NHW#9 Bunda sebagai Agen Perubahan

Bismillah….

Tak terasa sudah memasuki pekan ke-9 kegiatan matrikulasi#2 IIP. Itu berarti pekan sekarang adalah pekan terahir dari kegiatan ini T_T

Pekan terakhir yang bertema bunda sebagai agen perubahan membuat semangatku untuk terus mengupgrade diri menuju predikat ibu profesional semakin membara, apalagi ditambah alhamdulillah sekarang aku diamanahi janin yang sedang berkembang di rahimku.

Untuk beberapa tahun belakangan yang kutahu dan biasanya kubaca dan kudengar sebagai agent of change adalah mahasiswa. Tetapi sekarang aku setuju dan semakin mantap untuk ambil bagian dalam sebuah “komunitas” yang disebut agent of change. Yup, bunda/ibu/ummi/mamak sebagai agent of change. Mungkin sebutan bunda/ibu/ummi/mamak merupakan sesuatu yang biasa, tetapi perannya sangat krusial. Suatu peradaban dapat dibentuk dimulai dari suatu komunitas yang paling kecil yang disebut dengan keluarga. Bunda sebagai guru pertama dan utama seorang anak bisa menjadi penentu tumbuh kembang anak dikemudian hari.

Bagaimana seorang anak berkembang terutama dari sisi value/moral pertama dan utama ditentukan oleh lingkungan terdekat bernama keluarga. Dan itu dipengaruhi oleh orang tua, khususnya seorang Bunda yang senantiasa waktunya sebagian besar bersama anak-anak di rumah. Anak dan bunda memiliki ikatan emosional dan chemistry yang luar biasa yang susah untuk dijelaskan melalui teori apapun. Maka dari itu, untuk penanaman value/moral yang utama adalah kewajiban bunda di rumah.

Seorang bunda mempunyai peran yang luar biasa, tidak bisa dipandang sebelah mata. Seorang bunda dapat membentuk peradaban di rumahnya yang kemudian disalurkan ke masyarakat.

Sebagai contoh, saya mempunyai ketertarikan dalam hal membuat kerikulum pendidikan anak, khususnya anak usia dini. Banyak isu sosial yang membuat saya untuk terus belajar dalam bidang ini. Antara lain, moral para remaja kita yang terdegradasi, hal itu bisa diliat dari maraknya kejahatan yang pelakunya masih dibawah umur, selain itu banyaknya pelaku pendidikan dan sekolah yang lebih mengedepankan nilai berupa point daripada value/karakter/moral. Untuk itulah ke depannya saya bermimpi mempunyai komunitas dalam mengembangkan pendidikan untuk anak dan keluarga yang berbasis fitrah dan masyarakat, di mana anak dan orangtua juga masyarakat tumbuh bersama sesuai dengan bakat, minat dan potensi masing-msasing dan bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di lingkungan mereka.

cymera_20161218_145610

NHW#8 Misi Hidup dan Produktivitas

Bismillah….

Alhamdulillah tidak terasa sudah memasuki pekan ke-8 matrikulasi IIP#2, itu berarti sisa 1 “pertemuan” lagi maka selesailah kegiatan matrikulasi dan mulai focus untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat ke dalam kehidupan sehari-hari.  Tema pekan ke-8 ini yaitu mengenai misi hidup dan produktivitas. Hmmm, membaca temanya saja sudah kebayang berbagai sebuah peran besar apa yang akan dijalankan dikehidupan ini, selaku kita sebagai individu berperan sebagai khalifah di muka bumi ini.

Salah satu ranah aktivitas yang sampai saat ini dan berharap masih disuka dan bisa saya lakukan untuk ke dapannya adalah kegiatan merancang kurikulum bagi anak. Merancang kurikulum bukan saja merancang kegiatan apa yang akan dilakukan oleh anak, tetapi lebih dari itu. Kurikulum merupakan seperangkat perencanaan yang terdiri atas tujuan, proses kegiatan, media, sarana prasarana, dan juga memperhatikan aspek perkembangan dari anak itu sendiri.

Sejak dulu saya menyukai segala aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan terutama dalam hal “konseptor”. Dengan kegiatan yang saya suka dan bisa tersebut saya ingin menjadi seorang creator di bidang pendidikan, terutama yang berhubungan dengan anak usia dini, karena anak usia dini merupakan anak dengan usia golden age yang membutuhkan keteladanan dan stimulasi yang kuat untuk menunjang tumbuh kembangnya. Selain itu, di usia dinilah kita bisa menanamkan value yang ke depannya akan menghasilkan calon generasi muda perubah peradaban menjadi lebih baik. Yang ingin saya lakukan adalah merancang sedemikan rupa kurikulum yang cocok buat anak agar tumbuh kembangnya optimal dan value yang diharapkan juga muncul maksimal. Selain itu kurikulum yang dirancang juga bisa diterapkan oleh seluruh keluarga di rumah masing-masing. Yang ingin saya miliki adalah sebuah komunitas yang bergerak bersama dan bersinergi dalam “menyebarkan” kurikulum peradaban ini sehingga manfaat yang dirasakan bukan saja oleh keluarga kami tetapi seluruh keluarga di Indonesia bahkan mungkin di dunia

Salah satu hal yang ingin dicapai dalam kurun waktu kehidupan saya (lifetime purpose) adalah menjadi bagian dalam membangun peradaban Islami. Sedangkan untuk jangka pendek kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan) yang ingin saya capai adalah mempunyai sebuah komunitas yang bergerak bersinergi dalam merancang dan menjalankan kurikulum peradaban serta mempunyai tempat bermain anak yang merupakan “markas” dalam membangun peradaban. Sedangkan dalam kurun waktu 1 tahun ini yang ingin saya capai adalah menyelesaikan KM 0 saya, sehingga bisa melanjutkan ke tahap berikutnya untuk mulai focus dalam mencapai visi hidup keluarga kami.

Untuk membangun sebuah peradaban kita tidak bisa berjalan sendirian, tetapi kita harus bersama-sama, bersinergi dan berkumpul dengan orang-orang yang juga mempunyai tujuan yang sama. Apapun yang sudah kita buat dan rencanakan, sebagus apapun itu, tidak akan terwujud apbila kita tidak memulai untuk menjalankan apa yang sudah kita rencanakan itu.

CYMERA_20160828_081855

NHW#7 Tahapan Menuju Bunda Produktif

Bismillah…

Alhamdulillah memasuki pekan ke-7 matrikulasi#2 IIP. Nicehome work tiap pekan merupakan sebuah benang merah yang saling sambung menyambung dalam rangka mencapai sebuah peran ke”saya”an saya sebagai seorang istri, ibu, anak dan anggota masyarakat. Tiap-tiap mengerjakan NHW saya semakin melihat dengan jelas tujuan akhir saya itu apa, apa yang harus saya lakukan, bagaimana step-stepnya…

Tugas kali ini diminta untuk mengerjakan atau lebih tepatnya mengisi ST30 yang ada di www.temubakat.com untuk mengetahui potensi kekuatan dan kelemahan diri. Dari hasil ST30 tertera di situ bahwa kekuatan potensi saya antara lain arranger, commander, designer, educator, journalist, synthesizer dan treasury. Beberapa kekuatan potensi yang tertera cukup signifikan dengan misi dan tujuan hidup saya yg telah saya tuliskan pada NHW sebelum-sebelumnya. Salah 1 visi saya adalah menjadi bagian dalam membangun peradaban, di mana peran saya adalah di bagian pendidikan anak, setelah mengisi ST30 semakin memantapkan saya bahwa bagian saya dalam peran yang akan saya jalani adalah sebagai “pencetus” walaupun tidak menutup kemungkinan juga akan berperan sebagai pelaksana. Dari beberapa tahun silam saya memutuskan untuk membuat suatu “rumah bermain” , sains itu asyik, ayah bunda hebat, di mana untuk mewujudkan hal tersebut saya bertindak sebagai perancang, pengkoordinasi bagi orang-orang yang akan bekerja sama dengan kami dalam hal teknisnya. Kali ini selain melampirkan hasil ST30, kita ditugaskan untuk membuat kuadran aktivitas seperti yang tertera pada tabel di bawah ini.

  SUKA TIDAK SUKA
BISA Merancang kurikulum anak

Membuat media pembelajaran untuk anak

Beres-beres rumah

Berbagi kepada sesama

Manajemen keuangan rumah tangga

Cooking

Menyetrika

Mencuci pakaian

Mengerjakan sesuatu via laptop

TIDAK BISA Melukis

Seni musik

 

Berbicara di depan umum

Hal-hal yang berhubungan dengan IT

screenshot_2016-12-04-14-57-15

NHW#6 Our Time Schedule

Bismillah….

Pekan ke-6 matrikulasi IIP#2… kali ini tema pembelajaran adalah mengenai “Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal”.

Dalam 1 hari, berbagai kegiatan dilakukan, bahkan seringkali waktu 24 jam terasa sangat cepat berlalu dan terkadang ada beberapa kegiatan yang sudah direncanakan tidak terlaksana. Huff, warning untuk mengevaluasi kegiatan harian yang dilakukan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meng-list kegiatan/aktivitas mana yang paling penting dan aktivitas mana yang paling tidak penting. 3 aktivitas yang paling penting saat ini bagiku adalah bermain dan belajar bersama buah hati kami untuk menemukan bakat dan potensinya, mengerjakan urusan domestik rumah tangga, dan menyelesaikan disertasi. Sedangkan 3 aktivitas yang paling tidak penting adalah terus-terusan mengecek hp, menonton, dan tidur.

Setelah menglist kegiatan yang paling penting dan yang paling tidak penting, selanjutnya kita mencoba untuk menganalisis selama ini waktu kita habis untuk kegiatan yang mana. Dari list yang dibuat, 3 kegiatan/aktivitas yang paling menghabiskan waktu selama ini adalah bermain dan belajar bersama buah hati, sering mengecek hp, dan mengerjakan urusan domestik rumah tangga.

Langkah selanjutnya adalah membuat jadwal targetan dan kegiatan harian yang harus dilakukan. Sebelumnya sudah dibuat jadwal harian tetapi ternyata ada yang tidak efektif dikarenakan ada kegiatan yang harus disesuaikan dengan kegiatan anak yang masih dalam proses tumbuh kembang. Sehingga jadwal sekarang yang sudah dibuat dan sebagian besar berjalan rutin disesuaikan dengan aktivitas dan tumbuh kembang anak.

Kegiatan dimulai pukul 01.00 WIB-05.00WIB untuk kegiatan rutin, dan ada 1 jam diantara waktu tersebut dipakai untuk kegiatan dinamis, kemudian berlanjut 05.00-20.00WIB untuk kegiatan dinamis. Ketika anak sudah tidur walau belum menunjukkan pukul 20.00 WIB, langsung melakukan kegiatan evaluasi harian dan menglist kegiatan yang akan dilakukan untuk besok.

Nah, begitulah time schedule ku saat ini, diusahakan tidak ada waktu kosong yang tidak dimanfaatkan untuk hal2 positif terutama untuk kegiatan dinamis, karena aku harus mengejar dan menyelesaikan KM0 ku agar bisa melangkah dan mulai fokus untuk mempersiapkan diri menjadi fasilitator tangguh buat buah hati kami dan menjadi istri, anak, dan ummi profesional….

Insyallah time schedule akan diupload di sini juga… semoga manfaat…

 

Tiada sesuatu yang diraih dengan susah payah melainkan akan mendapatkan kegembiraan tiada tara diakhir perjalanan ketika sudah mencapai tujuan… J

NHW#5 Learn How To Learn…

Bismillah….

Alhamdulillah sudah sampai minggu ke-5 dari program matrikulasi IIP#2 itu berarti NHW#5 juga harus segera diselesaikan untuk melangkah ke tahap selanjutnya, karena NHW tiap minggu pada program matrikulasi ini ternyata saling berhubungan dan sambung menyambung tiap minggu. Luar biasa sekali, dari awal mengikuti dan mengerjakan NHW sedikit demi sedikit terlihat arah dan tujuan spesifik dari “apa yang akan dikerjakan dalam membangun sebuah perubahan yang menjadi visi keluarga kami”.

NHW#5 ini berhubungan dengan “Learn How To Learn”. Gagne (1984) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Nah, itu berarti yang namanya belajar tidak terbatas ketika di sekolah saja, tetapi di semua area dan sepanjang hayat. Bahkan pepatah Arab juga mengatakan tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang layat. Belajar merupakan suatu proses, itu berarti peristiwa yang senantiasa dilakukan dengan perubahan-perubahan yang bisa kita sesuaikan dengan kondisi, situasi, dan lain-lain, bukan suatu peristiwa yang stagnan.

Untuk membangun sebuah rumah, tentu perlu perencanaan, apa saja yang dibutuhkan agar rumah yang diinginkan sesuai dengaan dana yang tersedia, sesuai dengan kondisi tanah, kuat dan tidak mudah roboh. Begitu juga dengan belajar. Belajar juga memerlukan perencaaan (desain) agar tujuan yang hendak kita capai bisa dicapai, apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, sarana prasarana apa yang menunjang, dan sebagainya.

Desain pembelajaran merupakan suatu proses penyusunan tahap-tahap pembelajaran yang berisi mengenai tujuan dari pembelajaran, sarana prasarana pendukung, waktu yang dibutuhkan juga mengenai metode yang akan digunakan agar transfer pengetahuan berjalan maksimal.

Proses dalam mendesain pembelajaran di keluarga kami, tepatnya bagi diri saya sendiri, menyesuaikan dengan bagaimana kami mendesain pembelajaran buat anak kami, Kemi yang saat ini berusia 18 bulan. Mungkin pada awalnya kami focus pada diri kami sendiri, bagaimana biasanya kami belajar, tetapi ternyata kurang efektif, terutama bagi saya yang akan focus ketika di waktu tengah malam atau subuh dalam keadaan hening. Ketika punya anak kebiasaan untuk focus di saat-saat seperti itu sangat langka. Karena ketika waktunya malam anak sudah istirahat, saya sendiri sudah lelah dan malahan tidak bisa focus, begitu juga ketika subuh, pekerjaan rumah tangga sudah menanti untuk disapa -_-“

Akhirnya, kami menemukan pola dengan mendesain pembelajaran dengan mengikuti pola/alur dari anak kami. Ada saatnya Kemi bermain dan di waktu yang lain Kemi juga belajar (dengan syarat tetap dalam kapasitas bermain). Selain itu kami juga bisa memulai focus dan benar-benar focus mencari pengetahuan yang kami butuhkan ketika di jam istirahat siang anak kami, karena hingga saat ini Alhamdulillah bisa dikondisikan.

Dalam proses mencari desain pembelajaran terbaik (-saat ini_, saya mencoba menerapkan teori belajar perilakuSkinner, Operant Conditioning. Pada teori ini subjek (Kemi) kami tempatkan pada situasi terkontrol dan kami amati perubahan-perubahan dalam perilaku dan tindakan yang dihasilkan oleh Kemi, setelah itu saya coba beri perlakuan perlahan-lahan, dan terus mencatat (observasi) terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sampai akhirnya menemukan pola.

Dalam menerapkan stimulus dan tindakan, saya memperlakukan adanya Reinforser untuk Kemi, karena memang usianya masih 18 bulan. Reinforser atau penguat yang saya berikan pun masih reinforser sekunder, yaitu reinforser social (seperti pujian,senyuman atau perhatian), dan reinforser aktivitas (seperti pemberian buku, permainan, atau kegiatan-kegiatan yang menyenangkan).

IMG_20160822_152859_HDR

NHW#4 Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Bismillah….

Tugas NHW#4 ini sungguh luar biasa karena menuntun kita untuk mulai memplot kegiatan kita dalam mencapai tujuan visi misi hidup dengan targetan waktu. Hingga detik ini Alhamdulillah saya tetap ingin berada di ‘jalur’ ini, tetap focus untuk mendalami ilmu yang berhubungan dengan parenting. Selain itu juga mungkin sebagai tambahannya saya ingin menambah mengenai pendidikan luar sekolah karena kedua hal tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain.

Untuk tugas NHW#2 belum konsisten dijalankan untuk keseluruhan. Hingga saat ini baru sebagian besar saja yang sudah dijalankan dengan konsisten.

Insyaallah saya sudah mempunyai gambaran maksud Allah menciptakan kita khususnya saya di muka bumi ini khususnya di tengah orang-orang disekeliling saya.

  • Misi hidup: mengambil peran dalam membangun peradaban melalui pendidikan non formal
  • Bidang : pendidikan anak
  • Peran: penggagas sekaligus pelaksanan

Untuk bisa menjadi ahli di bidang tersebut ilmu-ilmu yang harus saya selesaikan dan kuasai antara lain:

  • Formal study
  • Pendidikan luar sekolah
  • Psikologi anak
  • Fitrah based education
  • Public speaking
  • Manajemen

Setelah saya memilih ilmu apa saja yang akan menunjang visi misi hidup saya, selanjutnya saya harus menetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan saya dalam menjalankan misi yang sudah saya tetapkan.

  • KM 0 – KM 2 (tahun 1 dan 2) : menyelesaikan formal study
  • KM 2 – KM 3 (tahun 3) : menguasai dan memahami pendidikan luar sekolah dan psikologi anak
  • KM 3 – KM 4 (tahun 4) : menguasai dan memahami fitrah based education
  • KM 4 – KM 5 (tahun 5) : menguasai public speaking
  • KM 5 – KM 6 (tahun 6) : menguasai manajemen

Untuk NHW#2 yang telah di buat dan di share sudah ada beberapa yang dimasukkan untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Karena yang saya share dan buat per bulan, maka untuk yang lain belum dimasukkan di NHW#2 .

CYMERA_20160828_081603

NHW#3.. Membangun Peradaban dari Rumah

Bismillah….

Pertama kali ketika aku membaca NHW#3 langsung surprise, kaget, dan sejenisnya. Bagaimana tidak, aku yang merupakan sosok tidak romantis (malahan sangat jauh dari kata romantis) mendapatkan tugas untuk menulis surat cinta buat suami. Kebayang sudah hambatan dan rintangan di depanku (hehe agak lebay) dan merasa harap-harap cemas apakah aku bisa menyelesaikan tugas minggu ini.

Hampir seminggu setelah tugas diberikan baru aku bisa membuat dan menyuguhkan surat cinta kepada suamiku. Agak deg-degan aku menunggu komentar yang akan beliau sampaikan. Huff…waktu terasa berjalan begitu lamban menunggu respon beliau..tik..tok..tik..tok..

“Mi, wooow ayah terharu rasanya pengen nangis setelah membaca ini” begitu respon awal beliau sambil ekspresi seakan tidak percaya terhadap apa yang kutulis. Kemudian beliau langsung memberikan pelukan dan ciuman sayang kepadaku (uhuiii aku menjadi salah tingkah). Untung saja pelukan dan ciuman sayangnya berlanjut ke mujahid kecil kami yang juga ada di dekat kami karena si mujahid kecil kami juga ngoceh-ngoceh minta diperhatiin oleh ayahnya (heheh seharusnya menjadi private acara bagi kami berdua tetapi keadaan belum memungkinkan,heee).

Mujahid kecil kami bernama Kemi, usianya sekarang menginjak 18 bulan lebih 8 hari. Alhamdulillah di usianya sekarang Kemi tidak alergi terhadap buku. Sepanjang waktu dalam satu hari sebagian besar waktunya jika berada di rumah dihabiskan untuk “menganalisis” buku (tepatnya bertanya-tanya terhadap gambar-gambar yang ada di buku dan minta dibacakan oleh ayah atau uminya). Untuk usiany yang sekarang mungkin potensi yang muncul dari dirinya belum terlalu menonjol. Tapi sejauh ini dari pengamatan dan kegiatan sehari-hari kami bersama Kemibeberapa potensi yang muncul darinya adalah sifat empatinya yang semakin besar terutama terhadap umi dan ayahnya, fokus terutama jika sedang melihat-lihat buku kesukaannya, suka menghibur (jika ini bisa dibilang sebagai sebuah potensi,heee), suka menulis (tepatnya corat-coret gambar ‘abstrak’ di buku tulis yang memang kami sediakan khusus untuknya, heee), pandai membuat nada-nada/irama (bahkan memanggil ayah atau uminya saja terkadang bernada-nada walau bukan bermaksud memanggil kami, hanya iseng untuk melantunkan nada-nada yang ada dipikirannya -_-).

Ok, itu baru Kemi yang berusia 18 bulan yang belum terlalu terlihat potensinya apa,heee. Sedangkan aku, yang sudah hampir kepala 3 ini selain berpotensi sebagai seorang wanita yang ‘cerewet’, aku memiliki beberapa potensi unggulan yang lain, yaitu sebagai konseptor/perancang, penganalisis, pemasak yang suka coba-coba, pembaca cepat, dan lain-lain. Aku bersyukur berada di antara suami dan anakku saat ini. Aku yang berpotensi menjadi seorang koki bersyukur memiliki suami dan anak yang suka makan segala yang bisa dimakan tanpa memilih-milih dan selalu bilang apa yang kubuat enak (walau pada kenyataannya tidak selalu memanjakan lidah). Aku yang suka tiba-tiba merancang dan mencetuskan sesuatu, bersyukur memiliki suami yang senantiasa mendukung dan menjadi penyemangat untukku mewujudkan apa yang kurancang (bahkan terkadang suami menambahkan agar apa yang kurancang menjadi lebih baik). Ah, masih banyak hal yang luar biasa yang Insyaallah suatu saat nanti akan kutulis dengan cukup lengkap dimomen yang berbeda ^_^

Aku, suami dan anakku bersyukur berada dilingkungan kami sekarang. Dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang Insyaallah baik sholih dan amanah. Di lingkungan kami banyak anak-anak yang berusia sekitar 2-5 tahun. Bahkan hampir tiap rumah terdapat anak-anak usia tersebut. Tantangan kami di sini sekaligus peluang adalah ingin menyebarkan virus baca terhadap anak-anak yang ada di sini. Dimulai dari anak kami sendiri, tetangga samping kiri kanan yang langsung dengan kami kemudian menyebar ke rumah-rumah yang lain (InsyaAllah). Bahkan kami punya mimpi bukan hanya tetangga kiri kanan kami yang akan kami sebar virus ini tetapi juga anak-anak yang ada di Taman Belajar Alquran yang ada di lingkungan rumah kami, InsyaAllah…

Semoga Allah memberikan pundak yang tetap tegak kepada kami agar kami bisa menjadi salah satu keluarga yang ikut dalam membangun peradaban…. aamiin … J

img_20160810_112453_hdr

NHW#2 Indikator Profesionalisme Perempuan

Bismillah….

Alhamdulillah memasuki pekan kedua kegiatan matrikulasi#2  IIP… Nicehome work minggu ini sungguh luar biasa, kita diminta untuk membuat daftar cek indicator profesionalisme perempuan sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu. Aku bertanya pada suami apa saja yang diinginkannya terhadapku sebagai seorang istri yang membuatnya bahagia, hmm agak deg-deg an juga menanti jawaban beliau. Jreng jreng… beliau hanya meminta 1 hal kepadaku sebagai seorang istri, yaitu mendengarkan. Yup, mungkin terdengar remeh, hanya mendengarkan. Tapi bagiku itu termasuk sulit karena biasanya aku langsung nyerocos blab la bla… wow agak tertohok juga sebenarnya, tetapi aku berterima kasih kepada suamiku yang sudah berterus terang, dengan demikian aku harus belajar untuk mendengarkan, tidak langsung memotong ketika beliau sedang berbicara. Bukankah kita diberi telinga dengan jumlah 2 sedangkan mulut Cuma 1? Itu berarti kita diminta untuk lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara 😀

Selain itu, suami tidak meminta yang mcam-macam, beliau hanya berpesan jalankan saja semuanya dengan baik sesuai peranku sebagai seorang istri, ga perlu yang ribet-ribet buat indikatornya yang realistis yang bias dijalankan dan tidak ada keterpaksaan… 😀

Untuk peranku sebagai seorang ibumungkin aku menyesuaikan saja dengan kegiatanku selama ini karena anakku baru berusia mau 16 bulan, jadi belum bias ditanya-tanya. Mungkin bias dilihat dari aktivitas bersama yang seriing dilakukan apa yang membuatnya suka dana pa yang membuatnya tidak suka 😀

Ok, semoga apa yang kubuat bias menjadi inspirasi setidaknya manfaat buat sesama perempuan 😀

Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Periode (November – Desmber 2016)

Peran perempuan Indikator Time Limit Ket
Sebagai Individu Menyelesaikan pekerjaan rumah pagi (nyapu, ngepel, masak, mandikan Kemi,bebersih diri) Setiap hari, maksimal 09.00 WIB beres  
  Shalat tepat waktu Setiap hari  
  Shalat dhuha Setiap hari  
  Tahajud Minimal 2x/pekan Ditingkatkan ketika sudah rutin dilakukan
  Tilawah wajib Ba’da subuh dan maghrib Selain waktu2 tersebut bisa dilakukan
  Muraja’ah hapalan baru 1x / pekan  
  Membaca dan belajar dari apapun, siapapun mengenai aktualisasi diri, terutama di bidang parenting atau pengasuhan anak dan remaja Minimal 30 menit/hari  
  Mengerjakan tugas akhir perkuliahan Minimal 1 jam /hari  
  Bimbingan tugas akhir (menghadap dosen pembimbing) 1x/2 pekan  
Sebagai Istri Belajar mendengarkan 1 bulan/30 hari Setelah 30 hari ditargetkan untuk sudah terbiasa untuk selalu mendengarkan pembicaraan orang lain terutama suami sampai tuntas baru kemudian ditanggapi
  Setor hapalan baru 1x/pekan  
  Memasak makanan dan cemilan sehat buat keluarga Minimal 5x/pekan  
  Talking after maghrib (TAM) Setiap hari, selesai maghrib menuju isya  
  Berdiskusi mengenai tugas akhir agar saling bersemangat untuk menyelesaikan studi Minimal 15 menit/hari  
Sebagai Ibu Free gadget Ketika sedang beraktivitas bersama anak  
  Beraktivitas bersama ayah dan ummi Setiap hari, selesai maghrib menuju isya  
  Membuat stimulus berupa kegiatan buat si kecil Minimal 1x/pekan  
  Melengkapi potofolio si kecil Setiap hari  
  Membacakan buku Pagi dan ketika menyusui  
  Merancang dan mengevaluasi kegiatan sepekan Kemi 1x/pekan  
  Melakukan toilet training buat Kemi Januari 2017 Berharap Januari udah lulus tt nya J

IMG_20160614_191724 (1)

NHW#1

Bismillah…

Kali ini saya menulis bukan karena harus menuntaskan “setoran” tantangan menulis kepada suami saya (walaupun sebenarnya sama aja sih bisa juga dijadikan setoran, hihihi), tetapi kali ini saya menulis karena “dipaksa” harus menulis sebab saya sudah terdaftar sebagai peserta didik matrikulasi IIP, sehingga sebagai konsekuensinya saya harus menjalankan kewajiban saya, salah satunya mengerjakan nice homework (NHW) yang pertama…. ^_^

Sejak di sekolah dasar saya sudah bercita-cita menjadi seorang pendidik, sehingga semenjak sekolah dasar pun saya sudah memiliki “siswa” untuk menyalurkan keinginan saya tersebut. Beberapa teman sekolah yang berada di jenjang yang lebih bawah saya rangkul untuk mau menjadi siswa saya (seakan-akan menjadi tutor sebaya), selain itu orang tua juga menyediakan sarana prasarana yang mendukung seperti papan tulis, meja, kursi, dan lain-lain. Pada waktu itu saya merasakan sensasi yang luar biasa ketika bisa berbagi ilmu dengan teman-teman yang ada di lingkungan saya.

Bertahun-tahun berlalu semenjak itu, keinginan saya tetap sama, menjadi seorang pendidik di sekolah, bahkan sampai menginjak masa sekolah menengah. Tetapi ketika di penghujung akhir sekolah menengah atas, keinginan saya berkembang menjadi seorang pendidik di perguruan tinggi (dosen). Untuk menggapai keinginan tersebut saya memasuki jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan ilmu pendidikan. Ketika itu, saya sangat bersemangat apalagi ketika memasuki masa-masa praktek langsung ke sekolah, saya begitu semangat (mungkin karena merasa seolah-olah menjadi guru muda, heee). Waktu terus berlalu sampai akhirnya saya menyelesaikan sarjana dan bekerja di sekolah untuk beberapa saat. Tak lama setelah itu, saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan mengambil jurusan pendidikan walau pada awalnya saya berkeinginan untuk mengambil jurusan psikologi anak. Tetapi di tempat yang saya tuju jurusan tersebut tidak ada makanya mengambil jurusan yang lain yang sejalur dengan sebelumnya.

Bertahun-tahun saya berada di bidang pendidikan ini, berkecimpung di satu sekolah dengan sekolah lain, di satu kampus dengan kampus yang lain, tetapi ternyata ada yang masih mengganjal di hati. Ternyata saya baru menemukan jawaban atas kegelisahan hati saya setelah saya menikah, karena ternyata suami memahami saya mungkin lebih dari saya paham akan diri saya (mungkin sih walau kenyataannya tidak sebegitunya, heeee).

Di masa sekarang bahkan insyaallah di masa yang akan datang saya ternyata berminat bahkan sangat berminat untuk mendalami jurusan mengenai parenting, terutama pada pola asuh untuk anak-anak sampai remaja. Betapa tidak, anak-anak yang merupakan generasi penerus, pembangun peradaban, akan menjadi baik jikalau kita sebagai orang tua mampu menjadi fasilitator yang baik untuk mereka. Untuk menjadi fasilitator yang baik saya membutuhkan patner yang baik pula terutama yang bisa memiliki visi misi yang sejalan dan beriringan.

Di zaman sekarang kita bisa melihat banyak sekali anak-anak di negeri ini yang sudah kelewat batas. Sebut saja seperti tawuran antar kelompok, minum-minuman keras, narkoba bahkan seks bebas. Hal itu bukan lagi sesuatu yang tabu dibicarakan anak-anak di negeri ini bahkan anak di jenjang sekolah dasar. Mungkin yang paling hangat sekarang munculnya selebgram yang menjadi acuan bagi anak-anak remaja di negeri ini, yang ternyata lebih banyak memposting hal-hal yang tidak pantas dan berbau pornografi. Hal tersebut tentu sangat miris dan menjadi momok yang menakutkan bagi kita selaku orang tua.

Saya berpandangan bahwasanya anak yang sudah memasuki usia sekolah menengah akan jauh lebih sulit untuk membentuk karakter yang diharapkan dibandingkan dengan anak-anak yang masih usia emas antara 0-7 tahun. Apalagi menurut saya, sekolah bukan merupakan jaminan untuk menanamkan karakter, adab dan moral pada anak karena seyogianya di rumahlah semua itu bisa kita bentuk. Untuk membentengi sekaligus menjadi “lawan” terhadap hal-hal negative yang berasal dari luar, kita selaku orang tua juga harus mulai mempersenjatai diri kita dengan hal-hal yang dapat membantu anak kita dalam menghadapi ancaman tersebut. Karena segala macam yang ada di luar rumah, kita tidak bisa menghindarinya karena akan selalu ada dan akan terus selalu ada. Yang  bisa kita lakukan adalah menjadi fasilitator anak agar kemudian kelak mereka dapat memilah mana yang baik untuk mereka dan mana yang tidak baik dan harus dihindari. Fasilitator yang baik tidak didapat semudah membalikkan telapak tangan tetapi dengan mencari ilmunya yang tepat. Salah satunya memperdalam mengenai parenting.

Untuk memperdalam ilmu mengenai parenting, terutama dalam hal pola asuh anak dan remaja, beberapa hal yang akan dilakukan adalah belajar. Belajar dari kelompok-kelompok parenting yang memiliki visi dan misi yang sejalan, belajar dari buku dan terutama belajar dari anak. Karena seyogianya anak adalah media belajar yang utama dan valid. Melalui anak, kita bisa mengamati, menganalisis dan memberikan treatment serta mengevaluasi apa saja yang telah kita pelajari. Tidak lupa juga senantiasa belajar dan berdiskusi bersama pasangan yang merupakan partner dalam menjalankan pendidikan yang ada di rumah.

Pekan ini di grup matrikulasi saya mendapatkan ilmu yang luar biasa, yaitu mengenai adab menuntut ilmu. Melalui ilmu yang saya dapat tersebut ada beberapa hal yang harus saya perbaiki dalam proses mencari ilmu yaitu menjadi gelas kosong terhadap siapapun yang menyampaikan ilmu, tidak memotong pembicaraan orang lain ketika sedang menyampaikan sesuatu, tidak asal share tulisan jikalau asal muasal tulisan tersebut tidak jelas serta memperbanyak doa dan istighfar karena sesungguhnya Allah lah Pemilik Ilmu.

Wallahualambisshawwab…

Tentang Dia… (3)

Bismillah….

Februari 6 tahun yang lampau, pertama kali aku bertemu dengan sosok itu. Awal pertemuan aku sudah mengaguminya, menurutku dia sosok yang lembut (mungkin karena aku orang Kalimantan makanya kagum dengan orang Sunda yang kalem dan lembut, cieee haaa), keibuan dan yang paling kuat alasannya adalah karena dia mirip dengan salah satu teman dekatku dulu di kampus sebelumnya.

Seiring berjalannya waktu, di semester pertama kami sekelas, aku menjadi tau bahwa dia berwawasan luas dan enak untuk diajak ngobrol, belum pernah kudapati dia menganggap diri lebih dari siapapun dan selalu berbicara lembut. Bahkan terkadang aku yang merasa canggung jika berbicara dengannya saking aku sadar dirinya bahwa aku berada jauuuh di bawahnya…

Berbulan-bulan kemudian, aku mengetahui bahwa ayahnya merupakan salah satu dekan fakultas yang ada di kampus ini. Woow, semakin takjub aku dibuatnya, bukan karena dia anak dekan, bukan, tetapi walau dia anak dekan tidak pernah terlihat sedikitpun dia menyombongkan diri bahwa ayahnya salah satu orang penting di kampus itu. Buktinya, aku baru tau berbulan-bulan setelah berada di kampus ini. Itupun tau dari teman yang lain yang memang merupakan teman dekatnya.

Bertahun-tahun kemudian, kami dipertemukan kembali di kampus ini walaupun berbeda angkatan. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Dia yang awalnya bekerja di luar rumah sebagai pengajar, melepaskan posisi pengajar dan fokus menjadi istri, ibu dan mahasiswa (walaupun kelihatannya tetap fokusnya lebih k keluarga dibanding studinya). Masyaallah… luar biasa..

Saat ini dia sudah memiliki dua orang anak laki-laki. Beberapa hari yang lalu aku berkunjung ke rumahnya karena memang tempat tinggal kami berdekatan. Ketika hari itu ternyata suaminya memang tidak ada di rumah sejak sehari sebelumnya karena sedang dinas luar ke Palembang. Kurasakan luar biasa… dengan 2 anak yang masih kecil tanpa ditemani suami… wow jika itu terjadi padaku mungkin aku tidak sanggup apalagi harus nyambil studi.

Di tengah himpitan studinya yang berteriak agar segera diselesaikan, dia masih bisa tersenyum dan fokus pada keluarganya terutama anak-anak. Kubayangkan setiap hari jika itu terjadi padaku sendirian seharian dengan dua anak yang masih kecil dan dituntut untuk menyelesaikan studi, kurasa aku tidak sanggup dan akan mengangkat bendera putih, heeee

Semakin kagum aku padanya, di saat dia punya kesempatan untuk bisa berkarir di luar karena pendidikannya yang sudah diperoleh, tetapi dia memilih untuk berkarir di dalam rumah, menjadi istri dan bunda buat anak-anaknya, seraya menjadi seorang anak yang tetap berbakti kepada kedua orang tuanya dengan berusaha terus menyelesaikan studinya sekarang. Aku berdoa semoga dia bisa segera menyelesaikan studinya…

Begitulah, seorang wanita yang memilih berkarir di rumah merupakan sosok luar biasa. Seorang wanita yang memilih berkarir di luar rumah juga sungguh luar biasa. Dan seorang wanita yang memiliki peluang untuk berkarir di luar rumah tapi memilih untuk berkarir di rumah dengan menjadi istri dan madrasah bagi anak-anaknya itu sangat luar biasa dan patut dibanggakan karena tidak semua wanita yang bisa memilih seperti itu disaat dia memiliki peluang…. 🙂

img-20160726-wa0021-1