untuk melepaskan emosinya yang sedang bergejolak. Kubawa dia masuk ke dalam mobil dan mulai perjalanan pulang ke rumah abangku yang merupakan om Long Kemi. Sepanjang perjalanan bang Kemi masih saja menangis, bahkan beberapa waktu berlalu dia melepaskan tangisannya sambil menempelkan mulutnya di pundakku. Belum pernah kulihat bang Kemi seperti ini. Bahkan ketika tangisnya mulai mereda dan hanya terisak-isak, dia sesekali menyubit punggungku.

Sesampainya di rumah om Long, bang Kemi yang terisak-isak mulai kembali menaikkan volume suaranya dan tidak mau turun dari mobil. Bahkan dia berkata “Umi jauh-jauh, bang Kemi dak mau dekat sama Umi, abang mau sama ayah”. Ya Rabbi… hanya satu kata yang bisa menggambarkan keadaanku saat itu melihat bang Kemi, yaitu ‘sedih’. Om Long sambil menggendong Alfath turun dari mobil diikuti oleh kak Tasya dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku dan Kemi masih ‘bernegosiasi’ di dalam mobil.

Kurangkul dan kugendong bang Kemi walau dia menolakku, kupeluk erat tubuh mungilnya walau dia meronta dan kucium kepalanya. Awalnya memang ada perlawanan dari bang Kemi. Tangan kecilnya tidak bisa digerakkannya untuk memukulku, maka digunakannya kepalanya untuk menubruk badanku. Air mataku tak terbendung lagi, sambil menahan amukannya aku berkata sambil terisak “abang Kemi, maafin Umi dan ayah ya, maafin. Ayah sayang ma bang Kemi, dede Alfath, begitu juga Umi. Umi sayang sama bang Kemi dan dede Alfath. Bang Kemi doa ke Allah biar urusan ayah dilancarkan dan sekolah ayah cepat beres dan kita bisa pulang sama-sama ke rumah bang Kemi”. Kuajak untuk turun dan masuk ke rumah tetapi bang Kemi masih tidak mau.

Akhirnya kak Gia menghampiri sembari membawa lego bang Rafli untuk membujuk bang Kemi. Tetapi, tetap saja bang Kemi tidak mau dan tetap menangis sambil bilang “mau jemput ayah, mau jemput ayah”. Kak Gia kembali lagi ke rumah dan beberapa saat kemudian kembali menghampiri untuk membujuk. Akhirnya bang Kemi mau turun dan masuk ke rumah ketika kak Gia mengajak untuk main monopoli. Sesampainya di dalam rumah ketika kak Gia menunjukkankan permainan monopoli, bang Kemi bertanya “mana Polinya”? Ups, ternyata bang Kemi menduga kak Gia mengajaknya untuk bermain Poli (salah satu tokoh kartun yang ada di TV). Melihat Poli yang dimaksud berbeda, bang Kemi kembali ngambek dan berkata kepada kak Gia bahwa dia ingin main lego aja. Akhirnya bang Kemi bermain lego bersama kak Tasya dan kak Gia. Sedangkan aku yang dicuekinnya, memilih memandikan Alfath dan memberinya makan pagi.

Selang beberapa waktu, ketika siang menjelang dan waktu tidur siang tiba, kuajak bang Kemi ke kamar untuk tidur siang. Kak Gia berangkat sekolah (karena memang saat ini jadwal masuknya siang), kak Tasya juga tidur siang, jadi mau nggak mau Kemi juga masuk kamar untuk tidur. Kukira ‘masalah’ kami sudah selesai dan kembali normal. Tetapi ternyata ketika di kasur dan kudekati, Kemi menolak dan membalikkan badannya seraya berkata “jangan dekat-dekat, Umi bobo’ dengan dedek aja, abang sendiri aja, jauh-jauh”.

Kutata kembali hatiku dan kucoba pahami perasaan sulungku. Kubiarkan untuk beberapa saat apa yang diinginkannya. Aku hanya menatap punggung kecilnya yang kemudian berbalik dan mata kecilnya menatapku. Kutawarkan untuk memegang tanganku dan kuraih tangannya tetapi dia menarik tangannya menjauh dan berkata bahwa dia tidak mau. Huff, kutarik nafasku dan kucoba tersenyum sambil berkata “ya sudah kalo belum mau, kalo bang Kemi mau pegang tangan umi bilang ya, Umi ada di sini”.

Tidak sampai 10 menit aku berkata seperti itu, kulihat dia menjulurkan tangannya walau tidak berkata apapun. Kucoba untuk mendekat dan memegang tangannya. Ternyata dia menerima. Tidak ada penolakan, tidak ada penarikan tangan, dia hanya membiarkan tangan mungilnya kugenggam dalam diam. Alhamdulillah akhirnya bang Kemi tertidur tidak lama kemudian. Kuharap bang Kemi bermimpi indah dan perasaan marahnya sudah meluap ketika bangun serta menyapaku seperti biasa di saat dia membuka matanya….

IMG_20180326_081531

Calon Bayi Juga Butuh Komunikasi

Komunikasi merupakan suatu usaha untuk menyampaikan pikiran, keinginan maupun perasaan terhadap orang lain agar terjadi suatu efek maupun perubahan yang hendak dicapai. Di dalam kehidupan ini setiap orang melakukan yang namanya komunikasi, tidak mungkin tidak terjadi komunikasi apabila masih ada kehidupan di muka bumi ini. Komunikasi terdiri atas 2 macam, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.

Komunikasi verbal merupakan komunikasi yang sehari-hari dan setiap saat kita temui, yaitu berbicara menggunakan suara. Antar satu orang dengan orang yang lain saling mengemukakan apa yang diinginkan melalui obrolan, baik itu obrolan ringan maupun serius. Obrolan antar tetangga, antar suami dan istri, serta antar orang tua dengan anak-anak mereka.

Komunikasi non verbal merupakan komunikasi yang dilakukan melalui bahasa tubuh seperti lambaian tangan, usapan, mimik wajah serta kerlingan mata. Biasanya komunikasi non verbal ini digunakan bersamaan dengan komunikasi verbal di saat-saat tertentu untuk menguatkan apa yang disampaikan, seperti anggukan kepala untuk menguatkan pernyataan ‘iya’, memalingkan muka untuk menguatkan bahwa seseorang tidak suka atau tidak setuju atas sesuatu, dan lain-lain. Komunikasi ini lumrah dilakukan oleh orang-orang di lingkungan kita.

Tetapi bagaimana jika hal tersebut dilakukan terhadap calon bayi yang masih ada di kandungan? Apakah

komunikasi pada debay

efektif dan berpengaruh? Sebagian calon orang tua menganggap sepele dalam urusan membangun komunikasi dengan calon bayi mereka walaupun di era sekarang sudah banyak orang tua yang menyadari pentingnya komunikasi terhadap calon bayi mereka, salah satunya mengikat hubungan antar orang tua dengan anak mereka kelak.

Calon bayi yang berada di rahim seorang ibu seyogianya sudah bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi di luar rahim. Sejak usia kehamilan ibu memasuki usia enam bulan, sel-sel yang sudah membelah mulai berfungsi sedikit demi sedikit. Calon bayi sudah bisa mendengar suara yang berasal dari luar rahim, sel-sel saraf sudah semakin kuat sambung menyambung membentuk suatu sistem informasi yang akan diteruskan ke otak. Sehingga, ketika calon bayi mendengar suara-suara dari luar rahim, maka otaknya sudah mulai bekerja mencerna dan menangkap apa yang disampaikan. Bahkan, ‘transfer’ perasaan juga sudah terjadi di masa ini. Ketika ibu sedang bahagia maka calon bayi juga akan mem

 

berikan responnya begitu juga seb

 

 

aliknya ketika ibu sedang bersedih maka calon bayi juga bisa merasakan apa yang sedang ibu rasakan.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk berk

omunikasi dengan calon bayi, antara lain mengelus-ngelus perut sambil bicara seakan-akan kita bertatap langsung dengan calon bayi, menjaga emosi calon ibu, ‘melaporkan’ aktivitas apa yang sedang kita lakukan, memperdengarkan musik-musik lembut, serta membacakan cerita maupun kisah yang bisa kita ambil dari buku. Beberapa cara tersebut bisa membuat reflex bayi seperti tendangan dan gerakan akan lebih terasa oleh ibu karena itu pertanda bahwa calon bayi sedang merespon apa yang kita lakukan.

Nah, bagaimana? Apakah akan semakin bersemangat untuk mengajak calon bayinya berkomunikasi??? 🙂

 

Pengenalan Emosi

Bismillah… Februari 2018

Hari ini tema pembelajaran dan bermain bang Kemi adalah mengenai emosi. Salah satu tujuan dari pembelajaran ini adalah minimal bang Kemi bisa tahu dan mengenal emosinya sendiri sebelum memahami emosi orang-orang di sekitarnya.

Bang Kemi yang merupakan tipe pembelajar visual hingga saat ini, maka kucoba merancang pembelajaran pengenalan emosi menggunakan gambar-gambar disertai dengan ‘mencontoh’ menggunakan mimik wajah.

Ada enam karakter emosi yang disiapkan buat bang Kemi, yaitu senyum, tertawa, menangis, marah, kaget, dan sedih. Rules gamenya yaitu ; bang Kemi diperkenalkan dengan masing-masing emoticon yang tersedia kemudian umi menyuguhkan gambar kepada bang Kemi 9misalnya gambar anak yang jatuh dari sepeda) kemudian bang Kemi diminta untuk mencari gambar emosi yang tepat untk gambar tersebut.

Setelah beberapa gambar selesai dimainkan, kuminta bang Kemi membuat mimik wajah mengenai emosinya terhadap cerita yang kunarasikan. Ketika dia memberikan mimik wajah senang atau kaget maupun yang lain kuminta dia mengekspresikan dan mencari gambar emoticon serupa. Dan ternyata jika dilihat dari gesturnya, bang Kemi menikmati peran-peran yang dilakukan. Bahkan  terkadang sesekali terlihat ‘kekonyolan’nya dalam menampilkan mimik wajah 🙂

Semoga dengan stimuus ini bang Kemi bisa mengenal sekaligus mengekspresikan emosi yang sedang dialaminya 🙂

Gunting-Menggunting :)

Secara umum ada tiga gaya belajar yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik. Dan hingga saat ini bang Kemi menunjukkan gaya belajar yang lebih dominan ke arah visual.

Sudah berminggu-minggu bahkan mungkin hampir sebulan bang Kemi gemar menggunting, apa saja yang ditemukannya digunting-gunting olehnya. Awalnya aku selalu mengomel dengan ‘hobi’ barunya, karena kebanyakan yang digunting adalah kertas baru terutama hvs warna warni yang memang merupakan salah satu sarana untuk pembelajarannya.

Kemudian, kuevaluasi diri yang seringkali ngomel dengan bang Kemi tatkala dia asik menggunting-gunting, akhirnya kucoba mengarahkan hobinya tersebut menjadi suatu pembelajaran buatnya. Kugabungkan hobi menggunting-guntingnya dengan gaya belajar visualnya untuk mempelajari tentang bentuk. Akhirnya terciptalah pembelajaran mengenal bentuk dengan media yang ‘diciptakan’ bang Kemi sendiri, yaitu melalui gambar/pola bentuk yang telah dibikin diselembar kertas kemudian digunting oleh bang Kemi. Alhamdulillah bang Kemi happy dan pembelajarannya mengenal bentuk (lingkaran, segiempat, segitiga dan segienam) berjalan dengan lancar 🙂

Menenangkan Dedek…

Malam ini aku dibuat surprise kembali oleh bang Kemi. Pasalnya malam ini ketika aku sedang melakukan kegiatanku tiba-tiba adiknya menangis, kaget dari tidur. Tanpa komando, bang Kemi langsung beraksi di depan Alfath.

Dengan gayanya yang khas, bang Kemi langsung loncat-loncat di kasur sambil memanggil-manggil Alfath dan seketika itu juga Alfath terdiam dan mulai tertawa. Mungkin sudah capek melompat-lompat dan teriak, bang Kemi kemudian ikut baringan di dekat dedeknya dan mulai bernyanyi.

Yup, Kemi dengan kemampuan auditorinya bisa memanfaatkannya dengan baik untuk menemani dan menenangkan adiknya yang menangis. Alhamdulillah, aku jadi terbantu dengan adanya bang Kemi dalam menemani adiknya.

Selain itu, aku melihat adanya kecenderungan kinestetik bang Kemi malam ini. Dengan antusias bang Kemi melompat-lompat hingga kecapaian, hahahah 🙂

Senantiasa akur ya anak-anak sholih Umi dan ayah… 🙂